#PenguinChallenge (at Antartica) https://www.instagram.com/p/CNPCaQTpuXW/?igshid=1el41dm8zkpc0
seen from China

seen from United States
seen from Canada
seen from France
seen from Australia
seen from Australia

seen from Australia

seen from Senegal

seen from Australia
seen from Thailand
seen from Germany
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from Sweden
seen from Isle of Man
seen from United States
seen from United States
#PenguinChallenge (at Antartica) https://www.instagram.com/p/CNPCaQTpuXW/?igshid=1el41dm8zkpc0
Selintas Pikir tentang Sabtu Bersama Bapak
Yep, akhirnya. Inilah review singkatku tentang film Sabtu Bersama Bapak yang baru saja aku saksikan. Ini ditulis berdasarkan request dari Oktina yang memintaku melakukan review film tersebut. Ah, cerita lebih tepatnya. Sebelumnya aku ingin mengatakan bahwa yang kutulis ini bisa jadi benar, bisa jadi salah. Karena ini masalah paradigma, bisa jadi tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Yang ada adalah menempatkan dengan tepat, paradigma mana yang perlu dipakai pada waktu yang seperti apa.
Oke, kita lanjut ke filmnya. Dalam film Sabtu Bersama Bapak, yang menurutku sangat keren dan worth it untuk disaksikan, ada sebuah paradigma yang sedikit menggangguku. Entahlah, hanya tentang beberapa prinsip yang menjadi gagasan dalam cerita tersebut serta mungkin akhirnya berpengaruh pada pola komunikasi yang ditanamkan oleh keluarga tersebut.
Kalau boleh disingkat, sebuah nilai utama yang ditanamkan dalam cerita Sabtu Bersama Bapak adalah tentang kemandirian. Dari cerita yang hanya menampilkan 15 menitan kehidupan sang bapak, aku mendapatkan sedikit gambaran bahwa si bapak adalah sosok pekerja keras. Sosok yang juga hadir dalam keluarganya.
Mandiri itu baik, tapi kalau terlalu mandiri bisa jadi berubah menjadi kurang baik. Segala hal yang ditempatkan dengan berlebihan selalu tidak baik. “Neng, inget, waktu awal menikah dulu kita nggak bikin repot orangtua. Nanti kalau kita sudah tua, kita nggak bikin repot anak-anak.” Begitu kurang lebih pesan bapak yang terngiang di telinga istrinya. Kalimat yang digambarkan menjadi penguat dari sang ibu untuk menyembunyikan tentang penyakitnya dari anak-anaknya. Dari anak-anak yang sudah kehilangan bapaknya, dan sangat mencintai ibunya tersebut.
Terlalu mandiri akhirnya menjadi sebuah gagasan yang mempengaruhi konsep “kebaikan orang lain” yang dimiliki oleh seseorang. Mungkin dalam hal ini, oleh sang bunda. Bahwa kemudian ketika ada orang lain yang ingin berbuat baik kepada kita, kita menganggapnya bahwa kita telah merepotkan mereka. Ketika ada orang lain yang berkorban untuk kita, kita menangkapnya sebagai sebuah kelemahan diri kita karena kita tidak bisa bahkan memenuhi kewajiban diri kita sendiri. Padahal tidak selamanya seperti itu.
Di dua cerita sebelumnya, yang diparafrase dari cerita yang dikisahkan oleh Ustadz Salim A. Fillah, aku cukup tersentil dengan kalimat sang ustadz, “Kita seringkali tidak adil dalam menilai apa yang orang lain lakukan, karena kita melihatnya dengan kacamata kita.”
Bahwa rasa iba yang kamu miliki muncul ketika kamu membayangkan apa yang terjadi pada kehidupan si bapak; dengan pakaian yang sederhana, jaket usang, dan uang recehan, lantas berlarian tanpa paying di tengah derasnya hujan. Tapi lelaki yang kau tatap dengan iba tersebut, ternyata adalah seorang yang memiliki mobil, rumah bertingkat, uang ratusan ribu di dompetnya, serta secangkir cinta hangat untuk istrinya yang luar biasa. Setiap langkah lelaki itu berlari, semakin jauh semakin menambah rasa ibamu. Tapi bagi si lelaki, semakin jauh ia berlari semakin menambah rasa bahagianya. Karena ia semakin dekat untuk memberi hadiah bagi istrinya tercinta.
