Pesan-pesan Semesta
Uap menempel di kaca jendela, udara berhembus pelan masuk ke kusen hingga merambat ke tubuh menghantar hawa dingin. Curah hujan sedang tinggi. Namun, hujan telah usai, setelah semalaman puas membasahi bumi.
Pagi ini, aku yang tengah berbaring berbalut selimut, terbangun oleh sebuah notif pesan dari gawaiku. Sekelebat aku menyambar gawaiku yang tak jauh dari tempatku berbaring. Dengan mata kantuk, aku mengetuk pesan dan membacanya : Selamat Pagi! Awali pagimu dengan bersyukur karena Sang Maha Kuasa telah memberimu hidup untuk membaca pesan ini. Dan, di tempat biasa, aku menunggu. Untuk melakukan rutinitas kita, lari pagi heheh.
Senyumku tersimpul malu menatap layar gawaiku. Ada rahasia yang sulit terungkap, namun rasa memberi tanda pasti, suatu pertanda. Bahagia.
Dalam sepersekain detik, entah kenapa nyawaku langsung terhimpun setelah membaca sebuah pesan. Sebuah pesan dari seseorang yang aku anggap Istimewa. Aku begitu antusias berpisah dengan selimut di pagi hari. Hal yang tak lumrah untuk kulakukan. Tak lama aku langsung beranjak dari tempat tidur dan sekelebatan telah tiba di kamar mandi. Transisi dari tempat tidur ke kamar mandi pun berbeda dari biasanya.
Setelah selesai mandi. Aku langsung beringsut ke rak baju. Memilah yang terbaik untuk dikenakan. Aku mengenakan kaos oblong ditutup dengan jaket parasut centang dan memadukan dengan celana training hitam. Membalut kaki dengan Sepatu Adidas Alphabounce. Dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuh.
Dengan derap langkah pasti aku keluar rumah. Digerubungi semangat. Senyum menyimpul malu dalam setiap langkah. Hati akan berjumpa tambatannya. Aku mengambil gawai dari saku jaket dan mengetikkan pesan : im on the way.
..............
Senandung burung berkicau ria. Membawa lirik-lirik indah yang menggema di telinga. Desik ranting tertiup mesra. Menjatuhkan tetes hujan yang terjun bebas menggenang. Deru mesin kendaraan tak hinggap ke telinga. Suara hiruk pikuk kota senyap dilahap sunyi. Hanya ada derup langkah para Pelari yang memenuhi Taman Santoso. Dan suara dua detak jantung yang sekarang berjalan beriringan.
Keringat mengalir dari wajah hingga membasahi tubuh, setelah mengitari taman dengan lima putaran. Aku bukannya tidak sanggup lagi. Hanya saja, aku tidak tega melihat sosok yang di sampingku ini begitu kelelahan. Namun ada yang lain, ketika sepasang mataku menatap wajah dengan rambut dikepang satu ini. Keringat yang mengalir di wajahnya dan sedikit basah pada helai rambut yang tertempel di kening. Ada Pesona indah yang terpancar. Dari raut wajahnya tersirat pesan-pesan yang dikirim Semesta. Kecantikan buah ciptaan Semesta. Tuhan sedang memberi tau sebuah Keindahan.
"Selfie, yuk!" Suaranya menghentikan lamunanku.
"Hayukk!" jawab ku kaku.
Selfie atau poto-poto, sebuah tradisi yang sulit dihilangkan ketika lari pagi. Tangannya memanjang lurus ke depan. Kami menatap layar gawainya. Sudut-sudut bibir yang membentuk senyum itu benar-benar membuat hatiku terpikat dan punya daya tarik yang mengikat. Seolah Black Hole yang memiliki gaya tarik menarik yang paling kuat, namun tak bertanggung jawab ketika kita masuk ke dalamnya.
Pagi ini, Taman Santoso menjadi saksi rindu yang tertuntaskan.













