Seekor landak berjalan perlahan di tengah sebuah kebun yang sepi. Landak bernama Mas Marco ini melihat-lihat ke sekelilingnya. Tidak ada satu pun binatang yang terlihat. Dia merasa sangat kesepian. Sudah berhari-hari dia tak menemukan teman-temannya. Di kebun yang sepi itu, Mas Marco semakin merasa kesepian.
Saat sedang termenung di bawah pohon pisang, dia mendengar suara lompatan-lompatan kecil. Terlihat seekor marmut datang dari arah utara. Marmut itu melompat-lompat dengan riangnya. Bulu-bulunya berwarna putih bersih. Matanya bersinar-sinar.
Mas Marco berdiri dari posisi duduknya. Dia mengamati Marmut yang lucu dan menggemaskan itu. Marmut itu sepertinya belum menyadari kehadiran Mas Marco. Oleh karena itu Mas Marco tetap diam di posisinya. Dia tersenyum melihat tingkah lucu marmut putih yang sibuk mengais-ngais dan menyantap rumput hijau.
Landak Mas Marco tidak tahan untuk memanggil marmut itu. Walau sudah ditahan-tahan, akhirnya Mas Marco pun memanggilnya: "Hai.... Kamu lagi apa?"
Akhirnya marmut itu bisa melihat dari mana datangnya suara yang memanggilnya. Dia melihat seekor landak sedang berdiri di bawah pohon pisang. Marmut itu kaget melihat bentuk landak itu. Dalam hati dia berkata: "Oh ini toh yang namanya landak. Mengerikan duri-durinya."
Landak Mas Marco berjalan perlahan ke arah marmut. Tapi Mas Marco menghentikan langkahnya karena dia melihat marmut itu seperti melangkah mundur pelan-pelan. "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin bermain saja," sapa Mas Marco.
Marmut itu terdiam. Dia menghentikan langkah mundurnya itu. Marmut itu pernah diberi tahu ibunya kalau landak sebenarnya tidak jahat, hanya saja duri-durinya berbahaya.
Melihat tingkah marmut yang terlihat ragu-ragu, Mas Marco menyadari situasi yang terjadi. Landak yang sudah berhari-hari tidak bertemu temannya itu menghela nafas. Dia mendadak merasa sedih. Lagi-lagi dia merasa dicurigai dan ditakuti. Padahal dirinya tidak ingin berbuat jahat. Mas Marco memilih duduk. Jarak antara dirinya dan marmut sekitar 5 meter. Dalam posisi duduknya itu, Mas Marco berkata: "Percayalah, aku tidak akan melukaimu. Kamu jangan ketakutan, ya. Aku duduk di sini saja. Tidak dekat juga tidak apa-apa."
Marmut putih itu terdiam beberapa saat. Dia merasakan uluran persahabatan dari si landak, tapi sejujurnya marmut itu masih menyimpan ketakutan. Marmut lalu ikut-ikutan duduk. Keduanya saling berpandangan. Jarak mereka masih renggang.
"Nama kamu siapa?" tanya Mas Marco.
"Namaku Soendari," jawab si marmut.
Perlahan-lahan, Mas Marco dan Soendari pun mulai bisa berbicara dengan santai. Keduanya saling menceritakan asal-usul masing-masing. Kendati demikian, marmut Soendari tetap tidak berani mendekati Mas Marco. Begitu juga landak Mas Marco. Dia tahu diri.
Tapi persahabatan yang baru terjalin itu dirusak oleh kedatangan seekor anak macan. Mas Marco yang lebih dulu melihat kedatangan anak macan itu. Anak macan itu datang mengendap-ngendap, terlihat jelas ingin memangsa marmut Soendari. Secara refleks, Mas Marco melompat ke depan ke arah Soendari. Tentu saja Soendari kaget. Dia mendadak ketakutan karena saat Mas Marco melompat semua duri-duri di tubuh Mas Marco berdiri tegak.
"Awas, Soendari! Ada anak macan di belakangmu! Kamu minggir!" teriak Mas Marco sambil melompat ke arah Soendari.
