Anak di Belantara Dunia Orang Dewasa
Dua Puluh menit pertama kunjungan hari ini berlalu, fix supervisi diundur dengan berbagai pertimbangan dan harapan atas kesempatan kedua. Bukan apa-apa, mencicipi proses mungkin bisa memengolah hati, pikir, dan rasa secara harmoni.
Bel berbunyi, beberapa guru berkemas mengisi kelasnya masing-masing memotong cakap yang susah payah disimpul. Akupun mengambil kesibukan lain setelah memastikan diskusi tak menemukan tuan yang tepat. Menyapu ramah sekeliling, ahh betapa pojok baca itu masih begitu antik, tertata rapi berhiaskan bunga plastik, bukunya seakan tak terjangkau oleh tangan, tak terlafas oleh lisan, bahkan tak terlirik oleh tatap.
Kutarik satu buku, Bimbingan dan Konseling terpampang di covernya, membawanya keluar dari zona nyaman. Di bawah pepohonan di serambi kantor menjadi pilihan bersantai larut dalam aksara, sesekali gawai memotret teori yang tak mampu di rekam otak seketika. Sesekali pula melihahat anak-anak saling berlarian mengejar dan menggiring bola di halaman.
Begitu asyik, benar kata pepatah bahwa kita tidak akan kesepian jika kita mencintai bacaan, dimanapun dan kapanpun. Hingga anak-anak datang mendekat satu-dua, ragu-ragu mendekati buku yang ada di depanku.
"Loh, kok nggak masuk kelas?" Sapaku
"Lagi istirahat" kata mereka
"Tapi yang lain lagi belajar" mereka saling pandang menjawab dengan gumam yang tak mampu kuterjemahkan. Aku paham gurunya sedang bermain game di kantor.
"Siapa yang suka baca buku?" Tanyaku mencoba membangun cakap, mereka saling unjuk "aku bu, aku, aku"
Ramai, hingga anak-anak yang lain ikut bercimpung.
"Coba, kalau gitu ini bacanya apa?"
Aku membuka lembar yang baru saja kulintasi pandang untuk mengajak mereke berefleksi secara sederhana. Mereka beradu suara membaca kalimat yang kutunjukan "Perilaku Negatif Peserta Didik" meski dengan tempo yang lambat.
"Tahu peserta didik?" Tanyaku kemudian atas kata yang berkelas ini
"perempuan" sebuah jawaban terceletuk asal, sebagiannya menggeleng. Aku kaget,
"Kalau negatif"?Mereka menggeleng lagi,
"Pernah dengar positif-negatif?" Kataku mencoba memancing pengetahuan mereka yang terpendam, masih kebanyakan gelengan.
"Perilaku?" Masih respon yang sama. Aku menyimpul pertanyaanku sendiri dengan bahasa sederhana, sekongkrit-kongkrit pemahaman mereka yang disambut dengan anggukan dan binar ingin tahu.
Aku menggiring mereka pada poin-poin di kolom judul yang sudah mereka baca. "Nah, siapa yang sering seperti ini? Tanyaku melanjuti ejaan mereka : sering berbuat gaduh, menjaili temannya, berbahasa kasar, manja, dan sebagainya yang bukannya dijawab langsung kebanyak bertanya balik "manja apa bu?, gaduh apa?" Begitu seterusnya. Kita menjadi belajar menyederhanakan defenisi yang dikemudian ditanggapi dengan saling menunjuk-menuduh temannya, hingga saling adu fisik, memukul, menjitak, berkejaran ditiap-tiap poin yang kita coba refleksi.
Meski riweh namun masih terkontrol, tengkar mereka tak kejauhan mungkin karena sudah menjadi mainan. kupahamkan ditiap bentuk perilaku negatif yang mereka baca dan tampilkan, kurelai dan kurangkul ditiap pukulan yang melayang", aku sedang mencoba menginstal referensi-referensi positif kepada mereka meski ala kadarnya.
"Sekarang semua cubit diri sendiri" semua mengikuti
Semua mengangguk, meringgis.
"Artinya, sebelum mencubit, menjitak, memukul, menendang orang lain kita harus mencubit, menjitak, memukul, menendang diri sendiri dulu. Kalau kita tahu sakitnya, jangan diteruskan ke orang lain, apalagi teman-temannya, yah?" sambungku lagi.
Melihat mereka menatapku dengan binar anggukan, hatiku begitu hangat. Anak-anak ini betapa mereka butuh orang dewasa disampingnya, menemani tiap-tiap hal yang mereka hadapi meski sekedar didengarkan karena pada dasarnya prilaku negatif tidak berdiri tunggal, ia memiliki akar tersembunyi yang tidak mampu ditemukan apalagi dicabut anak tanpa orang dewasa di sisinya.
Tiba-tiba diujung kelas gaduh, seorang guru meneriaki anak-anak yang berhamburan di halaman dengan gelegar, semua berlarian masuk ke ruangan, anak-anak yang didepanku juga berlari menuju kelas gaduh itu, menyaksikan sesuatu di balik pintu dan jendela dengan jinjitnya.