Sejujurnya, kadang aku iri dengan kehidupan asmara orang-orang di sekitarku. Kok mereka bisa dengan mudah ya menemukan sosok yang sebucin itu-sesupport itu, semenerima itu sosok teman-temanku ini. Sementara kisah cintaku sendiri sering kepentok “nice try” “nice info” “next, thank you” hahaha :”D. kalau aku lagi capek banget, aku sempat skeptis bahwa mungkin garis kisahku berbeda. yaudah lah pasrah aja, gapapa kalo memang ujungnya ternyata kisah bahagiaku bukan dari aspek pasangan.
Sekarang kalau lagi suka sama orang, sering ngingetin diri sendiri “belum tentu jodoh. Belum tentu cocok juga karakter dan timeline hidupnya sama kamu. Udah ya, berhenti di rasa kagum aja. Gausa terlalu baper kalau ujungnya ga bisa bersama”.
Kucoba memahami dari sisi kehidupanku yang lain, dimana ternyata meskipun aku sering ga beruntung soal asmara, tapi aku masih dikelilingi orang-orang yang sayang sama aku. Aku selalu bisa menemukan lingkungan yang supportif. Entah itu lingkungan keluarga, pertemanan, organisasi dan bahkan kerjaan yang mendukung perkembangan potensi diri serta mimpi-mimpiku.
Entah mengapa, saat aku patah hati sekalipun, justru aku bisa menemukan, bahkan melejitkan potensiku yang lain. Saat kelas 9 aku putus dengan mantan, lalu aku fokus mengejar sekolah negeri favorit di tingkat SMA, dengan harapan di SMA pasti aku nemu yang lebih baik dari dia haha. Keterima SMA favorit alhamdulillah, tapi ga pacaran malah ambis organisasi, jadinya dikasih amanah buat jadi ketua MPK (lembaga legislatif sekolah, partner OSIS). Masa SMA dan kuliahku ga sempat cinta-cintaan karena mikirin organisasi dan studi wkwkwk (jadi ambis pol kan wkwkw :”D).
Lalu patah hati yang terakhir ini, menjadikanku membaca banyak buku, aktif di komunitas baca, dapat undangan talkshow beberapa kali di kampus tetangga dan radio lokal tentang kegiatan litersi. Terus mengasah hobi voice over yang berujung gabung komunitas vo dan networking sama para vo talent. Kemudian daftar pengajar muda dengan niat menyembuhkan diri dari patah hati (don’t get me wrong, dari kuliah emang pingin daftar PM, cuma setelah patah hati jadi lebih mantep daftar sekalian move on wkwkw. Alhamdulillah keterima PM dan beneran bisa move on. Selama menjadi PM ini aku menemukan "rumah yang baru", banyak orang yang menerimaku setulus itu. Sekarang fokus ngobrol sama berbagai orang, belajar kehidupan dari masyarakat akar rumput dan bergerak bersama untuk pendidikan.
Dari beberapa pengalaman ini aku bisa melihat bahwa, diri ini selalu bisa bangkit dari berbagai luka itu, bahkan bisa tumbuh lebih mengakar kuat. Momen patah hati semacam “pelecut” untuk terus naik level, bahkan ke level yang sebelumnya nggak pernah kukira. Aku tahu, bahwa sepatah apapun. diri ini akan bisa jatuh cinta lagi, walau bukan dengan orang baru, tapi dengan versi diri yang terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Jatuh cinta dengan lingkungan yang menjadi support systemku untuk mengembangkan diri dan move on 😊
Sering random mikir “aku harus patah berapa kali lagi ya buat menemukan the one ini?”. Tapi gapapa lah kalau memang harus menjalani episode patah hati lagi, aku masih punya banyak orang yang sayang sama aku. Aku masih punya lingkungan yang bikin aku berkembang. Toh, cinta itu bisa dibagikan ke siapapun dan diperoleh dari manapun. Yang terpenting, aku ga kehilangan cintaNya, yang Maha menghidupiku.
Peluukk untuk teman-temanku yang sedang dalam masa menyembuhkan diri dari luka patah hati. Percaya aja, kita bisa melalui ini dengan baik sama-sama 😊
Dariku, yang terlatih patah hati (wkwkw bangga banget).
Kisah ini ditulis buat diri sendiri si, biar ga galau-galau amat walau nasib asmara sering unlucky, karena kenyataannya kualitas diri tetap improve terus kan :))