Stagnasi pendidikan masa pandemi yang semakin menjadi
Dua minggu lalu pada hari Minggu pagi saat rutinan Minggu pagi berjalan, tiba-tiba diri ini diminta oleh salah satu Ibu pengurus masjid “Mba kuliahnya udah selesai?” Akupun menjawab “Alhamdulillah iya Bu”, tiba-tiba Ibunya bilang “Alhamdulillah, Mba gerakin TPA lagi ya, seminggu sekali saja”. Akupun tiba-tiba nyeletuk “Inggih Bu” dalam hati bingung dan bimbang “Gimana ya masa pandemi gini takutnya orang tua sekitar tidak mendukung dan takut ada apa-apa”. Bismillah, mengajak teman-teman yang lain untuk saling menebar kebaikan mengajarkan huruf hijaiyah yang mungkin tidak semua orang tua dapat mengajarkannya. Pendidikan atau pengasuhan antara satu orang tua dengan orang tua yang lain berbeda. Sehingga ada kesenjangan antara satu anak dengan anak yang lain. Apalagi masa pandemi ini, semua proses pendidikan dilakukan secara daring. Dan tidak semua anak dapat mengakses pendidikan daring tersebut. Tidak semua anak mudah memahami materi secara daring. Secara tatap muka saja masih banyak miss pembelajaran antara guru dan anak didik. Apalagi di masa pandemi ini, anak lebih memiliki waktu yang bebas untuk lebih banyak bermain. Terlebih orang tua yang tidak memahami materi pendidikan anak karena mungkin pendidikan orang tua yang rendah. Seringkali menjadi hambatan anak untuk berkembang. Selain itu, tak jarang kita temui anak-anak masih bermain diluar dengan pengawasan orang tua yang kurang seperti protokol kesehatan dalam penggunaan masker dan pembiasaan cuci tangan. Sehingga disini juga menjadikan TPA sebagai media sosialisasi, mengingatkan untuk menggunakan masker dan sebelum serta setelah pembelajaran dan bermain untuk melakukan cuci tangan. Sangat dibutuhkan peran pemuda pemudi bangsa untuk bergerak membantu lingkungan sekitar, setidaknya mulai dari lingkungan kita sendiri dari keluarga, desa, dan lingkungan sekitarnya. Setidaknya berusaha untuk tidak menjadi kaum rebahan. Bukan bermaksud apapun atau merasa lebih baik, justru lebih banyak diluar sana pemuda pemudi bangsa yang terlebih dahulu terjun dalam lingkaran sosial yang lebih baik. Semua pemuda pemudi punya impian untuk membantu sekitar dan ikut memajukan bangsa. Semoga permulaan kebaikan dapat menjalar pada kebaikan-kebaikan berikutnya. Dan semoga dapat diistiqomahkan dalam menjalankannya. Minggu pertama 2-3 anak yang hadir, namun mereka kira belum jadi dimulai karena mba-mbanya datengnya lebih lama. Maafin kami ya dek. Alhamdulillah tak mengira bakal lebih banyak, 15 anak hadir untuk minggu berikutnya. Alhamdulillah dilingkungan kami tidak terdapat kasus. Semoga Allah selalu melindungi kami, tak lupa kami menggunakan protokol kesehatan dalam menjalankannya. Mengingat ayat Allah dalam surat Al-Hadid ayat 22 bahwa “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” Dan “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ar Ro’du: 39). Jumat, 25 September 2020













