Apakah ini akan berakhir?
Pertanyaan yang sama akan terus ditanya berulang-ulang ketika kita mulai merasa lelah. Apa yang kita mulai, pasti ada aja masalah yang timbul. Kadang kalau di tengah-tengah perjalanan yang udah kita mulai lalu timbul perasaan lelah itu, pasti tanpa sadar kita bertanya dalam hati, apakah ini akan berakhir? Tahun 2020 sudah jelas akan berakhir. Begitu juga dengan masa kalender-kalender yang ada di rumah kita pun akan berakhir. Dengan itu, gue harus mencari kalender 2021 yang baru untuk persiapan tahun baru. Mempersiapkan kalender tahun 2021 bisa dikatakan adalah hal yang mudah. Gue bisa langsung beli di toko terdekat atau memesannya melalui pemesanan daring lewat berbagai macam aplikasi yang ada. Harga yang murah juga mempermudah gue atau orang lain untuk memiliki kalender baru. Seandainya untuk mempersiapkan diri terhadap pergantian tahun bisa semudah itu, mungkin jiwa dan raga gue saat ini ngga akan terlalu berat untuk bangun pagi besok. Belakangan ini gue merasa kalau hari hanyalah berganti hari. Ya, memang hari. Mau apa lagi? Tapi hari-hari buat gue hanyalah sekedar hari. Siang bertemu matahari. Malam bertemu bulan, itupun kalau gue sedang beruntung karena awan mendung sedang asik-asiknya berkunjung. Hidup gue terasa ada yang berkurang meskipun rasa gue ngga ada yang hilang, malah bertambah. Kalau di pagi hari gue bisa merasakan kesenangan, di penghujung hari gue bisa merasakan kekosongan. Aneh, sih. Namun, apa yang gue rasakan itu valid. Haha.. gue selalu inget kata-kata salah satu sahabat gue yang selalu mengingatkan gue akan satu hal, "manusia punya perasaan. Apa yang lo rasain memang ada. Lo harus terima perasaan yang lo rasain sekarang karena perasaan lo itu nyata." Perkataan itulah yang sebenernya membuka mata gue secara, apa ya, ekstrim, lah, kalau itu bisa dijadikan sebagai sebuah ungkapan. Fakta bahwa tahun 2020 memang bajingan, benar-benar membuat gue bungkam atas perasaan gue sendiri. Bahkan perasaan gue ke orang lain. Di tahun ini gue banyak belajar caranya untuk menghadapi diri gue sendiri. Karena adanya pandemi, bercengkrama secara langsung dan rutin itu hanyalah mitos belaka. Semua rencana cuma wacana. Semua warga dituntut sama keadaan dimana kita semua harus nurut agar pandemi cepat berakhir. Di luar itu, gue merasa gue jadi gagap akan hal berkomunikasi. Biasanya, untuk berbicara dan menatap mata lawan bicara adalah hal-hal yang mudah buat dilakukan. Semenjak gue berdiam di rumah, seperti ada saraf komunkasi yang error di tubuh gue. Mungkin kalau dibayangkan akan terdengar berlebihan tapi itulah yang bisa gue kasih gambarannya. Selebihnya adalah tubuh saja yang melangkah berjalan dan bergerak melakukan sesuatu seakan-akan jiwa dan raga gue tertinggal di bulan Januari tahun 2020. Mengutarakan perasaan gue terhadap orang lain saat ini bisa dibilang semu. Gue masih belum bisa membedakan perasaan yang sesungguhnya. Perasaan dalam konteks ini bukan hanya cinta tetapi juga dengki, kesal, senang, dan lain-lain. Menuju akhir tahun, gue sering kali menemui beberapa teman gue secara bergantian. Minggu pertama bertemu dengan si A, minggu kedua dengan si B, dan seterusnya. Maklum aja, ya, soalnya gue masih nganggur, hehe. Entah kenapa gue merasa akan lebih masuk akal kalau gue menemui mereka satu persatu. Untuk sekarang ini, menemui mereka semua secara langsung membuat gue harus punya persiapan yang lebih besar, contohnya energi. Tubuh ini semakin lelah dan letih bagaikan tubuh manula kalau-kalau akan bertemu banyak orang. Dengan gue menemui teman-teman gue satu persatu, gue mulai mengumpulkan beberapa pelajaran baru lagi yang membuat gue detik per detik kembali utuh juga dapat mengutarakan perasaan gue terhadap seseorang atau sesuatu. Sebenarnya, untuk menyimpulkan tulisan ini saja, gue masih kebingungan. Banyak poin plus dan minusnya. Gue bisa mengenal diri gue sendiri dengan lebih jauh tapi gue juga tidak bisa menjelaskan kenapa semakin hari, hari-hari gue terasa kosong. Gue juga sebenarnya masih ragu apakah salah satu cara membuat diri ini bangkit adalah quality time dengan teman atau kita cari tau jawabannya sendiri? Kadang sendirian terus juga kurang baik tapi terlalu sering mengikut arahan teman juga tidak terlalu bagus. Ah, entahlah, mungkin tahun 2021 bisa menjelaskannya. Daripada siklus tanya-bertanya tersebut ngga ada habisnya, lebih baik mempersiapkan diri untuk menghadapi pergantian tahun dengan harap diri ini akan lebih tau caranya untuk lebih hidup lagi karena pada dasarnya mempersiapkan diri yang baru itu lebih sulit daripada mempersiapkan kalender yang baru. Ya, ngga?

















