Kenapa hanya “saat ini”?
Seberapa cepat, sih, waktu yang terasa? Jika memang waktu sudah punya durasinya sendiri, kenapa ada waktu-waktu yang terasa cepat ataupun lambat? Bahkan hampir tak terasa cepat dan lambatnya. Tau-tau... berlalu begitu saja. Di beberapa tulisan sebelumnya, gue pernah menjelaskan perasaan gue betapa lambatnya langkah gue di dunia yang cepat ini. Namun, sekarang gue merasa segala hal yang gue lalui begitu cepat. Gue merasa terlalu cepat melangkah dan terlalu cepat menyerah. Kelelahan yang gue rasakan juga cepat timbul. Rasa ingin marah terhadap diri sendiri sudah pasti ada. Tapi, Tuhan seakan-akan mengirim beberapa hal yang membuat gue cukup reda akan amarah gue dengan cepat. Kalau dipikir kembali, marah dengan diri sendiri itu tidak ada gunanya karena sebenarnya hal yang terpenting saat ini, ya, hanyalah "saat ini". Kenapa hanya "saat ini"? Terkadang, gue merasa terlalu larut dengan masalah yang gue buat di masa lalu. Tentu hal ini terjadi dengan sangat sering dan berulang serta berlanjut di keesokan harinya. Alhasil, di saat gue sadar gue sudah terlalu jauh, gue sadar bahwa hal-hal "saat ini" tidak gue nikmati dengan sungguh. Seperti ingin menyebrang namun tidak melihat kanan dan kiri bak memakai kacamata kuda. Gue kurang menyadari hal-hal yang sebenernya bisa gue nikmati lebih. Dari sini terlihat kalau menyesal adalah salah satu dampaknya. Gue menyesal telah melewatkan waktu-waktu untuk mendengar cerita lawan bicara gue dengan lebih bersungguh-sungguh. Terlalu fokus dengan tanggapan lawan bicara gue terhadap diri gue sendiri dibanding dengan lawan bicara gue yang ternyata sedang butuh perhatian lebih. Gue juga menyesal karena terlalu fokus terhadap dampak apa yang disebabkan karakter gue terhadap lawan bicara gue dibanding karakter mereka yang gue masih kurang dalam untuk memahaminya. Akhirnya ketika mereka sudah lelah menjadi lawan bicara gue, yang gue dapatkan hanya keheningan yang gue buat karena terlalu fokus dengan diri sendiri. Kenangan? Tentu banyak yang terlewat. Kejadian ini membuat gue sedikit terpuruk untuk saat ini. Kecepatan untuk mengambil asumsi membuat gue terlalu lambat untuk mengenal karakter seseorang. Kecepatan untuk membuat segala sesuatunya sesuai dengan kemauan gue, memperlambat gue untuk belajar bahwa semuanya itu tidak selalu harus seturut dan sejalan dengan apa yang gue mau. Banyak yang hilang dengan sangat cepat namun yang baru datang sangat sedikit, itupun juga lambat.














