Sewindu Berlalu
Jatuh cinta? Sukar didefinisikan, hanya bisa dirasakan. Ya, siapapun pasti pernah merasakannya. Tak terkecuali, aku :-p
Aku bukan seorang ahli agama, hanyalah seorang penyuka buku, terutama novel. Dan sebetulnya di keluargaku tidak ada larangan untuk pacaran. Tapi sejak kecil aku sudah faham untuk tidak pacaran sebelum nikah.
Namun, apa daya saat virus merah jambu itu menyerang sulit sekali dikendalikan.
- Semua berawal ketika seorang teman bilang bahwa saudaranya menyukaiku. Aku tahu saudaranya ini sejak kecil, namun bisa dibilang tak cukup mengenalnya dengan baik semenjak dia masuk pesantren dan aku merantau.
Agak heran pada awalnya. Karena bisa dibilang kami tak pernah bertemu. Pun juga tak pernah berkomunikasi karena jarak yang jauh dan belum populer sarana handphone saat itu (setidaknya untukku, hehee)
- Dua tahun berselang, ketika kemudian aku punya HP. Temanku memberikan nomorku pada saudaranya. Pada awalnya ragu, namun akhirnya aku menerimanya dengan niatan untuk taaruf. Tapi, aku lupa bahwa taaruf yang benar harus melalui perantara. Sekalipun komunikasi yang aku lakukan dengannya lebih cocok dibilang konsultasi. Hampir di setiap kesempatan pertanyaan yang kuajukan tak lepas dari masalah agama. Aku sungkan untuk membahas hal-hal pribadi. Hanya dia yang tanpa kuminta, menjelaskan hal-hal pribadinya padaku.
Dan…entah kenapa seiring waktu, aku justru jatuh hati padanya. Bagaimana tidak, komunikasi yang terbilang cukup intens, walaupun hanya satu bulan. Tanpa sadar aku jadi sering menunggu-nunggu pesan darinya, perlahan tapi pasti menghadirkan rasa yang tak terbayang sebelumnya. Inilah yang mungkin tak diketahuinya.
Lama-kelamaan, mungkin dia merasa lelah. Baginya aku terlalu dingin untuk ukuran perempuan, ia bilang ia merasa terlalu tolol untuk menunggu. Dan…aku menyerah tanpa sedikit pun perlawanan, pasrah.
Saat itu aku menghibur diri, kalau jodoh tak kan kemana. Seperti dalam cerita-cerita cinta pada umumnya yang berakhir bahagia, harapannya kisahku dengannya tak jauh berbeda. Bahwa suatu hari kami akan dipersatukan dalam ikatan halal, pernikahan. Bagaimana pun caranya. Dan itulah yang aku percaya, itulah yang aku yakini bertahun-tahun kemudian.
— Empat tahun berselang perasaanku tak berubah, impianku masih tentangnya. Bahkan di awal tahun keempat itu, saat seseorang mengutarakan berniat serius menemui waliku untuk melamar, aku menolak. Alasan utamaku, tak lain tak bukan karena hati ini masih diliputi olehnya.
Dan entah kenapa kejadian itu justru menginspirasiku dan meyakinkanku, untuk ‘mendatanginya’ dengan niat serius mengajaknya menikahiku. Aku begitu PeDe, tak sedikit pun terfikirkan hal lain, aku percaya ia masih menginginkanku seperti halnya aku.
Tahun keempat saat aku pulang dari perantauan untuk libur lebaran, aku berencana menjalankan misiku. Harap-harap cemas, tapi juga bahagia.
Namun, tanpa disangka seseorang malam itu datang membuyarkan semuanya. Seseorang mengabarkan sebuah berita yang seyogyanya adalah berita bahagia.
Berita bahagia itu sungguh mengagetkan. Berita bahagia yang tak lain tak bukan, dia akan menikah!
Bagai petir di siang bolong, kabar itu memporak-porandakan hatiku. Aku tertidur malam itu dengan memegang sang hati, aku menahan tetesan air mata, aku harus kuat, aku tak bisa menangis diantara keluargaku. Tak ada yang tahu jeritan tangis hatiku kala itu. Aku mempercepat masa liburan, dan kembali merantau sebelum pernikahannya dilaksanakan.
Sepanjang jalan menuju perantauan ingatanku dipenuhi olehnya.
