warisan terbaik: sebuah keteladanan
benar ya, warisan terbaik orangtua kepada anak-anaknya adalah keteladanan. gimana tidak, setiap contoh baik orangtua yang mereka ajarkan akan terkenang dalam kenangan anak-anaknya. bahwa keteladanan yang baik adalah warisan yang sangat mahal di era ini.
beberapa waktu lalu, kakak pertama bapak meninggal dunia. bapak tidak banyak bicara, keluhannya jarang sekali ku dengar bahkan saat sakit sekalipun. saat medapat
kabar bahwasanya pak de (kakak pertama bapak) meninggal dunia. pak de meninggal dunia di usia beliau 83 tahun. semoga Allaah mengampuni dosa dan menerima amal baik beliau. aamiin. kami sekeluarga termasuk para menantu bersiap berkemas untuk menuju Lamongan di kediaman pak de.
saat semua berkemas, aku dan bapak sedang berada di ruang tamu. hanya kami berdua yang duduk di sofa ruang tamu.
"sedih ya, pak?" tanyaku kepada bapak dengan suara gemetar takut sekali pertanyaan itu menghujam hati bapak.
"ya sudah takdir, nduk." jawab bapak singkat.
"pasti sedih ya, pak. semua saudara bapak sudah nggak ada. hanya bapak yang tertua sekarang ini."
aku hanya mendengar helaan napas panjang bapak.
"wes takdir, piye maneh. maringene gilirane bapak." (sudah takdir, mau gimana lagi. setelah ini gilirannya bapak).
mataku berkaca-kaca. kalimat bapak menghujam inti jantungku. (jangan dulu pak, bapak harus lihat aku hamil, melahirkan, punya anak, dan aku ingin anakku ikut bapak ke masjid setiap kali sholat) batinku.
lalu berangkatlah kita semua ke Lamongan. prosesi pemakaman berjalan dengan mudah dan dengan suasana duka yang amat terasa. ketika aku duduk di sebelah ibu, ibu menangis melihat bapak yang sedari tadi terdiam tak banyak bicara.
"tadi bapakmu bilang gini ke ibu, Nis. "kok diam aja pak? sampean sedih, pak?""
"eh sebentar lagi giliranku, Bu. urut-urutannya gitu, kan tinggal aku yang terakhir." jawab bapak
"sampean jangan bilang kayak gitu, jangan pak, aku masih belum siap kalau sampean tinggal. belum punya cucu, aku jangan ditinggal."
malah ibu yang nangis denger jawabannya bapak. aku yang mendengar ibu menceritakan inipun ikut menangis bersama ibu.
tidak ada keluarga yang sempurna, tidak ada orangtua yang sempurna. namun aku yakin mereka berdua sudah berupaya yang terbaik menjadi orangtua untuk kami ketiga anaknya.
pernah di satu momen ketika adik laki-laki ku menikah. setelah acara berakhir, aku mengatakan kepada orang rumah (bapak, ibu, kakak dan adik) bahwa aku akan pulang kerumahku sendiri bersama suami setelah ba'da Maghrib. sementara saat itu di masjid ada acara pengajian sekaligus tasyakuran pernikahan adik laki-lakiku yang mana seharusnya bapak dan adikku masih harus di masjid.
namun disaat mengemasi barang-barang, bapak dan adik laki-laki pulang kerumah. lalu aku bertanya heran ke bapak,
"lho, pak, kok pulang? bukannya ada pengajian di masjid, ya?"
