Misoginis, Standar Ganda, Trump, dan Kita
Benarkah kita sudah berada di era yang lebih baik dan lebih ramah kepada perempuan? Jika menengok ke beberapa dekade lalu, jawabannya tentu saja iya. Setidaknya kini perempuan berpendidikan, memimpin, dan berkarir bukan hal yang aneh lagi di mata masyarakat. Tetapi, apakah situasi sekarang sudah bisa dianggap sebagai situasi yang ideal bagi perempuan?
Bahagia memang saat melihat postingan-postingan anak muda yang berisi pentingnya meningkatkan awareness terhadap persamaan hak, pun saat melihat muatan media arus utama yang semakin menyadari bahwa perempuan juga bisa menjadi sama hebatnya – atau lebih hebat – dari pria, buku, film, dan serial televisi yang memiliki tokoh utama perempuan tangguh dan bukan sekadar pemanis mata juga semakin banyak ditemukan. Tetapi, dalam lingkungan kerja, potensi karyawan pria untuk dipromosikan jauh lebih rendah dibandingkan dengan karyawan perempuan masih terjadi, diskriminasi berasas jender belum hilang. Contoh tersebut ada dalam sebuah jurnal ilmiah yang ditulis oleh Lousie North dari Universitas Deakin Australia, ia meneliti tentang dilema jurnalis perempuan dalam praktek jurnalisme yang di dominasi pria. Ia mewawancarai lebih dari 500 jurnalis perempuan dan hampir seluruh responden-responden tersebut yang mengaku sangat diremehkan dan tidak mendapatkan kesempatan kenaikan jabatan meski pengalaman dan kemampuannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Justru banyak jurnalis pria yang meski memiliki pengalaman dan kemampuan yang kurang dari mereka mendapatkan promosi jabatan.
Analisa dari jurnal tersebut menunjukkan bahwa pria tidak ingin ada perempuan dalam Dude’s Club mereka, tidak peduli betapa berkualitasnya perempuan tersebut. Mereka masih memandang perempuan sebagai kaum yang tidak layak untuk berada di posisi yang setara dengan mereka. Jalan yang ditempuh perempuan untuk mendapatkan posisi yang tinggi jauh lebih terjal dibanding pria, mereka dituntut untuk bekerja lebih keras, berhati lebih tabah, dan berkulit lebih tebal. Bagi perempuan, bertahan hidup di lingkungan misoginis memang tidak semudah mereka yang terlahir dengan penis.
Itu baru contoh dari satu sektor, fakta lain yang sama pahitnya bersumber dari kaum muda sendiri. Banyak dari kaum muda yang menyebut mereka yang peduli terhadap kesetaraan hak sebagai Attention-Seeking-Social Justice Warriors (SJW), Feminazi, dan semacamnya. Banyak pula penggemar-penggemar dalam suatu komunitas fanbase tertentu yang mengatakan bahwa diposisikannya perempuan dalam tempat yang tinggi, atau alur ceritanya tidak mengikuti jalan heteronormatif, hanyalah suatu konspirasi Amerika dan tuntutan dunia internasional untuk mencuci otak penonton agar memiliki pandangan yang sama – pandangan kafir menurut mereka. Mereka tidak menyadari bahwa perempuan sama berhaknya dengan laki-laki untuk diposisikan sebagai pahlawan, penyelamat, atau bahkan presiden!
Ini membawa kita ke fakta selanjutnya, pada Kamis, 29 September lalu, salah satu harian di Ibu Kota memuat sebuah artikel opini yang menyebutkan alasan mengapa Donald Trump dapat mengimbangi Hillary Clinton dalam voting suara. Padahal jika dilihat dari segi kualitas, jelas-jelas Trump terlihat bukan seperti manusia yang pantas menjabat sebagai presiden. Baik rekam jejak, pengalaman, ucapan, ataupun tingkah lakunya tidak menunjukkan kriteria seorang pemimpin. Ini membuat saya berpikir, mengapa masih ada orang waras yang mau memimilhnya?
Jawaban dari pertanyaan tersebut saya temukan di situs Tumblr beberapa jam sesudahnya, Michelle Vitalione dalam akun Facebook-nya menulis: Bayangkan jika seorang wanita datang ke debat presiden tanpa persiapan, terus menerus mengusap hidungnya seperti pecandu soda, dan lebih dari 70 kali menginterupsi lawannya. Bayangkan juga bahwa ia memiliki lima anak dari tiga pria yang berbeda, tersangka pelecehan seksual, berkali-kali mengalami kebangkrutan, tidak membayar pajak federeal, dan mendukung krisis perumahan yang membuat ribuan keluarga kehilangan rumah mereka. Tunggu… ia juga belum pernah sekalipun menjabat dalam pemerintahan seumur hidupnya.”
Apa yang ia jabarkan adalah deskripsi diri Trump, ia bukan manusia dengan kualitas diri yang memenuhi standar terendah sekalipun, tetapi toh masih banyak orang yang mendukung Trump. Anda bisa membayangkan sendiri seperti apa publik akan bereaksi jika pelaku tindakan-tindakan diatas adalah perempuan. Sungguh contoh nyata standar ganda dan tindakan misoginis.
Tidak berhenti disitu, menyusul debat kedua dan beredarnya rekaman suara Trump pada 2005 yang membanggakan tindakan pelecehannya terhadap banyak perempuan, pendukung Trump masih saja membelanya. Bahkan beberapa hari yang lalu tagar #RepealThe19th sempat dicuitkan ribuan kali oleh pendukung Trump merespon sebuah polling yang diadakan oleh situs berita FiveThirtyEight yang menunjukkan bahwa Trump akan memenangkan pemilu ini jika hanya pria saja yang memilih. Maksud dari tagar #RepealThe19th adalah merujuk pada amandemen ke 19 yang memberi perempuan hak untuk memilih, pendukung Trump ingin hak tersebut dicabut.
Sangat menyedihkan melihat kenyataan bahwa pria masih memilih untuk buta terhadap kualitas diri Hillary hanya karena jendernya. Mereka justru memilih seseorang yang tampak kebingungan dan tidak tahu apa yang ia lakukan, hanya karena orang tersebut adalah seorang pria.
Masih banyak masyarakat yang belum menganggap perempuan secara serius, mereka diabaikan dan direspon secara sambil-lalu, apapun pencapaian perempuan tidak pernah dirasa cuku, opini pria dianggap lebih berbobot dan berarti. Ungkapan “wanita tidak tahu apa-apa” dan ucapan-ucapan merendahkan lainnya masih sering terdengar. Apakah kita patut berbangga dengan pencapaian para feminis dan pejuang persamaan hak saat ini? Ya tentu saja, progres adalah langkah menuju perubahan. Tetapi jangan terlena; pekerjaan masih banyak dan jalan masih panjang, karena tindakan misoginis masih ada di sekitar kita.
Muji R.









