“SEKOLAH MAHAL” TIDAK ADA JAMINAN, DAN SIKAP FEODAL KITA MEMPERBURUKNYA
Tercabut dari relevansinya, kata itu saya dapatkan dari buku “bilik-bilik pesantren” karangan almarhum Cak Nur, sejak mendapatkan kata tersebut, saya menjadi sering memakainya, entah, dalam perbincangan dengan beberapa teman ataupun beberpa kali untuk menilai sesuatu. Kata tersebut semacam menjadi alat bagi saya untuk mengukur atau mempertimbangkan fungsi sesuatu. Pada buku bilik-bilik pesantren, kata tersebut digunakan dalam mengkritik fungsi keberdaan pesantren, yang seiring berjalannya waktu fungsi pesantren semakin tereduksi. Karena menurut beliau, dan saya pun setuju, bahwa pesantren punya potensi tinggi, sebagai lembaga pendidikian yang mampu memenuhi kekurangan dunia pendidikan dewasa saat ini, yakni, sanggup melahirkan pribadi yang mempunyai moralitas tangguh juga intlektualitas mumpuni.
Beberapa hari yang lalu, saya mendapat cerita dari salah seorang teman yang mengajar di salah satu sekolah swasta ternama di kota ini. sudah beberapa bulan ia mengajar disana, namun, masih saja ia merasa belum betah untuk mengajar. “pasalnya, bukan masalah anak-anak disana yang akhlaknya keterlaluan, itu sudah permasalahan yang jamak di setiap sekolah saat ini. tapi, sistem sekolah yang tidak memberi keluasaan pada guru untuk mendidik, itu lo yang bikin gak betah...” ada nada jengkel saat ia menuturkanya, saya paham, apa yang ia rasakan, ia tumbuh, dan di didik dengan kualitas pendidikan yang lebih baik dengan biaya pendidikan yang wajar dan masih masuk akal, wajar saja kali ini ia jengkel, biaya pendidikan tempat ia mengajar memang dibilang mahal, namun, di sisi yang lain lingkungan pendidikan yang tersaji tidak bisa dikatakan “baik”. Sekolah mahal nampak menjajikan banyak hal, dalam bidang pendidikan, namun tidak semuanya bisa terjamin baik, dengan uang, khususnya dalam pendidikan.
Menciptakan lingkungan memang sebuah tugas yang berat, sangat berat. salah satu sekolah tempat kawan saya mengajar menjadi bukti bahwa biaya mahal tak selalu menjamin akan terciptanya lingkungan pendidikan yang baik, iya baik mungkin, perihal fasilitas yang disediakan, tapi itu tidak cukup bukan? Kekliruan dalam hal ini bukan kesalahan satu pihak saja, sekolah, namun, di pihak lain wali murid juga ikut andil dalam kekliruan tersebut. Kurang kesadaran dan kedewasaan wali murid, atau dalam bahasa yang lebih jelas,sikap wali murid yang tertalalu feodal lah turut serta menjadikan iklim pendidikan terasa lebih transaksional dan kurang mencapai relevansinya. Dan hal itu memepengaruhi keluasaan guru dalam mendidik. Komponen Keluasaan guru sangat penting dalam dunia pendidikan, karena, apabila, komponen ini disepelakan, menjadi penyebab salah satu dari sikap pragmatisme guru mengajar, dan akibat terburuk dari hal tersebut abainya guru pada sikap keteladanan. Jika, sampai hal ini terjadi, sungguh-sungguh gawat pikir saya, mana mungkin, guru tanpa sikap keteladanan. Bukannya guru adalah sosok yang bisa di gugu dan di tiru. Bisa-bisa institusi sekolah dan guru sendiri, tercabut dari relevansinya atau bahasa yang lebih halus, kehilangan keampuhannya. Ya.. gawat ini.
Keluasaan guru, sependek yang saya tahu, ialah berupa kepercayaan pada guru sepenuhnya dalam hal mendidik murid di sekolah. hal ini dapat menumbuhkan wibawa pada guru, dan wibawa untuk guru merupakan komponen yang krusial, agar sosok guru bisa di gugu dan di tiru, komponen ini harus diciptakan. Ketika komponen ini sudah dijlankan, maka, sikap kedewasaan dan mawas diri seorang guru diuji. Inilah salah satu dari komponen pendidikan yang harus dijalankan, menurut saya, meskipun masih ada beberapa komponen lain yang tidak boleh diabaikan. Saya tumbuh, dididik dan menjadi saksi dalam dunia pendidikan dimana komponen keluasaan guru berperan penting bagi tumbuh kembang mentalitas seorang pelajar, dan penciptaan lingkungan pendidikan yang baik.
Saya masih ingat betul, apa yang dinesahati guru saya dan juga kyai saya, dalam dunia pendidikan yang terpenting adalah ruh seorang pengajar (ruuhul mudaris) atau dalam bahasa saya, jiwa mengajar seorang guru. Ia menjadi komponen paling utama dari komponen yang lain, seperti, metode pengajaran dan materi yang akan diajarkan itu sendiri. Jiwa mengajar inilah yang harus tumbuh dalam sosok guru, sikap tersebut berupa, paling tidak, sikap tanggung jawab dan sikap keteladanan harus dimiliki. Apabila, seorang guru tanpa memliki kesadaran seorang guru atau kesadaran mengajar, maka, iklim belajar mengajar akan terasa kering dan sangat transaksional.
Salah seorang cendekiawan pernah berkata “ Intisari pembangunan adalah ekspansi kapabilitas manusia, kapabilitas manusia itu disokong oleh pendidikan dan kesehatan.” Dari hal tersebut, peranan pendidikan dalam sebuah bangsa negara merupakan sebuah pilar penting untuk terus dikembangkan. Agar bisa menjadi motor dan penggerak kemajuan sebuah bangsa dan negara itu sendiri, dan jangan sampai lembaga-lembaga pendidikan yang menjadi tempat kembang tumbuh aspek pendidikan tercabut dari relavansinya. Bukan begitu?