Sayang sekali Soendari terlambat meminggirkan badannya. Saat berpapasan dengan Mas Marco, tubuh Soendari terlambat menyingkir sehingga sempat terserempet duri Mas Marco. Soendari pun mengaduh kesakitan. Tapi Mas Marco sama sekali tidak mendengar suara Soendari yang kesakitan. Mas Marco hanya ingin menghadang anak macan yang hendak menermak Soendari.
Kini jarak antara Mas Marco dan Soendari hanya tinggal 2 meter saja. Mas Marco berdiri dengan gagah. Semua duri di tubuhnya berdiri tegak seakan hendak menantang anak macan itu.
Si anak macan itu rupanya agak ketakutan juga. Maklum, tubuhnya juga belum terlalu besar. Tapi si anak macan itu tidak kehilangan akal. Dia mencoba menakut-nakuti si landak Mas Marco. Anak macan itu mencoba mengaum. Dia ingin menakut-nakuti landak Mas Marco. Tapi landak itu sama sekali tidak takut. Anak macan itu lalu mengais-ngaiskan kakinya ke tanah. Walau kuku-kukunya belum panjang, tetap saja terlihat jelas tanah yang dikais-kais itu tergurat jelas. Agak ngeri juga Mas Marco melihatnya. Dia berpikir kalau anak macan kukunya belum tajam, ternyata lumayan juga.
Melihat si landak agak kengerian, anak macan itu makin berani. Sambil mengaum, anak macan itu berkata: "Hai landak sok pemberani. Kau tahu siapa saya? Saya anak macan dari Hutan Fitna. Kamu tahu siapa ayah, paman dan kakek saya? Merekalah yang menguasai Hutan Fitna itu. Kamu pernah dengar kan julukan mereka? Trio Macan dari Hutan Fitna. Jadi kamu minggir saja."
Mas Marco pernah mendengar sepak terjang Trio Macan yang menguasai Hutan Fitna di seberang sungai. Tapi Mas Marco bertekad tetap bertahan. Dia tak kalah gertak. Mas Marco maju selangkah demi selangkah. Duri-duri di tubuhnya semakin terlihat jelas tegak menantang. Anak macan tidak kalah gentar. Dia pun maju selangkah demi selangkah. Lalu melompat menerjang. Saat hendak melabrak si landak, kaki anak macan itu tertusuk duri-duri Mas Marco. Anak macan itu merasakan sedikit perih. Dia menghentikan serangannya. Melihat landak itu tetap maju dan terlihat tidak gentar, anak macan itu mundur perlahan-lahan, lalu berbalik dan berlari.
Mas Marco merasa lega. Setelah merasa aman, duri-duri di tubuh Mas Marco pun perlahan-lahan mulai rebah. Mas Marco lalu teringat pada Soendari. Dia segera mencari Soendari. Mas Marco kaget melihat Soendari sedang memegangi punggungnya yang menetaskan darah. Kulit putih Soendari pun terlihat diwarnai bercak merah darah.
"Kamu kenapa Soendari?" tanya Mas Marco.
"Tadi waktu melompat duri kamu menusuk punggungku," jawab Soendari meringis kesakitan.
Mas Marco merasa sangat bersalah. Dia menunduk dan lalu terduduk diam. "Maafkan aku Soendari," tanya Mas Marco.
Saat itulah datang induk Soendari. Tubuhnya lebih besar dari Soendari walau bulu-bulunya sama putih. Induk Soendari langsung memeluk anaknya. "Kamu kenapa, nak? Kamu dilukai landak itu?" tanya induknya.
Mendengar kata-kata itu, Mas Marco hendak memberi penjelasan. Tapi belum sempat Mas Marco berbicara, induk itu menarik tubuh Soendari dan membawanya menjauh. Terdengar induknya berkata pada Soendari: "Kan sudah ibu bilang, hati-hati dengan landal. Durinya tajam. Ayo pulang saja."
Mas Marco menatap Soendari dan induknya. Dia merasa sedih sekali. Mas Marco melihat Soendari dan induknya semakin jauh. Soendari sempat melihat ke arah Mas Marco. Dia melambaikan tangan sebagai isyarat perpisahan.
"Aku tidak jahat. Soendari pasti mengerti. Benar kata ibu, landak memang selalu dijauhi. Tapi aku tidak menyesal. Ibu juga bilang, landak dijauhi karena binatang-binatang itu tidak mengerti siapa kami yang sebenarnya. Tapi Soendari pasti mengerti. Pasti," bisik Mas Marco dengan suara yang lirih.
