Uang, Ruang, dan Cara Bertahan [PBM 4 dari 4]
Oleh: Muji Rahayu
Foto: Muji Rahayu
Ilustrasi foto pers mahasiswa yang sudah beralih ke ranah digital.
Berbagai macam gorengan dan martabak mengonggok di piring-piring kaca milik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung di daerah Sukaluyu, Bandung, pada Jumat, 12 Mei lalu. Di sekelilingnya, duduk Adi Marsiela, Ari Ramadhan, Willy Hanafi, beberapa wartawan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung, dan sekumpulan anak muda perwakilan dari Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB). Kedua nama yang disebut terlebih dahulu adalah mantan ketua AJI Bandung dan yang menggantikannya, sementara Willy Hanafi adalah si “tuan rumah”, Direktur LBH Bandung. Berkumpulnya punggawa-punggawa AJI, LBH, FKPMB ini bukan tanpa alasan, mereka tengah mengadakan diskusi dengan isu besar tentang eksistensi pers mahasiswa di Bandung Raya.
“Apakah kalian merasa memiliki jaringan pertemanan di luar lingkaran persma?” Ujar Willy sembari mengunyah sepotong martabak, matanya berkeliling memandang mahasiswa-mahasiswa di depannya. Tanpa menunggu jawaban, Willy melanjutkan paparannya tentang pentingnya memiliki jaringan pertemanan yang luas demi menjaga keberadaan persma.
“Kalau kita memiliki teman, kita akan lebih mudah dalam menghemat budget. Contohnya, kalian tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengundang pembicara dari AJI maupun LBH,” tambahnya.
Penjelasan tersebut adalah responnya dalam menyikapi masalah umum yang selalu persma hadapi di berbagai universitas, yakni masalah finansial. Sesuai hal tersebut, dari persma-persma yang kami wawancarai pada periode April hingga Mei 2017, keuangan adalah problematika serupa yang kadang menjadi penghalang utama hidupnya pers mahasiswa.
Ada berbagai macam upaya yang dilakukan dalam mengatasi hal ini. Genera misalnya, persma asal Faperta Unpad tersebut memilih “bermain aman” dalam mengangkat isu agar dana dari dekanat tidak tersendat. Meski hal tersebut ia akui bukanlah iklim yang baik bagi jalannya kegiatan kejurnalistikan dalam persmanya, Hana mengaku ia tetap ingin persma bisa menjadi inisiator pergerakan mahasiswa. “Persma bisa menjadi media penghubung yang bisa membuat mahasiswa aware terhadap isu kampus,” ujar Hana Mufida, Pemimpin Redaksi Genera.
Lain soal dengan pers Suara Mahasiswa atau SM milik mahasiswa Universitas Islam Bandung, mereka menyiasati keterbatasan dana rektorat dengan menggenjot sektor iklan. Uniknya, iklan-iklan tersebut tidak dimuat di media utama mereka, tetapi di media suplemen bernama Cozy yang mereka isi dengan berita-berita yang relatif lebih ringan dari majalah Suara Mahasiswa.
Lembaga pers mahasiswa yang terbentuk sejak 1991 ini memang memiliki berbagai macam produk jurnalistik sesuai dengan konten yang dibawanya. Sebut saja majalah SM, tabloid SM, Cozy (yang berisi konten santai), Mosas atau mozaik sastra (berisi konten sastra), zine Ruang Tengah, situs berita suaramahasiswa.info, Lawan (hasil diskusi yang ditulis dengan gaya sarkastik dan terkesan “kasar”), buletin SMS (suara mahasiswa selembar) yang mengangkat isu-isu seputar kampus, serta Cinta Kata (zine tulisan tangan yang diterbitkan setelah diskusi).
Meski diklaim bukan sebagai alasan utama, salah satu dasar pertimbangan persma asal Fikom Unpad Djtinangor untuk hijrah ke ranah digital juga adalah masalah finansial. Pasalnya, sejak kepengurusan 2016/2017 resmi bertugas, Djatinangor memutuskan untuk tidak lagi memproduksi majalah cetak.
“Biaya online lebih ringan daripada produksi majalah sekian eksemplar. Selain itu, dengan mengunggah berita di situs daring yang kami miliki, berita akan lebih cepat sampai pada pembaca dan lebih efisien karena tidak terhalang oleng jangka waktu persiapan cetak dan proses pencetakan,” papar Arkani Dieni, Pemimpin Umum Djatinangor.
Meski dana dari kemahasiswaan memang ada, Arkani mengatakan bahwa proses permohonan hingga dana tersebut turun tidaklah sebentar. Belum lagi jumlah yang tidak sesuai dengan permintaan. Jika mahasiswa dipaksa untuk mencari alternatif sumber dana dengan melakukan kegiatan dana usaha atau danus, berburu pengiklan, maupun mencari sponsor, ia takut fokus para pengurus akan terpecah dan kegiatan peliputan menjadi tidak maksimal.
“Yang ada, bukannya kami fokus mencari informasi untuk khalayak, malah kami sibuk mencari uang untuk menerbitkan majalah. Takutnya yang terjadi adalah kopong informasi,” tegas Arkani pada awal Mei lalu yang kami temui di ruang sekretariat Djatinangor.
