“Pemrogram adalah makhluk yang mampu mengubah secangkir kopi menjadi sederet baris perintah komputer.” ~Anonim
Bagi yang berkecimpung atau bersinggungan dengan pekerja TI (teknologi informasi), khususnya profesi pemrogram (programmer) dan perancang grafis (graphics designer), biasanya mafhum pada kebiasaan jam kerja mereka yang tak seperti pekerja kantoran pada umumnya. Seperti masuk kantor kesiangan, susah diajak rapat, sistem kebut semalam, dan—terutama—produktif di malam hari. Itu sebabnya mereka sering disebut pekerja kalong (kelelawar) karena jam kerjanya malam hari.
Berbagai alasan dan penjelasan berusaha membenarkan kebiasaan ngalong tersebut. Misalnya, mereka adalah pekerja kreatif sehingga produktivitas mereka tergantung pada mood (kesiapan mental), menunggu wangsit (entah dari mana), suasana malam yang jauh dari gangguan (distraction), dan sebagainya. Yang intinya adalah perilaku tersebut sudah sewajarnya dalam profesi mereka sehingga yang lain dimohon harap maklum saja. Diskusi seputar hal ini juga ramai diperbincangkan. Bahkan ada yang menulis buku secara khusus membahas tentang kebiasaan ini. Tak luput pula hasil penelitian ilmiah yang terkait dijadikan dasar pembenaran.
Saya juga seorang pemrogram profesional. Sudah 20 tahun lebih saya menekuni profesi ini. Tentu saya paham betul perilaku demikian karena saya juga pernah menjalaninya. Dan semua alasan di atas memang benar adanya. Memang bekerja di malam hari itu sangat mengasyikkan. Saking asyiknya bekerja, waktu berlalu tanpa terasa. Tahu-tahu matahari sudah terbit dan seribu baris program telah dituliskan dengan baik. Puas. Lalu tidur. Sementara orang lain baru akan berangkat ke kantor. 😊
Namun seiring waktu, karier saya pun berkembang. Selain membuat program komputer, saya mulai berhadapan dengan berbagai profesi lain, bertemu mitra kerja, menghadapi pelanggan, menyampaikan presentasi produk, dan sebagainya. Secara pribadi, seiring usia, saya mulai menjalin hubungan serius dengan wanita, lalu berkeluarga dan punya anak, serta tuntutan bersosialisasi dengan lingkungan yang di luar zona nyaman saya. Dari perkembangan itu, saya mulai memahami mengapa kebiasaan bekerja di malam hari itu kurang baik. Bisa jadi kebiasaan tersebut ada benarnya, tapi apa betul harus dibiarkan begitu selamanya? Secara kesehatan, kebiasaan tersebut jelas kurang baik dalam jangka panjang. Apa pemrogram tak bisa menikmati hidup dan jam kerja normal seperti profesi lainnya?
Pasti ada cara lain, pikir saya. Pemrogram pasti bisa hidup dan bekerja di jam normal. Jika memang harus bekerja di malam hari, tidak perlu dilakukan tiap hari/malam, cukup seperlunya saja. Saya pun mulai mengatur strategi bagaimana bisa bekerja di jam normal dan mengurangi bekerja di malam hari. Secara bertahap saya ingin betul-betul tidak perlu lagi bekerja di malam hari, kecuali karena ada perkara yang betul-betul mendesak sehingga harus dikerjakan malam hari.
Berdasarkan pengalaman pribadi, menurut saya hanya ada satu hal paling penting yang menyebabkan pemrogram suka bekerja di malam hari. Yaitu: konsentrasi atau fokus.
Konsentrasi yang baik didukung oleh situasi dan kondisi lingkungan yang nyaman. Bagi pemrogram, situasi dan kondisi yang nyaman itu umumnya tersedia pada malam hari. Kondisi yang sepi dan dingin, terutama setelah dini hari, sangat membantu pemrogram untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya. Konsentrasi akan menghadirkan mood untuk mulai berpikir dan berkreasi. Wajar jika kemudian ide-ide inovatif dan pemikiran kreatif bermunculan. Mungkin itu sebabnya disunnahkan sholat tahajjud di akhir sepertiga malam (dini hari) untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Mungkin supaya kita bisa berpikir inovatif dan kreatif dalam mencari solusi permasalahan hidup, ndak melulu mengeluh. 😊
Situasi malam hari jelas tak ada gangguan. Bekerja di malam hari menjauhkan pemrogram dari panggilan atasan, obrolan teman kerja, juga keributan anak-anak, dan omelan curhatan istri. Situasi yang seperti itu tentu sangat menyenangkan bagi pemrogram untuk bekerja. Pekerjaan menjadi lancar tanpa interupsi, ide-ide muncul tak terputus, pemikiran tak tersendat keributan sekitar. Jadi bisa dimaklumi jika pemrogram lebih menyukai bekerja di malam hari. Situasi dan kondisinya memang sangat nyaman dan mendukung.
