Di sebuah lubuk sungai, ada seekor ikan yang masih kecil bernama Srinthil.
Dia sangat betah tinggal di lubuk sungai yang cukup dalam itu. Srinthil
sangat menyukai tempat itu dan enggan bermain atau pergi ke tempat-tempat
lain.
Suatu hari ada ikan salmon tersesat di lubuk tempat Srinthil tinggal. Ikan
salmon itu kesulitan untuk keluar dari lubuk yang cukup dalam itu. Melihat
ada salmon yang kebingungan, Srinthil datang menghampiri dan bertanya:
“Kamu siapa? Dan sedang apa di sini?”
“Aku salmon. Aku tersesat di lubuk ini. Aku dan teman-temanku sedang dalam
perjalanan ke hulu.”
“Hulu? Di mana itu? Kenapa kalian ingin ke sana?”
“Kamu ingin tahu? Hulu itu ada di ujung sungai ini. Di situlah tempat kami
dilahirkan. Setiap ikan salmon akan kembali ke tempatnya dilahirkan di
hulu.”
“Wah, selain tempat kami lahir, hulu itu tempat yang menyenangkan. Airnya
jernih dan banyak makanan. Banyak rumput-rumput yang bisa jadi tempat
bermain. Di sana suasananya sangat sejuk. Kamu akan betah kalau tinggal di
sana.”
Mendengar perkataan Salmon itu, Srinthil pun langsung tertarik. Dia tidak
pernah mendengar ada tempat yang lebih baik dari lubuknya tempat tinggal.
Srinthil membayangkan betapa nikmat dan menyenangkannya tinggal di sana.
“Bolehkah aku ikut ke sana?” tanya Srinthil.
Salmon mengiyakan permintaan Srinthil. Lalu Srinthil pun menuntun Salmon
agar bisa keluar dari lubuk yang dalam itu. Setelah berhasil keluar dari
lubuk, mereka pun langsung berenang menuju hulu. Tapi ternyata Srinthil
tidak sanggup bertahan lama. Tenaganya tidak sanggup untuk melawan arus
sungai. Baru berenang beberapa lama, Srinthil sudah kehabisan tenaga.
“Wah, sepertinya aku tidak sanggup meneruskan perjalanan. Tenagaku tidak
cukup untuk berenang melawan arus sungai,” kata Srinthil dengan kecewa.
“Jangan sedih. Kamu masih kecil. Nanti kalau sudah besar dan tenagamu juga
lebih kuat, kamu bisa menyusul pergi ke hulu. Aku akan menunggumu di sana,”
jawab Salmon.
Sejak itu, Srinthil jadi lebih rajin berenang. Dia terus berlatih agar bisa
berenang melawan arus supaya dapat pergi ke hulu yang diceritakan Salmon.
Tak lupa Srinthil juga banyak makan agar cepat besar.
Beberapa waktu kemudian, setelah menjadi Srinthil dewasa yang lebih besar
dan bertenaga lebih kuat, dia sekali lagi mencoba pergi ke hulu. Srinthil
perlahan tapi pasti bisa terus melaju. Sepanjang perjalanan, tak
henti-hentinya Srinthil menikmati pemandangan tempat-tempat yang
dilewatinya. Srinthil senang sekali ternyata banyak tempat-tempat yang
bagus yang belum pernah dilihatnya. Srinthil makin bersemangat dan
membayangkan betapa indahnya tempat hulu yang diceritakan Salmon.
Akan tetapi, baru setengah perjalanan, Srinthil juga sudah mulai kehabisan
tenaga. Arus sungai terasa makin deras. Tapi Srinthil tak mau menyerah. Dia
terus mencoba berenang, sekuat tenaga. Walau tenaganya hampir habis,
Srinthil tetap memaksakan diri untuk berenang. Sampai akhirnya, Srinthil
pingsan kehabisan tenaga. Tubuh Srinthil terombang-ombang dihanyutkan arus
sungai.
Ketika tersadar, Srinthil tidak tahu di mana dirinya berada. Tapi Srinthil
yakin tempat itu bukan hulu seperti yang diceritakan Salmon. Situasi dan
pemandangannya berbeda dengan yang diceritakan Salmon. Lagi pula, Srinthil
ingat, sebelum jatuh pingsan dirinya sudah dihanyutkan arus sungai.
Srinthil segera berenang-renang di tempat itu. Dia bertemu dengan ikan-ikan
baru yang baru dilihatnya. Ikan-ikan itu menyambut Srinthil dengan hangat.
Srinthil merasa senang dan segera melupakan hulu. Lagi pula, tempat itu
juga menyenangkan. Walau tidak seindah seperti hulu yang diceritakan
Salmon, tapi Srinthil masih bisa bermain dengan gembira karena banyak ikan
yang mau jadi temannya.
------------------------------------
*) Diceritakan pada pagi 23 Oktober 2012, setelah Daya mandi pagi :)