Presentasi Kelompok di Kelas, Tepatkah?
Entah ini terjadi di semua kampus atau tidak, tetapi aku berasumsi ini terjadi hampir di semua kampus di Indonesia. Hal yang aku soroti adalah metode presentasi kelompok di kelas dengan cara membagi mahasiswa ke dalam beberapa kelompok lalu mengerjakan materi yang menjadi tanggung jawab kelompoknya.
Sekilas, tidak ada yang salah dengan cara pengajaran yang seperti ini. Hanya saja, pembiaran terhadap penerapan metode tersebut akan menciptakan implikasi yang tidak diinginkan terhadap peserta didik. Aku akan menjelaskannya karena aku merasakan ada hal yang tidak nyaman dari metode ini.
***
Metode dengan presentasi sudah umum digunakan pada tingkat SMA dan PTN. Pengajar hanya perlu mempersiapkan materi dan meringkasnya di dalam powerpoint untuk kemudian dijelaskan kepada anak didiknya. Cara seperti ini memudahkan pengajar memberikan materi secara runtut dan to the point.
Tak ayal cara seperti ini menuntun peserta didik pada kebiasaan mencatat apa yang ada di setiap slide powerpoint. Mungkin juga mereka tidak akan mencatat, jika pengajar berjanji akan memberikan file powerpoint itu ke anak didiknya. Pola pemikiran peserta didik pun akhirnya terbatas pada apa yang tampak di slide. Peserta didik seperti jadi malas untuk melakukan improvisasi terhadap wawasannya dengan mencari informasi tambahan.
Hal tersebut semata-mata dilakukan karena pengajar pada umumnya punya kebiasaan untuk memberikan kuis atau ujian sesuai dengan apa yang disampaikan saat kelas. Akan menjadi mimpi buruk bagi peserta didik, jika ternyata saat kuis atau ujian yang keluar tidak dari slide power point.
Untuk menciptakan kondisi di mana peserta didik turut aktif mencari informasi seputar pelajaran/mata kuliah, maka metode presentasi ini dikembangkan lebih lanjut. Pengajar akan dengan senang hati membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok untuk mempelajari satu materi. Selanjutnya, setiap kelompok disuruh presentasi atas apa yang telah kelompok mereka kerjakan.
Menurut hematku, metode seperti ini tidak sekadar menuntut peserta didik menjadi aktif di dalam kelas. Malahan aku berpikir metode tersebut bisa jadi merupakan strategi pengajar agar peserta didiknya “belajar satu, tapi paham”, bukan “belajar banyak, tapi tidak paham”.
Tuntutan kurikulum yang harus dikuasai mahasiswa membuat materi kian banyak. Katakanlah di Jurusan Ilmu Komunikasi, jurusanku saat ini, ada banyak sekali teori pada mata kuliah yang menekankan pada teori. Supaya tercapai tujuan peserta didik paham dengan teori-teori tersebut, maka dosen membagi mereka ke dalam beberapa kelompok. Dengan begitu, beberapa mahasiswa dalam satu kelompok ‘dipastikan’ paham dengan teori yang harus mereka pahami. Begitu juga dengan mahasiswa lain di kelompok lain.
Tugas berat pengajar untuk mencapai pemahaman peserta didik sedikit banyak terbantu dengan metode presentasi kelompok. Setidaknya ia bisa memetakan bahwa anak didiknya di kelompok ini paham dengan teori A, anak didiknya di kelompok satunya paham dengan materi B, dan seterusnya.
Tapi bukankah metode tersebut hanya membuat peserta didik paham dengan segelintir materi saja, padahal banyak yang harus dipahami?
Di sini lah menurutku, pengajar ‘berharap’ agar presentasi kelompok lain mampu menjelaskan dengan baik sehingga kelompok lain paham dengan materi atau teori di luar kelompoknya. Syukur-syukur jika presentasi kelompok semuanya bagus, sehingga beban pengajar berkurang. Di lain sisi, tugasnya untuk memastikan peserta didik memahami materi sedikit-sedikit tercapai. Kalaupun tidak, setidaknya ia sudah paham dengan materi atau teori yang didapatkan kelompoknya.
Sayangnya, metode ini tidak dikawal secara baik oleh pengajar. Seringkali yang terjadi adalah pembiaran terhadap presentasi kelompok. Padahal, sebagai manusia awam yang mempelajari hal baru, tidak serta merta kelompok tersebut paham dengan materi yang dibawakannya. Pun dengan cara presentasinya kepada kelompok lain yang jika tidak bagus. Malah jatuhnya membingungkan kelompok lain.
Pengajar seolah-olah merasa presentasi kelompok jadi tanggung jawab sepenuhnya peserta didik secara aktif untuk memahami dan memberi pemahaman kepada yang lain. Pengajar seolah tidak peduli sejauh mana mereka paham. Aku sendiri lumayan nyaman dan paham jika diberi tugas kelompok karena aku bisa menjamin diriku paham dengan satu teori/materi tertentu. Sayangnya, harapanku untuk paham teori/materi lainnya dari kelompok lain umumnya tak tercapai. Kurangnya penguasaan materi membuat presentasi mereka kadangkala malah membingungkan. Bukannya ada tindak lanjut dari dosen untuk menjelaskan kembali, materi mereka selesai begitu saja ketika sesi tanya jawab berakhir. Tiba-tiba dua minggu lagi UTS. Dan materi yang tidak aku pahami tadi menjadi pertanyaan maut di lembar ujian.
Memang tidak semua pengajar seperti ini. Pun tidak selalu aku merasakan hal seperti di atas. Tetapi alangkah baiknya jika metode presentasi kelompok dikawal oleh sang pengajar dengan tetap mengedepankan prinsip keaktifan peserta didik mencari informasi dan memahami materinya.
|| Malang, 25 Februari 2019











