Drastisnya Kerugian Pasar Asemka
Hai, Ngulikers! Ngulikers pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Pasar Asemka, yaitu sebuah pasar grosir yang terletak di Jakarta Barat. Pasar grosir yang bisa dikunjungi mulai pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore ini tepatnya berada dekat dengan Stasiun Jakarta Kota. Pasar Asemka sangat terkenal di kalangan pebisnis, mulai dari pedagang kaki lima, hingga yang telah mempunyai cabang di mana-mana. Hal ini karena harga yang ditawarkan sangat murah dan jauh di bawah harga pasaran. Barang-barang grosiran yang dijajakan dimulai dari aksesoris, mainan, alat tulis, kosmetik, tas sekolah, payung, jas hujan, boneka, hingga perlengkapan ulang tahun.
Pasar Asemka tidak pernah sepi pembeli dari tahun ke tahunnya. Namun sayang, kondisi sekarang sudah berbeda, Ngulikers. Menurut Bapak Mustafa, selaku penjual berbagai macam aksesoris, dalam 6 bulan terakhir ini Pasar Asemka mulai sepi pembeli. Yang harus Ngulikers tahu, di bawah Pasar Asemka terdapat pedagang kaki lima yang turut memasarkan barang-barang grosiran di Pasar Asemka. Caranya, para pedagang tersebut membeli barang di Pasar Asemka kemudian menjual kembali. Cara ini terbilang sangat efektif karena pembeli tidak harus mengulik pasar hingga ke bagian dalam. Melalui pedagang kaki lima, pembeli bisa dengan mudah mendapatkan barang yang dicari.
Namun, kaki lima yang berada di bawah Pasar Asemka tersebut telah digusur oleh Pemerintah demi ketertiban jalan. Akibatnya, tidak ada lagi pemasaran yang efektif bagi Pasar Asemka. Seperti yang telah disinggung di atas, hal ini berakibat pada menurunnya pendapatan para pedagang di Pasar Asemka, nih, Ngulikers.
Contohnya saja, dalam sehari Bapak Mustafa yang sudah berjualan aksesoris selama 6 tahun ini bisa meraih keuntungan hingga 4 juta rupiah dalam sehari! Atau minimalnya, Bapak Mustafa bisa mendapatkan 1,5 juta rupiah. Ngulikers bisa tebak, tidak, berapa keuntungan Bapak Mustafa sekarang? “Wah, sekarang nggak bisa saya ukur. Nggak tentu, neng. Nggak bakal bisa nutup (modal). 800 paling. Rugi saya, semua juga ngeluh begitu,” ujar Bapak Mustafa. Ngulikers, pendapatan Bapak Mustafa telah menurun drastis sebanyak 70%.
Faktor lain yang menjadi alasan sepi peminat adalah telah berubahnya jaman di mana orang-orang lebih tertarik untuk berbelanja melalui Internet atau online shopping. Akses yang terbilang cukup mudah, serta praktis membuat orang-orang seakan enggan untuk mengulik pasar. “Kalo gini paling saya cari daerah lain,” tambah Bapak Mustafa. Harapan Bapak Mustafa untuk kedepannya adalah beliau hanya bisa tawakal dan mencoba untuk sabar. “Masih mending dapet musibah ekonomi, daripada musibah yang lainnya,” ujar Bapak Mustafa. Kalau Ngulikers sendiri lebih suka ngulik ke pasar atau online shopping, nih? (KR)