Lalu, bisakah pemrogram bekerja dengan nyaman dan konsentrasi penuh di kantor pada jam kerja normal? Jawabnya, bisa. Mungkin tidak mudah, tapi bisa. Diperlukan latihan dan pembiasaan, baik secara pribadi pemrogram maupun secara manajemen di tempat bekerja. Berikut kiat dan triknya…
Untuk Pemrogram
1. Isolasikan diri dari keramaian kantor. Jika bisa punya ruangan khusus sendiri di kantor tentu lebih nyaman, tapi tak semua pemrogram bisa seperti itu. Cara yang lebih mudah adalah mengabaikan sekitar dengan cara tutup telinga dan tundukkan pandangan. Pasang headphone lalu putar lagu atau musik yang bisa membantu konsentrasi. Jaga pandangan hanya pada layar komputer kita saja, jangan jelalatan atau tolah-toleh mengintip kegiatan orang lain. Layar komputer yang agak besar dan lebih dari satu juga bisa membantu menjaga pandangan. Pasang tampang sibuk, tampang yang menyampaikan pesan “Saya sedang tidak mau diganggu!” sehingga rekan kerja sungkan untuk mengganggu. Jika perlu, pasang tulisan “JANGAN DIGANGGU!” atau “DO NOT DISTURB!” di meja kerja kita.
2. Bangun mood secara aktif, jangan menunggu. Kesalahan umum pemrogram adalah pasif menunggu mood. Padahal mood itu bisa secara aktif kita bangun sendiri, kapan pun. Sebab mood adalah kondisi mental, kontrolnya ada pada diri kita masing-masing. Setiap pemrogram biasanya punya cara masing-masing untuk memancing mood, bisa dengan musik, camilan, atau bacaan. Saya biasanya dengan membaca kode program sendiri yang sudah dibuat sebelumnya. Dengan begitu saya mengondisikan otak untuk mulai fokus pada masalah dalam kode-kode program tersebut dan terbangkit ide untuk mencari solusinya.
3. Hindari gangguan dari diri sendiri. Gangguan tak semata datang dari luar, tapi juga bisa dari dalam pemrogram sendiri. Biasanya dengan alasan cari mood, malah keluyuran di media sosial, nimbrung di grup diskusi, blogwalking, atau nonton video. Itu sih bukan cari mood namanya, tapi justru cari masalah. Menghindari gangguan dari luar itu lebih mudah daripada menghindari gangguan dari dalam kita sendiri. Biasanya karena malas, tapi mood yang jadi alasan. Jika kita ingin konsentrasi maka mulailah berusaha untuk konsentrasi, bukan malah membuyarkannya.
4. Bangun mental untuk siap menghadapi gangguan. Bagaimana pun kita berusaha membentengi diri dari gangguan, kadang gangguan tak bisa kita elakkan juga. Mulailah menerima gangguan sebagai bagian dari pekerjaan. Tak perlu merasa marah atau jengkel jika datang gangguan saat kita bekerja. Apabila kita bisa menerima gangguan maka gangguan tak lagi menjadi masalah. Mungkin ini terdengar absurd, tapi saya sudah membuktikannya. Begini yang saya lakukan…
Ketika sedang khusyuk membuat program, seorang pemrogram seolah berada di dunianya sendiri. Gangguan yang datang akan dianggap menghancurkan dunia tersebut. Saya ubah anggapan seperti itu. Alih-alih, saya anggap gangguan sebagai tamu, yang datang mengetuk pintu dan ingin bertemu saya. Jadi, tak perlu ada yang dihancurkan atau dirusak akibat kedatangan tamu tersebut. Seperti layaknya tamu, saya pun menerima dan melayaninya dengan baik. Setelah tamu itu selesai dengan urusannya, saya tutup pintu dan kembali ke dunia saya untuk melanjutkan pekerjaan yang terhenti tadi. Itu konsepnya. Prakteknya begini…
Saat asyik menulis kode-kode program, isi kepala seorang pemrogram adalah masalah dan ide-ide solusinya. Saat ada gangguan, jangan langsung direspon, tapi bangun dulu ingatan tentang apa yang saat ini sedang dipikirkan (masalah dan solusi yang sedang aktif). Ibarat lagu yang sedang diputar, saya pause lagu itu, lalu saya ingat posisi terakhirnya. Begitu ingatan itu terekam baik, baru saya merespon gangguan. Setelah selesai menghadapi gangguan, saya kembali ke depan laptop, menutup mata dan memutar kembali ingatan terakhir tadi, dibantu dengan membaca kode-kode program terkait, dan saya pun bisa segera kembali konsentrasi melanjutkan pekerjaan. Awalnya memang sulit, tapi jika dilatih dan dibiasakan, jadi mudah.
