Hati yang Sepenggalan Naik
"Apakah kamu pernah tahu, bahwa Rasulullah SAW pernah mengalami sebuah fase kehidupan yang dirasa sangat berat?" tanya seorang abang kepadaku di suatu dhuha.
Sudah lama tidak berdialog dengan abang yang satu ini. Dahulu, orang ini adalah salah satu yang sering membuat hati basah saat bertemu. Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang bahkan di celetuk isengnya saja rasanya menancap ke jiwa. Kalau kata temanku yang lainnya, "kayak lagi jalan terus kepala kepentok spion mobil dari belakang. Nyess."
Kebetulan hari ini kami bertemu di sebuah masjid setelah acara itikaf bersama di tahun baru kemarin. Belakangan ini semakin ramai masjid-masjid yang membuat acara 'menyaingi' budaya kembang api di malam pergantian tahun. Luar biasanya, semakin banyak pula jamaah yang berpartisipasi.
"Bukankah setiap fase kehidupan nabi itu berat, bang?" jawabku menimpali, sambil merapikan sepatu. Bersiap untuk pulang setelah itikaf.
"Betul, tapi ada satu fase kehidupan Rasulullah yang 'lebih berat'. Rasulullah sampai merasa sangat sedih ketika itu." Lanjutnya.
"Oh saya tau bang, pasti saat sebelum Isra Mi'raj kan? Ketika Rasulullah saw ditinggalkan oleh pamannya dan istrinya dalam waktu yang hampir berdekatan."
"Betul, itu satu yang kita sering tahu dan banyak dibahas. Bahkan fase tersebut sampai disebutkan sebagai tahun kesedihan untuk Rasulullah."
"Memangnya ada cerita yang lain bang?"
"Kamu tau ndak, Rasulullah pernah 'ditinggalkan' oleh wahyu selama kurang lebih 6 bulan lamanya."
Aku menggeleng kecil, lalu terdiam memperhatikan.
"Pernah ada 6 bulan dakwah Rasulullah, dimana waktu itu tidak turun sama sekali wahyu dari Allah. Rasulullah seringkali melihat langit, menunggu-nunggu apakah Jibril akan mengantarkan wahyu Allah kepadanya. Tapi apa daya, tak kunjung datang. Bahkan Rasulullah sampai diolok-olok oleh kafir Quraisy: 'Muhammad telah ditinggalkan Tuhannya!'"
"... kamu dari daerah kan ya?" lanjutnya tiba-tiba bertanya dengan topik lain.
"Iya bang, betul." Jawabku.
"Pasti sering kangen dong sama ibu?"
"Pasti bang.. Kalau saya sih ada rutinitas setiap sepekan sekali pasti nelepon ibu.."
"Memangnya kenapa bang?" Aku bertanya balik.
"Gimana kira-kira perasaan kamu kalau pada suatu pekan yang seharusnya kamu menelepon ibumu, tapi tiba-tiba beliau samasekali tidak merespon semua kontakmu? SMS, WA, Telepon, bahkan orang-orang sekitar rumahmu juga tidak ada yang menjawabmu."
Degg. Ya sedih lah. Pikiranku langsung melintas ke kampung, di balik sawah yang melintas panjang terbayang ada sebuah rumah sederhana yang di dalamnya ada ibu terduduk di ruang tamu. Tersenyum sambil menjahit baju. Ah, mudah sekali memang ingat dan rindu sama ibu.
"Hmm.. Pasti bingung dan sedih bang.."
"Apalagi kalau WAnya sudah centang biru, tapi ndak dibalas-balas, kan? Hehe"
"Iya bang, pasti lebih bingung kalau gitu.."
"Nah ini, Rasulullah 'dicuekin' sama Allah.. Dzat yang paling dicintainya lebih dari apapun di dunia.. 6 bulan, tanpa petunjuk apapun.. Kebayang gak gimana sedihnya?"
Aku terhentak. Betul juga. Memang mencerna sirah Nabi akan lebih powerfull ketika dibandingkan dengan kehidupan kita sehari-hari. Lebih empatik, dan lebih terasa akhirnya bagaimana sisi humanis dari Rasulullah saw.
"Tapi setelah 6 bulan 'masa ujian' itu, Allah berikan wahyu yang sangat luar biasa. Ibaratnya kamu sedang rindu-bingung-marah-sedih-campur aduk perasaan, ini obatnya luar biasa. Lebih dari kalimat motivator apapun di dunia ini. Tau surat apa yang pertama kali turun ketika itu?"
Aku terdiam bingung. Kira-kira surat apa ya?
"Kukuruyuuuk!" Terdengar suara ayam memanggil pagi, entah dari mana. Masjid ini memang dekat dengan perkampungan warga.
"Surah Ad-Dhuha." Jawab abangku seketika, sambil tertawa melihat wajah kebingunganku.