Permasalahan lain yang menjadi fokus persma-persma adalah perihal regenerasi anggota dan upaya survival. Tidak hanya tentang pengaturan keuangan, peralihan ke ranah digital dan peragaman konten juga agaknya memang sudah merupakan kewajiban yang harus diikuti oleh persma-persma Bandung yang ingin tetap bertahan.
***
Lain persma, lain pula metode perekrutan anggotanya. Demi mendapatkan calon-calon pengurus yang memiliki kemampuan jurnalistik dan komitmen dalam berorganisasi yang tinggi, berbagai pelatihan internal dilakukan sebelum seorang mahasiswa yang mendaftar ke persma dapat mulai berkontribusi.
Isola Pos UPI misalnya, para calon anggota yang telah mendaftar saat rekrutmen terbuka selanjutnya harus mengikuti kegiatan sekolah pers atau Training Pers Jurnalistik Mahasiswa (TPJM) selama dua hingga tiga hari yang berisi pematerian tentang jurnalistik.
“Selanjutnya, para calon anggota diberi pilihan apakah mau lanjut atau tidak. Kalau mau lanjut, harus mengikuti pendidikan lanjutan lagi setiap seminggu sekali atau dua kali. Isinya materi lanjutan setelah TPJM tadi,” jelas Syahid Syawahidul Haq, pemimpin umum Isola Pos.
Tidak berhenti disitu, setelah sekitar satu setengah bulan calon anggota mendapatkan pendidikan di TPJM, mereka diberi tugas untuk membuat sebuah produk jurnalistik. “Mau cetak, televisi, radio, online, atau apapun bentuknya,” papar Syahid. “Setelah itu dipertanggungjawabkan di ‘sidang’ bersama alumni dan pengurus resmi,” tambahnya.
Saat itulah seorang calon anggota akan resmi diterima sebagai pengurus resmi, ia sudah bisa mulai meliput untuk persma tersebut sesuai dengan tugas yang diberikan oleh pemimpin redaksinya.
Persma yang berada di Fikom Unpad, Djatinangor memiliki sistem perekrutan yang sedikit berbeda. Arkani bercerita bahwa tahap pertama ada pra-diklat yang bersifat wajib. Dilanjutkan dengan proses diklat dan tugas diujung diklat untuk membuat sebuah majalah yang berisi karya-karya jurnalistik.
“Setelah lulus diklat, selanjutnya ada plotting penempatan kru di divisi yang ia minati. Ada divisi hubungan masyarakat, penelitian dan pengembangan, pemasaran, dan tentu saja redaksi,” jelas Arkani.
Pelatihan tidak selesai setelah seorang calon kru resmi menjadi kru Djatinangor. Arkani memaparkan bahwa ada pelatihan keredaksian, pemasaran produk, dan pelatihan grafis yang dilakukan beberapa kali dalam satu periode kepengurusan untuk meningkatkan kualitas para kru Djatinangor.
Meski ada beberapa persma yang secara mandiri rutin melakukan pelatihan bagi peningkatan kemampuan anggotanya, Sekjen FKPMB Hasbi Ilman menuturkan bahwa hal serupa belum mampu diterapkan oleh persma-persma baru. Dalam diskusi eksistensi persma bersama AJI Bandung dan LBH Bandung 12 Mei lalu, ia bercerita bahwa banyaknya persma baru dalam satu tahun terakhir membuat beberapa di antaranya masih awam tentang teknis kerja jurnalistik.
Menyadari hal tersebut, AJI Bandung bersama LBH Bandung bersedia memfasilitasi serta membimbing FKPMB dalam peningkatan kapasitas para anggotanya agar eksistensi persma Bandung tidak berakhir hanya sebatas membuat berita yang beredar di kalanagan kampus saja. Dari diskusi yang diadakan hari itu, tercetuslah ide untuk membuat Festival Pers Mahasiswa. Acara tersebut tidak hanya akan berisi pameran karya-karya persma, tetapi juga pelatihan kejurnalistikan, edukasi tentang Hak Atas Keterbukaan Informasi, manajerial daring, literasi media massa dan digital, serta monetiziation of media.
Hal lain yang sangat ditekankan dalam diskusi tersebut adalah tentang apa sesungguhnya yang membedakan pers mahasiswa dengan media-media kampus lainnya. Willy Hanafi berkali-kali menekankan bahwa nilai atau value persma adalah nilai jurnalistiknya. Itulah yang seharusnya menjadi alasan mengapa persma membuat berita, yaitu untuk membuat orang tahu, paham, dan bergerak.
Nilai jurnalistik itu pula yang membuat Arkani optimis bahwa persma masih memiliki peluang untuk terus hidup karena masyarakat masih membutuhkannya.
“Persma bisa dijadikan media alternatif. Ketika kita memposisikan diri kita di masyarakat sebagai sesuatu yang diperlukan, ya kita akan diperlukan,” jelas mahasiswa semester enam ini.