Sekarang, saya bisa saja sedang asyik koding, tahu-tahu anak saya memanggil. Saya butuh sekitar 5-10 detik untuk merekam apa yg sedang saya kerjakan saat itu ke otak. Saya simpan ingatan tersebut di “celah” otak tertentu agar mudah “diambil” kembali. Setelah itu segera bangkit dan merespon panggilan anak saya. Setelah urusan dengan anak selesai, saya kembali ke laptop dan butuh sekitar 20-30 detik untuk mengambil rekam ingatan tadi dan membangun konsentrasi kembali seperti sebelumnya. Lalu, saya kembali asyik melanjutkan koding seolah tak terjadi apa-apa. Jika gangguan datang lagi sebelum saya sempat bangun ulang konsentrasi, ya tinggal batalkan saja karena rekam ingatan kerja yang tadi belum terhapus.
Jika seorang pemrogram bisa melatih kemampuan seperti di atas, gangguan tak akan lagi terasa mengganggu. Gangguan hanya jadi semacam jeda dalam pekerjaan. Hanya sebuah tombol pause di alat kerja kita, yang bisa kita tekan dan lepas kapan pun kita mau.
Untuk Kantor Tempat Bekerja
Situasi dan kondisi yang nyaman bagi pemrogram tentu juga perlu dukungan dari tempat bekerja. Berikut kiat dan trik yang perlu dilakukan di kantor agar pemrogram bisa bekerja pada jam kerja normal.
1. Bangun budaya hargai privacy pemrogram. Pemrogram adalah pekerja yang perlu konsentrasi penuh dan seminimal mungkin gangguan. Lebih baik lagi jika setiap karyawan bisa punya ruang khusus dimana ia bisa bekerja nyaman tanpa terganggu. Jika pemrogram sedang bekerja, usahakan untuk tidak mengganggunya kecuali memang betul-betul mendesak. Di lingkungan karyawan juga dibiasakan untuk tidak mengganggu pemrogram yang sedang bekerja. Pihak manajemen harus paham dan menghormati hal-hal seperti ini.
2. Jangan biasakan rapat mendadak. Rapat memang kadang penting dan diperlukan. Tapi sebaiknya dilakukan secara terjadwal dan ada pemberitahuan sebelumnya. Dengan demikian karyawan bisa menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk mengikuti rapat. Jika memang perlu diadakan rapat mendadak, cukup undang karyawan yang betul-betul diperlukan untuk hadir, tak perlu semuanya diundang, apalagi pemrogram yang kadang tak perlu berurusan langsung dengan hal yang dirapatkan.
3. Hindari akses langsung manajemen ke pemrogram. Karyawan pemrogram yang tak berhubungan dengan pengambilan keputusan kantor, sebaiknya tidak berhubungan langsung dengan manajemen. Manfaatkan atasan pemrogram (manajer atau ketua proyek) untuk hal-hal yang terkait manajemen. Jadi, tak perlu misalnya seorang direktur memanggil karyawan pemrogram untuk menjelaskan kondisi aplikasi atau sistem yang sedang bermasalah. Justru hal seperti itu mengganggu karyawan tersebut untuk segera bekerja menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Jika atasan pemrogram tak bisa menjalankan fungsi tersebut, maka jelas masalahnya dimana bukan?
4. Biasakan pemrogram menyelesaikan pekerjaan di kantor di saat jam kerja. Untuk mengurasi stres karyawan pemrogram, usahakan tak ada beban kerja tambahan di luar jam kerja kantor. Beri kesempatan karyawan untuk menikmati hidup dan hasil kerjanya di luar jam kerja, bersama keluarga, sanak kerabat, dan teman-temannya. Karena hidup itu tak semata hanya kerja, kerja, dan kerja. Jika pun perlu bekerja di luar jam kantor, berilah penghargaan yang layak dan sesuai.
* * *
Dengan kiat dan trik di atas, pemrogram tak perlu lagi jadi kalong yang hanya bisa produktif di malam hari. Jika setelah membaca ini seorang pemrogram tetap saja ndak mau berubah dari kebiasaan kerja di malam hari nyaris setiap hari, kemungkinan besar dia adalah seorang pemuda jones alias jomblo ngenes yang tak merasa perlu memikirkan kencan, kesehatan, apalagi masa depan. 😄