Sesampainya di kostan, aku terjatuh bersimpuh, tangis yang kutahan berhari-hari sebelumnya tumpah ruah sejadi-jadinya, dari siang sampai jelang malam itu aku menangis, benar-benar berhenti hanya karena aku tahu sebentar lagi saudaraku datang. Tak ingin siapapun mengetahui patah hati itu. Inilah pertama dan terakhir kalinya aku menangis saat mendengar berita pernikahan.
Begitulah, sebuah kabar pernikahan tak selalu menjadi berita bahagia, bisa jadi justru kabar menyedihkan bagi yang patah hati. Seperti halnya aku. Aku terluka, aku terkapar, dirundung patah hati.
— Empat tahun memendam rasa sebelum ia menikah, empat tahun kemudian berlalu sejak pernikahannya. Maka, genap sudah sewindu berlalu. Dan aku masih belum bisa melupakannya.
Aku merenung, apa yg sebenarnya aku inginkan sekarang? Beliau udah nikah, 4 tahun lamanya. Dan aku? Masih mengingatnya! Apa sih yang aku mau? Apa yang aku tunggu? Apa yang aku harapkan?
Menikah dengannya? Menikah disaat istrinya masih ada? Tegakah aku melukai istri dan keluarga besarnya? Lagipula, apa dia mau? Bukankah hatinya sudah dipenuhi oleh istri dan juga anaknya? Tak ada sedetikpun ia mengingatku, tak sekejap pun bayanganku berkelebat di fikirannya. Baginya aku adalah masa lalu yang tak perlu. Baginya istri dan anaknya adalah masa depan yang menjanjikan
Menikah disaat istrinya tak ada? Apa aku berharap mereka berpisah? Entah oleh kehidupan ataupun kematian? Aaah…. apa aku sekejam itu?
Lagipula….. jikapun salah satu sebab diantaranya, apa aku sendiri mau? Mau menjadi istrinya? Mau dinikahinya? Rasanyaaaa…. sulit Bukankah bagiku ia telah mengkhianati cinta? Bukankah aku sempat tak lagi mempercayai cinta karenanya? Apa aku masih bisa mempercayainya?
Jika demikian….. apa yang sebenarnya aku inginkan?
Mungkiinnn…. sesungguhnya bagiku masalah ini belum selesai sepenuhnya. Tapi baginya, masalah ini sudah selesai.
Jadi tak ada lagi yang perlu dijelaskan ataupun dibicarakan bukan?
Ahhh…mungkin, nun jauh di dalam hati… Aku merasa bersalah! Betapapun aku pernah begitu mencintainya, betapapun prinsipku tak sama dengannya, tapi sikapku padanya kurang baik. Hingga niat baikku utk tetap tak pacaran sekalipun hatiku dipenuhi tentangnya saat itu, tetap saja itu menyakitinya.
Aku sakit, ia sakit Ia sakit karena merasa cintanya tertolak Aku sakit untuk menahan rindu yang tak habis-habisnya Sakitku semakin kronis saat ia bangkit dan menemukan cintanya Sedangkan aku masih bergumul tentangnya
— Sewindu berlalu. Aku tak bisa terus-terusan mengingatnya. Aku harus melanjutkan hidup bukan? Maka, aku mencoba melakukannya ketika menemukan kalimat ini, “Aku perlu melihatnya untuk bisa melupakannya”
Dan…aku pun memutuskan untuk “terapi hati”, aku pulang dan tinggal lebih lama untuk melihatnya dari dekat.
Perlahan aku bisa melihat lebih jelas. Ia bahagia dengan keluarga kecilnya, setiap jumat pagi aku juga mendengar suara istrinya. Dan ternyata ia sudah memiliki seorang putra. Ia bahagia. Dan entah, aku merasa lega. Aku jadi tersadarkan, aku bisa melihat bahwa kurasa isterinya adalah memang pilihan terbaiknya. Jika aku, rasanya belum tentu mampu mendampinginya.
Yaah…sepertinya jatuh cinta memang tak pernah salah, entah akhirnya bersama dengan orang yang dicintai atau tidak. Jatuh cinta pada seseorang. Bukankah ini mengayakan rasa? Aku tak akan tau rasanya patah hati jika belum mengalaminya bukan? Ahhh…Tuhan memang Maha Baik, sekalipun aku tak pacaran tapi aku pernah merasakan cinta monyet, bagaimana cinta diliputi benci, dan juga patah hati.
Kini, aku bisa tersenyum melihat kebahagiaannya. Aku bisa menyapa secara wajar saat berpapasan dengannya. Aku bahagia melihatnya bahagia.
Dan kamu disana, terimakasih sudah hadir menjadi bagian dari sejarah hidupku^^