Bagi si ibu, memberitahu anaknya tentang penyakit yang dia idap mungkin adalah bentuk “merepotkan anak-anak”. Karena itulah dia menyimpan rasa sakitnya sendirian, karena tidak mau anaknya direpotkan. Tapi aku membayangkan bagaimana perasaan sang anak ketika akhirnya mengetahui bahwa sang ibu sudah menjalani dua kali operasi untuk mengangkat tumornya. Apalagi digambarkan dalam cerita tersebut, si anak sangat-sangat mencintai Ibunya, sebagaimana mereka sangat menghormati dan mencintai bapaknya. Sakitnya, tentu berkali lipat.
Bego! Ngapain aja gue selama ini? Anak gak berguna. Bapak udah pesan, jangan sampai ibu merasa sendirian. Tapi gue malah ninggalin ibu, dan bahkan gak tau kalau ibu udah dua kali operasi! Dasar anak gak berguna! Mungkin itu luapan emosi yang muncul di dalam hati sang anak. Walaupun dia tau, memang seperti itu tipikal ibunya. Tapi sangat wajar muncul luapan emosi dari seorang anak yang hanya memiliki ibu, sangat mencintai ibunya, tapi baru mengetahui bahwa ibunya sudah dua kali operasi tumor.
Aku hanya membayangkan, bagaimana jadinya ya kalau si ibu ternyata meninggal di tengah operasi, tanpa sempat memberitahu anaknya?
Bahwa konsep “kebaikan orang lain” kepada kita tidak selamanya harus kita jadikan beban. Bagaimana kalau kita balik perspektifnya, bahwa “berbuat baik” adalah hak dari saudara kita terhadap kita. Menolaknya, berarti menghilangkan kesempatan bagi saudara kita untuk berbuat baik kepada kita. Menutup-nutupi kebutuhan kita, bisa jadi juga menghilangkan kesempatan orang lain untuk berbuat baik kepada kita. Apalagi di cerita tersebut, pola komunikasi ini terjadi antara seorang ibu dan anaknya.
Bahkan sebetulnya, boleh jadi Cakra dan Satya akan merasa sangat bahagia ketika mereka mampu merawat ibunya di saat-saat beratnya. Bukan hanya bersama di saat ada canda dan tawa seperti yang digambarkan di akhir cerita. Boleh jadi Cakra dan Satya akan merasa sangat bahagia ketika harus memijiti kaki ibunya yang letih, mencium kening ibunya di detik-detik menjelang operasi, lalu mendoakan kesembuhan bagi ibunya di saat ibunya harus berjuang melawan rasa sakit saat operasi. Bahagia itu tidak selalu mengiringi saat canda dan tawa saja. Bahagia seringkali hadir bersama tangis air mata.
Beban ditanggung sendiri agar tampak tegar. Masalah dipendam sendiri agar terlihat sabar. Amanah dikerjakan sendiri agar tampak heroik. Lalu, kemana hak saudara untuk menanggung beban bersama?
Dalam konteks yang lebih umum, yang seperti ini juga seringkali terjadi di kalangan para aktivis dakwah. Sahabatku Awwah pernah mengingatkan dalam rangkaian kalimat sebagaimana di atas. Ya, seringkali kita melupakan bahwa telah tertanam kewajiban bagi seorang mukmin untuk menjadi bagian dari mukmin yang lain. Untuk menjadi saudara bagi mukmin yang lain. Yang artinya, untuk menanggung beban yang dimiliki oleh mukmin yang lain.
Pernah terbayang bagaimana perasaan saudara yang tiba-tiba saja mengetahui bahwa ternyata kamu harus keluar dari kampus? Atau terlanjur-terlanjur yang lainnya?
Dan memang hal yang seperti ini, menurutku, penting untuk diperhatikan tidak hanya dalam konteks seorang ibu dengan anaknya saja. Tapi dalam konteks seorang anak kepada ibunya. Dalam konteks seorang suami kepada istrinya, pun sebaliknya. Seorang saudara dengan saudaranya yang lain. Bahwa kita tidak hidup sendirian. Bahwa superman, is dead. And now is the time for superteam.