"iya, tak tinggal. bapak pengen nganterin anak bapak pulang. pengajian masih bisa ditunda, besok juga masih ada pengajian. tapi sekarang anak wedok e (perempuan) bapak mau pulang. masak mau ditinggal tanpa pamitan, ngga enak juga kalau nggak liat anak perempuan bapak secara langsung."
aku mendengar jawaban bapak langsung aku salim tangan bapak, aku peluk bapak dengan menangis. ahh bapak, semoga Allaah balas kebaikan bapak dengan banyak kebaikan ya. aku ingin jadi saksi kelak di hadapan Allaah bahwa bapak sudah sangat baik ke anak-anaknya. sudah baik mendidik kami bertiga, sudah baik mencari nafkah yang halal lagi baik demi kami semua bisa makan enak. pendidikan terbaik, dan menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki yang baik.
ada banyak hal keteladan baik yang lahir dari contoh bapak ibu dirumah. bapak yang akan marah kalau kami tidak sholat, bapak yang selalu menanyakan apakah kami sudah sholat, bapak yang pernah mengatakan kepadaku tidak akan menyekolahkanku kalau aku nggak mau pakai jilbab, bapak yang selalu mau dan bisa menjemput anak-anaknya apalagi anak perempuannya. kata bapak, anak perempuan itu ibaratnya kayak ratu. ratu nggak boleh pergi tanpa ada pengawalan.
dulu aku selalu berpikir pengajaran bapak ini sungguh membuatku berat, namun setelah beranjak dewasa sudah seharusnya semua Bapak menjaga anak-anaknya terutama anak perempuannya dengan begitu. agar anak perempuannya ini tidak mudah jatuh pada hal-hal yang haram.
bapak tidak banyak bicara, tapi keteladanan baik itu ada pada tindakan. bapak yang selalu membantu ibu mencuci piring, mencuci baju, mendengarkan ibu bercerita sepanjang apapun cerita itu, bapak akan dengan sangat senang mendengarkan dan sangat sabar menjawab pertanyaan ibu.
Bapak ketika dirumah tidak pernah malu terlihat olehku menyapu, mengepel, benerin genteng, benerin listrik, benerin tv, benerin pagar, bahkan memasak kala ibu sedang ke desa menjenguk orangtua (kakek dan nenek). apapun bisa bapak lakukan karena memang bapak sepintar itu dimata ketiga anak-anaknya, terutama dalam pandanganku. bapak menjadi standartku dalam memilih seorang suami.
kala aku menyebutkan semua hal itu, dulu aku dikatakan halu. jaman sekarang mana ada laki-laki seperti itu, Nis. mustahil kata banyak orang. namun aku percaya, jika bapak adalah wujud nyata kebaikan Allaah kepada ibu, maka aku lebih percaya akan ada laki-laki yang juga seperti bapak di dimensi yang lainnya. maka saat itu, jika menginginkan laki-laki seperti bapak, langkah selanjutnya adalah melihat keteladanan baik itu ada pada diri ibu.
ternyata salah satu alasan bapak memilih ibu adalah karena ibu pandai menjaga diri. Ibu menjaga diri dari berbuat hal-hal yang haram atas dirinya, artinya selama ibu bertumbuh ibu tidak pernah di sentuh seorang laki-laki yang bukan mahramnya. artinya ibu tidak pernah pacaran selama ia menjadi seorang gadis. lalu Allaah mempersatukan ibu dan bapak dalam pernikahan. perjanjian yang agung. ini semua sungguh atas pertolongan Allaah dalam masa penjagaan ibu. Semoga Allaah selalu menjaga kami semua untuk selalu tumbuh dalam kebaikan.
Bapak adalah cinta pertama ibu, begitupun sebaliknya. semoga cinta mereka berdua tidak hanya bersemi di dunia saja namun terus bersemi dan membersamai hingga surga Allaah. Allaah izinkan dua orang terkasih dan saling menyayangi karena Allaah ini terus bersama dan bertumbuh dalam kebaikanNya.
Laki-laki baik itu banyak sekali. dulu dan sekarang aku selalu yakin dan selalu percaya, bahwa laki-laki baik itu banyak sekali. begitupun sebaliknya, perempuan baik itu juga tak kalah banyak. ketika di antara kita banyak yang sedang ragu dan sedang berada di persimpangan jalan sebab kelelahan mendidik diri. di saat yang sama pastilah banyak yang sedang menuju atau sedang dalam perjalanan menuju Allaah, memperbaiki dirinya.
