Kemarin sore saya ngobrol sama temen perempuan. Dia lulusan Pertanian Unej (Jember) dan asal Madura. Temen saya cerita soal masyarakat yang ada di daerah asalnya, khususnya soal pendidikan. Konon dulunya dia bercita-cita sebagai guru, biar bisa mengajar sampai pelosok, katanya.
Dia cerita kalau di tempatnya masih ada anak lulus SD yang sudah dinikahkan orang tuanya, dan motifnya macam-macam. Tapi sebagian besar karena ingin segera melepas tanggung jawab orang tua untuk membiayai hidup anak perempuannya. Pas si anak perempuan ini sudah seusia SMA, biasanya sudah punya 3-4 anak.
Saya ngga bisa bayangin gimana kehidupan anak yang punyak anak. Dan saya juga bisa mengerti kenapa sebagian orang memilih untuk child free. Karena semua bisa memutuskan untuk punya anak, tapi mengasuhnya dengan benar urusan lain.
Teman saya juga cerita kalau sebenarnya ada beberapa tenaga pendidik yang memberi beasiswa alias sekolah gratis. Tapi tetap saja banyak yang belum mau melanjutkan sekolahnya dan lebih memilih menikah saja.
Oh, tentu saja nikahnya tidak tercatat di catatan sipil, kalaupun tercatat, biasanya kalau sudah seusia SMP mereka mengakali dengan mengganti tahun lahir.
Hal ini terus menerus terjadi sampai entah berapa turunan. Tapi yang jelas, semakin memperlebar gap pengetahuan/pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Lagi-lagi perempuan yang harus ketinggalan informasi, ketinggalan akses pendidikan, ketinggalan update teknologi, ketinggalan mengejar keterampilan, dan banyak lagi aspek lainnya.
Padahal, pendidikan bisa jadi alternatif untuk mengentas kemiskinan. Karena dengan pendidikan, kita bisa memperkaya pengetahuan dan keterampilan. Perempuan di kabupaten juga jadi bisa ikut pemberdayaan masyarakat, jadi bisa memulai usaha rumahan. Apa lagi di era pesatnya teknologi. Dengan kesempatan yang sama dengan laki-laki, perempuan di kabupaten harusnya bisa dapat akses dan mampu mengejar era digital untuk memgembangkan usahanya. Dengan begitu, bisa mengurangi masalah kemiskinan suatu daerah dan mengurangi pernikahan di bawah umur.
Oh, ya. Saya jadi ingat di suatu daerah yang katanya mau mengubah peraturan agar ASNnya bisa poligami yang tujuannya memelihara janda-janda. Ah, Pak. Kalau memang mau mengentas kemiskinan janda-janda, diberi pelatihan gratis dan modal untuk bisnis rumahan saja bisa. Ga perlu merubah peraturan padahal bapak aja yang nyari-nyari pembenaran di atas krisis yang terjadi.
Akhir kata, saya cuma bisa bilang, "Hadeehhh..."
Semoga kita, perempuan, bisa sebenar-benarnya merdeka dari segala penindasan🇮🇩
Ditulis tanggal 17 Agustus 2022
















