Dilema Meliput
Baru-baru ini, EM (sebutan untuk BEM Universitas di tempatku) kembali jadi bahan perbincangan kampus. Dari yang aku amati, ada dua keputusan yang menyebabkan EM jadi sorotan mahasiswa Brawijaya. Pertama, ada nama seseorang yang tidak muncul dalam daftar Badan Pengurus Harian (BPH) tapi tiba-tiba muncul dalam rilis kabinet terbaru. Kedua, ada Dirjen dengan 'nama' baru, yaitu Dirjen Kebahagiaan Mahasiswa di dalam Kementerian Advokesma.
Bagi mereka (mahasiswa) yang tidak suka dengan kepengurusan EM tahun ini jelas berpikir yang macam-macam. Mulai dari tarik-ulur politik lah, mencari orang yang "segolongan" lah, sampai permainan untuk kepentingan golongannya sendiri. Barusan hanya asumsiku, walaupun aku berani bertaruh anggapan itu sudah menjangkiti sebagian besar mahasiswa.
Sebagai anggota LPM (Lembaga Pers Mahasiswa), jelas aku dan teman-temanku punya kewajiban untuk jadi kontrol sosial atas apa yang terjadi di kampus. Selain kebijakan dari rektorat, tentunya juga kebijakan 'nyeleneh' seperti yang dilakukan badan eksekutif tertinggi di universitas ini. Sayangnya, tim redaksi selalu berpikir tidak cukup dua kali untuk memutuskan meliput hal tersebut atau tidak. Kami tidak ingin upaya mengontrol dan mengkritik kebijakan tersebut malah membuat LPM kami disangkutpautkan dengan golongan tertentu.
Aku sendiri memiliki kencenderungan untuk meliput hal tersebut, apapun framingnya. Mau itu akan bias atau humas, aku rasa ada nilai berita yang besar di sana. Mahasiswa berhak tahu yang sebenarnya dan pihak EM memiliki wadah untuk mengklarifikasi kejadian itu. Lagipula, media mana sih (nasional atau kampus) yang dianggap netral 100%? Intinya kita menuliskan dan mengabarkan, itu saja.
Kebetulan, sebagian anggota LPM merupakan anak organisasi ekstra kampus, mulai dari yang warna Hijau, Merah, Kuning, Biru, dll. Warna-warna yang menjadi golongan oposisi terhadap golongan yang berkuasa saat ini, atau bisa dikategorikan sebagai warna 'Putih'. Sialnya lagi, anggota kami tidak ada yang berasal dari Putih, sehingga potensi sentimen terhadap LPM semakin terbuka lebar apabila kami meliput hal tersebut.
Walaupun secara tradisi, LPM kami memang sangat jarang memberitakan yang 'aneh-aneh' terhadap EM, kecuali soal demonstrasi mahasiswa. Kata senior, kita tidak usah campur tangan terhadap politik kampus. Akan ada kemungkinan tulisannya akan bias ke golongan tertentu. Betul juga sih, pikirku.
Meski begitu, seharian ini aku terus memutar otak agar tulisan yang mengkritik dan mengontrol EM tidak bias. Aku mencari framing peristiwa yang tepat supaya terkesan netral dan tidak 'humas'. Lumayan sulit. Aku belum berhasil menemukannya.
Kini waktu kami tinggal besok untuk memutuskan akan meliput atau tidak. Jika dirasa akan bias dan humas, aku yakin kami tidak akan mengangkat berita tersebut. Meskipun aku terus berusaha menghubungi pihak-pihak terkait untuk mendapat informasi yang sebenarnya. Berharap aku menemukan sesuatu yang menarik untuk dijadikan tulisan.
|| Malang, 27 Januari 2019