ketika mengharapkan seseorang yang berakhlak baik, sholih, bertanggung jawab seperti itu, sudah seberapa jauh dan pantaskah diri kita berharap yang sama demikian? sudah seberapa pantas kualitas diri kita untuk mendapatkan yang setara? jangan sampai menginginkan ini dan itu, bisa ini dan itu namun seringkali lupa untuk menakar diri sendiri.
aku seringkali menemui pasangan suami istri yang hidup di usia mereka yang tak lagi muda. namun senyum diantara keduanya masihlah terasa sangat tulus dan bahagai. lalu pertanyaan dalam diri muncul, sudah seberapa banyak mereka saling memafkan ya? sudah seberapa banyak mereka menahan ego, saling mengalah, saling mengupayakan kebahagiaan bagi satu sama lain? dan seberapa banyak doa yang mereka panjatkan agar Allaah menolong untuk terus bersama-sama dan saling menguatkan satu sama lain?
aku selalu percaya, diantara banyak upaya yang dilakukan, mendoakan kebaikan bagi satu sama lain barangkali selalu mereka jadikan nomer satu untuk mengarungi segala bahtera rumah tangga itu. bahkan seringkali aku melihat banyak yang ditinggal pergi salah satunya, dan mereka tetap setia bagi satu sama lain, dengan embawa keyakinan bahwa mereka akan dipersatukan Allaah kembali nanti di surga, sebaik-baik tempat dan impian.
laki-laki baik itu banyak sekali, keteladanan baik itu akan selalu ada. ketika yang tampil di ruang publik pada hari ini ataupun media adalah kabar ihwal ketidakbaikan laki-laki terhadap istri, atau kegemaran laki-laki yang suka selingkuh, dan segala hal yang tidak pantas, mungkin salah satu sebabnya adalah kurang luasnya jaringan pertemanan. kurang luasnya padangan. jangan-jangan selama ini kita memang hidup di lingkungan orang-orang yang kurang baik, masih awam, sehingga yang nampak oleh mata hanyalah tipe seperti itu.
aku masih ingat sekali, seorang teman dekatku mengatakan takut menikah sebab melihat betapa maraknya berita perselingkuhan dan hal yang tidak baik lainnya pada pernikahan. aku memahami rasa takut itu, akupun tumbuh di lingkungan tetangga yang para suaminya ada yang KDRT, selingkuh, judi, pemabuk. namun hal itu tidak membuatku takut sebab aku mendapat keteladanan yang baik ada pada diri bapak. oleh karenanya aku sungguh berdoa kepada Allaah agar Allaah menjaga bapak dari hal-hal yang buruk. sebab hanya Allaah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik penjagaan.
barangkali juga perjalanan kita belum jauh. hidup kita barangkali masih terkotak-kotakan hingga langsung menelan anggapan bahwa semua laki-laki itu tidak baik. tapi, jangan lupa sayang. engkaupun lahir dari cinta bapak dan ibumu.
pada akhirnya, yang kita butuhkan hanya Allaah, ya. agar menolong kita setiap waktu, agar memberi petunjuk hidup kita tentang pilihan-pilihan yang begitu banyak. agar terus membimbing kita perihal banyaknya hal yang tidak kita ketahui. sebab kecilnya pengetahuan kita. pada akhirnya, hanya Allaah yang tetap kekal dan tinggal.
menuliskan ini tak lain, tak bukan agar bisa ku baca kembali. barangkali kelak aku merindukan orang-orang yang sangat baik kepadaku. abhwasanya kebaikan dan rahmat Allaah begitu luas kepada diri ini. orangtua yang baik dan mendidik akhlak serta agama yang baik salah satu warisan termahal bagi seorang anak.
ya Allaah, balaslah kebaikan, ketulusan kedua orangtua kami dengan Surga Firdaus. sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil. limpahkanlah rahmat, kasih sayangMu untuk kedua orangtua kami, dan berikanlah kami kesabaran untuk merawat dengan cinta kedua orangtua kami yang sudah memasuki usia lanjut. lembutkanlah hati kami semua untuk bisa menerima dan merasakan cinta bagi satu sama lain. aamiin.
menyempurnakan tulisan dalam perjalanan menuju rumah || 12.51 || September 2025