Untuk suatu alasan tertentu, orang Jawa (terutama Jogja) biasanya sangat fasih dalam menjelaskan keempat arah mata angin,
dimanapun, at any given place, kalau tanya jalan sama warga lokal besar kemungkinan dikasih petunjuknya tidak pakai kiri kanan tapi langsung tembak arah,
“Mbaknya nanti habis prapatan itu di utaranya belok kanan sampai ketemu posyandu lurus terus nanti di barat jalan ada gang kecil dst dst”
Tapi mau seahli apapun membaca arah di Jogja,
begitu masuk Grand Indonesia untuk pertama kali pasti bingung dan ada kemungkinan hilang tersesat dalam koridor-koridor panjang melengkung serta East Mall - West Mall yang susah dibedakan ( ´ ▽ ` )
Anyway, Mimin kembali dengan update ringan tentang ketidakmahiran orang Jogja membedakan East Mall - West Mall-nya Grand Indonesia.
Mas Gama disini mewakili orang Jogja, yang entah karena suatu hal Mimin merasa doi sangat mewakili wujud stereotipikal orang Jogja ( ̄▽ ̄)
Setelah dipikir-pikir sebenarnya skenario ini bisa dibawakan tokoh lain tanpa kehilangan poinnya sih,
Jebe dan Kanisius misalnya ( ´ ▽ ` )
Tapi Gama dan BangKun rasa-rasanya yang chemistrynya paling cocok (´ ∀ ` *)
Ah iya, omong-omong soal BangKun,
Mimin sepertinya tidak akan sempat untuk membahas isu hot terbaru soal dia.
Agak enggan juga karena udah nyerempet politik.
Tapi biar engga ketinggalan momen,
Mimin post ini aja deh ☆ ~('▽^人)
Hai semua, ( ´ ▽ ` )ノ
akhirnya Mimin kembali dengan post baru~
Setelah berjibaku diselingi mager dan procrastination selama dua bulan,
akhirnya post yang ini siap disajikan ke khalayak sesefans PAF sekalian °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°
Mimin udah lama pingin ngeluarin cerita dari jaman Padz sama Patbhe masih satu rumah,
senang sekali bisa menggambarkan duo kakak-beradik ini pas jaman-jamannya mereka masih deket (≧∇≦)/
Ini salah satu post yang udah lama banget Mimin ingin keluarkan,
tapi baru kejadian sekarang.
Idenya udah ada sejak tiga tahun yang lalu,
bahannya udah siap sejak dua tahun yang lalu,
sketchnya udah setengah jadi sejak setahun yang lalu,
dan akhirnya hari ini bisa di post ( ゚▽゚)/
Omong-omong, iya juga ya...
Mimin juga sudah lama engga bikin post yang menyayat hati dan ada plot twistnya :v
So, here it is~
Menurut pengamatan Mimin,
tiap sekolah selalu punya satu-dua kisah yang menguras hati,
Patbhe tidak terkecuali (^v^)
Anak-anak Patbhe (dan kalangan pecinta gunung secara umum) Mimin rasa pasti tahu cerita tentang beberapa anak Patbhe yang meninggal di Merapi waktu naik gunung.
Ada monumennya di Pasar Bubrah, dan sudah beberapa kali direnovasi juga.
Sebagian anak Patbhe mungkin juga tahu kalau kejadian tahun ‘77 tersebut mendorong didirikannya BHA, ekskul pecinta alamnya Patbhe.
Tapi, hal yang tidak banyak diketahui,
ternyata Padz juga punya peran dalam kejadian tersebut.
