Mata Ketiga, Ketika Kehidupan Normal hanya Ilusi
Kalian pikir…. Gue (terlihat) hebat memiliki kemampuan ini?
Kalian pikir… Gue (terlihat) bahagia karena bisa melihat ‘mereka’?
Nggak sama sekali,
Pada awalnya…
Gue nggak terlalu inget sejak kapan gue bisa melihat. Tapi, yang gue inget sejak SD kadang-kadang mereka suka muncul meski gangguannya terbilang jarang. Ketika gue konsentrasi secara penuh, sosok-sosok itu muncul.
Salah satu kejadian yang paling gue inget adalah waktu gue masih duduk di bangku kelas 4 SD. Malam-malam kami sekeluarga pergi ke orang pintar, teman bokap gue. Karena mobil kami tiba-tiba nyala sendiri. Bokap sangat yakin ada sesuatu yang nggak beres di dalam mobil itu.
Setelah tiba di tempat itu, dengan menggunakan seorang mediator seekor jin berhasil ditangkap. Jin itu diiket kuat biar nggak berontak. Gue duduk bersila berjarak dua meter dari si mediator. Gue cuma memandang fenomena yang biasa cuma gue liat di TV dengan pandangan penuh kebencian.
Jin itu bercerita kalau dia disuruh untuk menempati mobil itu. Kami pun bernegosiasi suapa jin kampret ini nggak ngusik keluarga gue. Hingga akhirnya dia mau berjani.
Saat itu, gue lagi dalam keadaan marah. Gue cuma berpikir untuk ngiket dia sekenceng-kencengnya. Dengan menggerakan tangan gue seolah-olah sedang mengikat tali sepatu.
“Yaudah, sekarang kamu boleh pergi…” kata Mas Iwan (bukan nama sebenarnya).
“Tapi saya masih diiket nih…. Aduh, sakit….” Jawab jin itu sambil merintih.
“Loh, iketannya udah dilepask kok,” balas Mas Iwan.
Sontak seluruh orang di ruangan itu menatap gue heran. Tatapan mereka membuyarkan konsentrasi karena gue pun kaget. Pada saat itu, gue nggak nyangka—gue yang sama sekali nggak belajar apa-apa bisa ngiket jin sekenceng itu sampai kesakitan.
Guru SD gue yang juga kebetulan masih saudara Mas Iwan berusaha menenangkan gue dengan tepukan ringan di punggung. Sedangkan nyokap kebingungan. Dari sana, gue sedikit paham kalau gue bukanlah anak biasa.
Gue terlahir nggak normal, dengan kemampuan nggak normal juga…
Waktu pun berlalu, saat itu gue telah menginjak kelas 6 SD. Gue iseng memandang sisi belakang ruang kelas dan menemukan demit berwujud anak SD laki-laki duduk di bangu pojok sisi kiri ruang kelas.
Gue yang belum mengenal rasa takut pun berjalan ke belakang dan meraba udara sekitar sana. Ternyata emang ada, karena ada energi statis mengalir di jari-jemari yang gue arahkan.
Temen-temen lain yang entah bagaimana sadar kalau gue yang agak gak normal ini pun satu-satu bertanya, ada apa di sana. Gue cuma jawab, ada anak SD duduk di sini.
Pengalaman masa SD gue nggak banyak. Hanya itu aja… dan gue pun masih mengabaikan kemampuan itu.
Tapi, sepertinya aura gue berbeda dari orang lain. Sehingga saat gue menginjak bangku SMP, lagi-lagi gue harus dihadapkan dengan sesuatu yang sebetulnya gue nggak mau. Kali ini, bukan gue yang datang, tapi mereka.
Agustus 2004, tepatnya waktu gue duduk di bangku kelas 7 SMP di bilangan Pondok Cabe Ilir. Hari itu, gue nggak enak badan sehingga gue ijin ke UKS dan nggak ikutan Pramuka.
Dengan mata sedikit terbuka dan keadaan setengah sadar, gue melihat ke langit-langit. Namun, gue dikagetkan dengan salah satu wujud penampakan yang JELAS TERLIHAT dengan mata utama gue.
Seorang cowok, dengan poni depan sealis memakai seragam SMP biru-putih berdiri sambil tersenyum. “Richard????” tanya gue heran. Penampilannya mirip dengan cowok yang kebetulan sekelas dengan gue. Waktu itu, dia belum ternotis sebagai demit sama gue. Berhubung badan gue masih lemah, gue pun tiduran lagi.
Jam menunjukan pukul 1 siang. Temen-temen gue, Pipoy dan Tika masuk ke ruang UKS dan ngebangunin gue yang masih teler. “Woy Rei bangun! Ekskul woy!”
“Aduh bentar masih pusing….” Gue bangkit dari kasur dan liat mereka. “jam berapa sih sekarang?”
“Jam satu, kebo banget lu…” jawab Tika.
“Lo pura-pura sakit biar kagak pramuka, ya?” tanya Pipoy curiga.
“Eh anjir, gue beneran sakit!” jawab gue kesel.
Gue pun merhatiin baju anak-anak. Oh ya, hari ini kan pramuka. Seragamnya juga baju pramuka. Kok tadi yang gue liat pakai biru-putih, ya?
“Tadi pas gue tiduran, gue ngeliat cowok kayak Richard pake seragam biru-putih di sini…” jawab gue datar.
“Hah?” Tika kaget beneran.
“Cuy…. Kabur yuk….” Bisik Pipoy.
Kami semua langsung berhamburan ke luar karena takut. Tapi, ternyata pertemuan gue dengan sosok itu bukanlah untuk terakhir kalinya. Di sini gue sadar banget, kalau hidup gue semakin nggak waras. Karena setelah itu, masih ada pertemuan-pertemuan berikutnya.