Seketika pikiranku langsung terbawa pada surah Ad-Dhuha. Coba mengingat-ingat lagi terjemahan dari surah ini. Duh, tak separuhnya aku ingat. Aku bingung kenapa surah ini jadi obat yang menyembuhkan rasa bingung campuraduknya Rasulullah saw ketika itu. "Apa sih yang spesial di waktu dhuha? Kalau abang sendiri pernah dapat sebuah pemaknaan visual waktu di masjid Nabawi. Disana langit dhuhanya luar biasa indah. Apalagi di awal-awal waktu dhuha, saat matahari mulai sepenggalan naik. Seakan bicara bahwa masa kegelapan sudah sirna, sekarang saatnya langit bercahaya." Masya Allah abang ini, sekarang dibawanya aku terhempas rindu ke masjidil haram. "Maka kalimat pertama surat cinta dari Allah untuk Rasulullah ini sangat-sangat romantis sekali, ya. Dan sangat sastrawi, level tinggi. Di titik ketika Rasulullah saw sedang galau-galaunya. Sedang sedih-sedihnya. Sedang 'gelap-gelapnya'. Allah menyapa dengan sebuah kalimat yang nyess. Demi waktu ketika matahari sepenggalan naik, kataNya. Seakan ingin menyampaikan kepada Rasulullah, ini saatnya menghimpun energi. Saatnya bangkit. Saatnya menghapus kebingungan, keraguan, kegalauan, kesedihan, gantikan dengan semangat yang menyala." Masya Allah, dalam sekali pemaknaannya. Betul. Memang Al-Qur'an adalah surat cinta paling romantis. "Salah satu permasalahan orang yang lagi galau, itu malamnya susah tidur. Sisi ini 'disentuh' juga oleh Allah dalam surat cintanya ini, 'dan demi malam apabila telah sunyi'. Seakan Allah ingin bilang, Dia tahu malam-malam penuh dengan keresahanmu itu. Bahwa ternyata di malam-malam itu kamu tidak sendirian. Romantis sekali, kan." "Lalu katanya, 'Tuhanmu tidak benci padamu Muhammad, dan tidak juga melupakanmu.' Menjawab semua keresahan hatinya Rasulullah saw. Ketika ibumu tidak menjawab teleponmu itu, pasti kamu bertanya-tanya apa yang terjadi pada ibumu? Apa kamu berbuat kesalahan besar sehingga bahkan ibumu sendiri tidak mau berkomunikasi denganmu? Nah disini dijawab langsung, tidak! Tuhanmu tidak benci padamu, tidak juga lupa padamu. Saya membayangkan, sampai di ayat ini saja pasti Rasulullah saw sudah terisak. Banjir air mata. Rindunya terjawab sudah. Dilanjutkan dengan janji 'dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada dunia ini.' Masya Allah, langsung berlimpah ruah jawaban Allah ini." "Habis itu dilanjutkan lagi, 'Dan kelak Tuhanmu akan segera memberikan karuniaNya kepadamu, lalu hatimu akan menjadi puas.' Ya Rabbi. Coba resapin kata-per-kata lalu hubungkan dengan suasana hati Rasulullah saat itu. Ini obat yang memang sangat ampuh buat orang-orang yang sedang depresi, sedang rendah diri, sedang galau. Indah dan powerfull sekali." "Ayat-ayat berikutnya, membuat Rasulullah seakan dibawa lagi jadi lebih yakin bahwa memang yang difirmankan Allah ini akan terjadi. Tidak hanya 'pelipur lara' saja. Apa kataNya?" "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?" "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk?" "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?" Aku terdiam. Lalu aku membayangkan Rasulullah SAW, disentuh masa lalunya oleh Allah swt dalam surah ini. "Kebayang gak? Seakan Allah ingin mengatakan bahwa, 'hai Muhammad, kamu sudah pernah melewati masa seperti ini, dahulu. Bahkan lebih parah! Dan bukankah di saat-saat seperti itu, Allah selalu ada?'" lanjut abangku itu. Aku terdiam lagi. Mengangguk-angguk sambil mencoba menerka rasa yang dimiliki Rasulullah saw saat itu. Nyess sekali. "Nah, coba hadirkan lagi suasana haru ini setiap shalat Dhuha. Setiap surah Dhuha tersebut dibacakan. Sambil tafakur alam, suasana dhuha adalah isyarat alam untuk langit hatimu." Nyess. Aku langsung teringat, ini sudah pukul 7 pagi. Aku belum shalat dhuha, niatnya mau langsung pulang. Tapi agaknya aku harus mengubah sedikit rencanaku, menghampiri tempat wudhu dan bersujud lagi pagi ini. "Abang bisa aja... Hehehe.. Makasih banyak ya bang inspirasi paginya.. Senang sekali waktu dhuha ini bisa ketemu abang.." Abangku itu tersenyum lalu berpamitan. "Sama-sama.. Semoga Allah jaga selalu ya.. Abang langsung pulang nih, insyaa Allah lain waktu ketemu lagi.. Assalamu'alaykum.." "Wa'alaykumussalam bang.. Fii amanillah.." Ah, aku jadi teringat kata almarhum kakekku. Kalau sedang galau dan bingung, coba shalat dhuha. Aku mendebat dalam hati, yang kutahu shalat dhuha itu untuk memancing rezeki. Rupanya jauh lebih dalam dari sekedar menambah rezeki duniawi saja. Kekayaan hati dan ketenangan jiwa, jauh lebih berharga dari harta apapun di dunia. ===== *Welcome back, Tumblr. Semoga diriku istiqamah melanjutkan ya, hehe.Cerpen ini terinspirasi dari silaturahim inspiratif Forum Muslim Angkatan FISIP UI lintas angkatan :) Dapat inspirasi luar biasa dari seorang senior di FISIP, bang Azzuri :)
Ini foto tadi, seru ya.. Pada bawa anak :D
ini dia syekhnya.. :D