Atau paling tidak, begitu sesuai kultwitnya salah satu anak Patbhe yang berhasil Mimin gali~
Mimin sendiri sebelum nemu twit ini sudah pernah dengar tentang cerita di balik berdirinya BHA,
tapi dengan adanya twit di atas, Mimin jadi punya kontaks sejarah sebagai bahan untuk bikin cerita ( ´∀`)
There’s actually a lot of things yang bisa dibayangkan dari situ,
selain fakta bahwa Padz cukup kaya untuk bawa kamera ke atas gunung pada tahun 70-an (゚∀゚ )
Kembali ke tahun 1977, saat itu Patbhe masih satu rumah sama Padz (whose at that time lebih kondang dengan sebutan TigaBhe)
Di tahun itu juga, yang namanya pecinta alam belum seperti sekarang yang seakan-akan tiap SMA pasti punya satu o(´∀`*)
Pada saat itu, sekolah yang punya ekskul pecinta alam cuma Padz dengan PHC-nya yang lahir tahun ‘71,
kemudian Teladan punya THA yang lahir tahun ‘72,
dan yang hitungannya paling baru pada saat itu adalah MWHC-nya Namche yang berdiri tahun ‘75.
dan kemudian, PHC mengadakan pendakian ke Gunung Merbabu,
lalu membawa pulang foto-foto yang segera menyebar ke seantero Yos Sudarso 7.
Anak-anak yang masuk sore pun tidak mau ketinggalan dengan rekan-rekan yang masuk pagi,
akhirnya belasan anak Patbhe memutuskan untuk bikin pendakian juga ke Merapi.
Sayangnya pendakian tersebut membawa korban.
Kalau mau tahu bagaimana kisahnya pendakian itu berubah jadi tragedi,
bisa coba baca artikel yang Mimin temukan ini.
Di situ diceritakan semuanya, with excruciating details.
sok atuh langsung klik aja gambarnya untuk gedein
Agar tragedi serupa tidak berulang, Patbhe kemudian secara resmi membuat ekskul pecinta alam.
Jadi harapannya ke depan ada wadah untuk mengajarkan A to Z-nya mendaki gunung dan kegiatan pecinta alam secara umum,
dengan demikian anak-anak yang mau ikut kegiatan akan dapat bekal persiapan yang lebih matang (´∀`)
Dari situlah BHA bermula.
Sampai sekarang pun cerita tentang lahirnya BHA itu masih beredar di kalangan anak-anak Patbhe.
of course with varying level of details o(´∀`*)
Tahun depan BHA ulang tahun ke-40,
kali-kali mau bikin buku peringatan atau apa,
semoga post ini bisa jadi tambahan bahan ∩(´∀`∩)
Mimin sebenarnya sudah sering tergelitik tatkala membaca berita seputar pendidikan,
kemudian menemukan frasa “PTN ber-BH”.
Sensasinya itu geli geli gimana gitu (゜▽゜;)
Tapi yang pada akhirnya membuat mimin memutuskan untuk membahas hal ini di sini adalah saat mimin kemarin menemukan spanduk unik dalam salah satu foto simulasi demonstrasi di tempat Mas Gama.
“Mau copot BH atau mogok kerja”
“Mahasiswa dan tendik menuntut UGM copot BH”
IT WAS GOLD ヽ(>∀<☆)ノ
sungguh suatu ungkapan aspirasi yang lugas, bernas, dan sedikit binal.
Tapi memang, kalau membahas PTN ber-BH ini,
entah kenapa rasanya susah untuk tidak membuat innuendo.
Kelihatannya BH-nya para PTN ini sudah menjadi bahan guyonan di lingkungan akademis dalam beberapa tahun terakhir ini.
Beberapa tahun yang lalu saya pernah mendengar seorang praktisi pendidikan selevel nasional berkata, “Ke depan, hanya PT yang ber-BH-lah yang bisa eksis menyelenggarakan sistem pendidikan tinggi, yang tak ber-BH pasti kedodoran”. Beliau menambahkan, “Lihat, bagaimana kencangnya UI, ITB, dan UPI karena mereka telah ber-BH”. (Sumber)
Kalau mau diturutin,
enggak akan selesai kita membuat remark seputar PTN dan BH-nya
*ehm*
Anyway let’s not take this further.
Mari kita membahas beberapa tokoh baru yang akhirnya muncul di sini \(≧▽≦)/
Dengan ini, sekarang kakak-kakak bro-sis PTN kita sudah ada dua belas makhluk lho,
Kita ketambahan Undip, Unhas, dan ISI ( ´ ▽ ` )
Undip dan ISI adalah inisiatif fans PAF yang tempo dulu sekali sempat setor desain karakter ke Mimin.