Bagaimana kalau kita membuat konsep “kebaikan orang lain kepada kita” menjadi lebih produktif? Bahwa ketika ada orang lain yang berbuat baik kepada kita, hal tersebut merupakan bagian dari rezeki yang Allah peruntukkan bagi kita. Dan itu merupakan bagian dari ruang kebaikan yang kita bukakan bagi saudara kita. Maka kita simpan itu baik-baik, dan kita catat kebaikan itu dalam ingatan kita. Maka ketika ada kesempatan bagi kita untuk membalas kebaikan tersebut, kita lakukan dengan sepenuh hati. Disanalah kemudian terjadi “berlomba-lomba dalam berbalas kebaikan”.
Atau konsep lain yang lebih menyenangkan, yang menurutku kurang ditanamkan dalam cerita Sabtu Bersama Bapak tersebut adalah tentang dimensi sosial seorang manusia. Bahwa manusia hidup dengan bantuan-bantuan dari orang lain. Lalu ketika manusia sudah “bisa” hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, maka jadi kewajibannya untuk banyak membantu orang lain. Ketika ada orang lain yang melakukan kebaikan kepada kita, bagaimana kalau kita terima lalu kemudian kita anggap bahwa ini adalah energi kebaikan yang harus kita salurkan kepada orang lain juga yang membutuhkan! Maka kebaikan itu tidak berhenti pada kehidupan kita, tapi kita alirkan juga kepada orang lain yang membutuhkan. Mungkin pada orang yang berbeda, mungkin dalam bentuk yang berbeda. Disanalah kemudian, kebaikan menjadi inspirasi. Menjadi energi penggerak bagi kebaikan-kebaikan lainnya.
Pada akhirnya, kehidupan memang tidak pernah seindah cerita fiksi.
Ya, bahwa kamu yang ada di rumah makan ayam bakar itu tidak selalu memandang dengan rasa iba. Bahwa lelaki yang berlarian di tengah derasnya hujan tidak selalu punya rasa bahagia. Bahwa sang bunda, Cakra, serta Satya tidak hidup dalam dunia yang nyata. Dunia dimana kita punya banyak dimensi permasalahan yang solusinya tidak selalu sama. Atau, selalu tidak sama. Tapi inilah kita, dengan lembar kanvas kehidupan yang bisa kita warnai. Dengan prinsip, dengan nilai kehidupan yang bisa sama-sama kita perjuangkan.
Kacamata kita memang selalu tidak adil menilai yang selain kita. Bahkan seringkali, tidak adil dalam menilai diri kita. Sebagaimana aku, yang mungkin sangat tidak adil menilai cerita Sabtu Bersama Bapak ini.
Tambahan:
Akan sangat keren kalau di filmnya, diekspose lebih dalam tentang Ayu yang rajin shalat Dhuha. Atau ditekankan pesan si bapak yang juga sangat menekankan tentang “akhlaq”, tentang “bahagia di dunia dan akhirat”. Bagian itu kurang diekspose dalam cerita.
Dan sejujurnya aku agak sedikit terganggu dengan jokes “kemaluan yang besar” (yang memang saat jokes tersebut dikeluarkan sangat lucu, aku sendiri tertawa ketika scene itu. Tapi saat aku pikir-pikir lagi, untuk sebuah film yang dikategorikan sebagai “film keluarga”, aku agak khawatir kalau banyak anak-anak yang juga menonton film ini. Atau remaja labil lah, minimal.) atau jokes yang (sangat) random tentang seks yang diutarakan oleh Mongol di tengah perjalanan Cakra di pantai. Kecil sih, tapi jokes-jokes tersebut dihadirkan di tengah-tengah film yang dipersepsi masyarakat sebagai film yang berkualitas, sehingga bisa jadi mengkonstruksi juga bahwa jokes-jokes yang kayak gitu sih wajar aja, selow aja kali.
Tapi secara umum, cerita ini adalah cerita yang luar biasa, sangat menginspirasi. Aku jadi mulai terbayang tentang apa yang harus aku wariskan untuk anak-anakku kelak. Tentang bagaimana mendidik mereka, dan mendidik pendidik sejati mereka, ibunya. Tentang bagaimana keteguhan hati yang perlu dimiliki oleh seorang lelaki. Tentang kemandirian hidup yang sangat penuh dengan energi. Banyak sekali inspirasi.
Yeah.