Terima kasih untuk fans Unyan dan fans Ceban atas usulan desainnya,
sekarang Undip dan ISI sudah officially debut di PAF o(≧▽≦)o
Udah pada kenal kan sama mereka?
Undip alias Dipo(negoro), PTN yang di Semarang itu tuh.
Mas-mas kesayangan Smansa Semarang (dan Smaga juga sih),
yang belakangan ini sedang sibuk membina rumah barunya di gunung Tembalang.
Kemudian ada juga ISI alias penguasa Sewon,
Institut Seni yang di jalan Parangtritis itu.
Sering kelihatan ngawang-awang, mungkin karena doi sleep deprived atau juga karena... hal lain. (-‿‿-)
He has a rather close history with beberapa karakter PAF yang lain,
mungkin kapan-kapan Mimin akan bahas dia secara spesifik.
Mungkin...
Selain mereka berdua, kali ini yang juga ikut nebeng nampang adalah si Unhas.
Unhas sebenarnya dulu-dulu-duluuu sekali sudah pernah nongol di sini
Suaranya doang sih,
Dia salah satu dari mantan franchise cabangnya UI yang memisahkan diri.
A fiery young man yang hobi bakar-bakar ban,
walaupun kelihatan tough dan macho, di antara mantan-mantannya UI,
sepengetahuan Mimin dia yang paling muda lho ヽ(・∀・)ノ
Anak ragil dalam household-nya Bangkun. (´∀`*)
Oh, dan karena dia muncul di sini, tentu saja dia ber-BH.
FYI aja PTN yang sudah ber-BH baru ada sebelas lho,
semua yang muncul di gambar di atas ditambah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung dan USU (Universitas Sumatera Utara) di Medan.
Come to think of it,
kalau BH adalah indikator kemapanan PTN,
berarti semua PTN ex-Bangkun tergolong mapan dan sejahtera ya ( ´ ▽ ` )
Hai, Mimin kembali setelah sekian lama ( ´ ▽ ` )ノ
Belakangan ini update PAF agak-agak erratic yah (ノ^∇^)
Terima kasih untuk para pembaca yang masih nungguin,
yang sabar aja ya kalian semua, I love you all ʕ •ᴥ•ʔ
Anyway, post kali ini membahas seputar demo besar-besaran di UGM minggu lalu
Tapi bukan isi demonya yang bikin Mimin kepikiran,
Mimin kepikiran di mana kira-kira posisi Mas Gama dalam demo itu (*≧▽≦)
Berhubung personifikasi sekolah supposed to represent the school as a whole,
tanda tanya akan mulai timbul ketika terjadi konflik internal terjadi di suatu institusi.
Dalam kasus ini, penganut mahzab #PyuaGama berpendapat bahwa Mas Gama harusnya berpihak ke #TeamMahasiswa serta ikut demo menuntut segala kekacauan di rumahnya segera dibereskan.
Di sisi lain ada juga mahzab #ShadyGama yang berpendapat bahwa Mas Gama lebih dekat ke #TeamRektorat dan dalam demo kemarin ikut keukeuh mempertahankan pendapat bahwa yang kemarin hanyalah simulasi
Melihat berbagai potensi karakterisasi Mas Gama yang bisa muncul dari demo (atau kalau kalian ikut #TeamRektorat, simulasi) kemarin,
serta demi menjaga keutuhan dan persatuan para fans Mas Gama,
akhirnya Mimin memutuskan untuk mengambil opsi ketiga ( ̄▽ ̄)ノ
Kemarin tanggal 2 Mei Mas Gama bobokan di kamarnya seharian gara-gara sakit ( ゚▽゚)/
Sekarang kita tahu kalau di satu sekolah ada ribut-ribut internal,
more often than not personifikasinya saat itu lagi tiduran gara-gara sakit (゜▽゜;)
Anyway, dua mas-mas yang menemui Mimin di panel terakhir adalah Mas Teknik (yang selama ini baru pernah muncul sekali di ask.fm), dan Mas Dika (yang baru sempat muncul sekali di PAF kemudian engga muncul lagi)
akhirnya mereka berdua bisa debut juga dalam komik berwarna (´∇ノ`*)ノ
Salah satu suka duka suporter DBL itu ya ini,
kaos suporter yang cuma satu dan harus dipake berkali-kali dalam seminggu.
Mending kalau ada jeda antar pertandingan,
Jeda sehari aja, kan kaosnya masih bisa dicuci dengan layak.
Masalahnya, enggak jarang pertandingannya langsung urut-urutan gitu.
Misalnya hari ini yang cowok, besoknya yang cewek langsung tanding.
Kalo udah gitu sih mau gak mau kaos suporter kudu dicuci kilat,
(Atau kalo tahan sama baunya, ya digantung aja gak usah dicuci)
Anyway, DBL tahun ini udah hampir selesai nih!
Masih ada satu post spesial seputar DBL yang bakal diluncurkan,
ditunggu aja ya...
Ngeliatin spanduk-spanduknya Teladan di DBL itu... sesuatu banget.
Terus pas pertama liat iklan Telkomsel School Community, malah kepikiran TSC - Teladan Science Club.
Anyway, buat yang gak familiar, "Fastabiqul Khoirot" itu artinya "Berlomba-lomba menuju kebaikan"
Now you don't have to consult google anymore :P
Udah pada baca majalah Gadis terbaru?
Gadis edisi 07 tahun 2012, baru terbit awal Maret ini...
Disitu ada artikel soal SMA 3 lho.
(Bukan, artikelnya bukan kayak yang kutulis diatas :P)
Omong-omong, artikelnya bisa dibilang cukup akurat.
Sampai ada tahun berdirinya SMA 3 juga, tahun 1918, aslinya sih tahun 1919 tapi mendinglah cuma meleset setahun.
Banyak orang mengira SMA 3 baru berdiri tahun 1942 (Yang sebenernya itu tahun berdirinya Padmanaba)
Anyway, yang jadi masalah disini adalah nama Sri Sultan Hamengkubuwono X yang nyasar ke daftar alumni.
.
Itu salah, banget -___-"
.
Untuk mengklarifikasi,
Sri Sultan HB X itu lulusan Namche, tahun 1965.
Entah dari mana kok bisa-bisanya jadi lulusan TigaBhe. Yang ngarang artikel pasti bukan orang Jogja.
Soalnya tentang Sri Sultan yang merupakan alumni Namche udah semacam well known fact di Jogja.
(Not to mention that Namche sendiri bangga banget pernah jadi sekolahnya Sultan)
Oh, by the way, Sri Sultan HB X itu SMPnya yang SMP 3, mungkin dari situ jadi miss.
Yang bisa dibilang lulusan SMA 3 (walaupun sayang, bukan termasuk Padmanaba) itu Sri Pakualam VIII.
Kalau dihitung-hitung, beliau masuk AMS B sekitar tahun 1926.
Sebelumnya menempuh pendidikan SMP di Christelijke MULO yang sekarang jadi SMA Bosa.
Gak ada hubungan dengan SMA 3 - SMA 6, untuk melengkapi aja...
Sri Pakualam IX itu lulusan Teladan tahun 1959. (Wow, berarti dia KATY '59)
Beliau masuk tahun 1956, waktu Teladan masih SMA IA dan gedungnya masih di Terban.
(Berarti beliau ngerasain pindahan gedung dari Terban ke Pakuncen pas awal tahun ajaran 1957.)
Terus, istrinya itu temen SMA-nya lho. Sama-sama Teladan.
Terakhir, Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Enggak, beliau SMP sama SMAnya gak di Jogja, sayang sekali.
SMA-nya di AMS A di Bandung (Sekarang tempatnya jadi kompleks SMA 3-SMA 5 Bandung)
Gak tau kenapa beliau gak milih AMS A yang di Jogja,
mungkin pingin jalan-jalan
.
Oh iya, survei yang kemarin masih ditunggu lho jawabannya :D