---------------------------
* Belum sempat diceritakan pada Daya. Ditulis di Sidoarjo, saat jauh dari Daya dan simboknya.
Dua ekor tikus baru saja tinggal di sebuah rumah yang isinya penuh dengan karung. Sebelumnya dua ekor tikus itu tinggal di gorong-gorong di depan rumah itu.
Pada suatu siang, dua ekor tikus yang bernama Musil dan Erasmus itu dikagetkan oleh suara berisik dari banyak manusia yang berteriak-teriak. Saat mengintip dari sela gorong-gorong, mereka melihat manusia-manusia yang sedang sibuk. Baju mereka seragam dan mereka juga memakai ikat kepala yang seragam. Mereka satu per satu naik ke mobil yang bagian atasnya sudah dipasangi bendera.
"Hidup Partai Demokratos Karyaos Perjuanganos! Hidup Partai Demokratos Karyaos Perjuanganos! Hidup Partai Demokratos Karyaos Perjuanganos! Coblos nomer 90! Nomer 90 pilihanku! Kami partai bersih. Kami bukan tikus-tikus koruptor!"
Musil dan Erasmus saling berpandangan. Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan manusia-manusia yang mulutnya semuanya berbusa-busa itu. Dan, aih! Mereka lupa menutup pintu. Musil dan Erasmus saling berpandangan dan tanpa ada yang mengomando keduanya langsung melompat dari gorong-gorong dan segera masuk ke dalam rumah itu.
Musil yang memang lebih pemberani melompat ke salah satu karung itu dan langsung sibuk menggerogotinya. Musil menarik keluar salah satu isinya. Ternyata itu kaos. Musil menarik-narik ujung kaos itu sehingga terlihatlah bagian depannya. Erasmus melompat dan berteriak: "Itu seperti kita?"
Musil melihat-lihat gambar yang ada di kaos itu. Ternyata memang benar, kaos itu bergambar seekor tikus yang sedang menggerogoti setumpuk uang. "Tapi kenapa gambar kita diberi tanda silang berwarna merah, ya?" tanya Musil.
Sampai beberapa lama Musil dan Erasmus sibuk berdebat apa maksudnya ada gambar mereka di situ. Mereka juga kebingungan kenapa gambar mereka itu diberi tanda silang berwarna merah. Musil dan Erasmus sibuk menebak-nebak apa maksud yang sebenarnya.
"Aku tidak suka gambar kita ditanda silang begitu. Itu seperti membenci kita. Apa kamu tidak pernah lihat gambar anjing yang diberi tanda silang di bagian depan kompleks? Makanya anjing-anjing itu tidak bisa masuk. Kalau ada anjing, pasti langsung dipukuli!" teriak Erasmus.
"Jadi harus bagaimana?" tanya Musil.
"Kita rusak saja kaos itu," jawab Erasmus.
Lalu Musil dan Erasmus langsung menggerogoti kaos itu. Kaos itu langsung terkoyak-koyak dan berlubang. Dalam waktu singkat, kaos itu pun sudah tidak berbentuk lagi. Erasmus yang paling bersemangat. Dia berkeringat saking semangatnya.
Saat terdengar ada langkah kaki mendekat, keduanya buru-buru sembunyi ke balik-balik karung itu. Musil dan Erasmus melihat manusia yang baru datang itu langsung duduk-duduk di tumpukan karung.
"Siapa yang membongkar karung ini? Loh! Malah kaos partai ada yang sobek!" teriak salah satu dari mereka.
"Ini pasti ulah tikus. Sejak kapan di sini ada tikus?"
"Dasar tikus! Kaos pun mereka rusak. Pantas para koruptor sering disebut tikus."
"Hush! Jangan gitu. Ketua Umum kita masak tikus? Terus kita apa, dong?" tanya salah satu dari manusia itu.
"Ketua Umum sih bukan tikus. Dia gak memperkaya diri kok. Kan buat partai semuanya juga. Buat kita-kita juga."
Musil dan Erasmus mendengarkan percakapan manusia-manusia itu. Akhirnya mereka tahu kenapa ada gambar mereka di kaos tadi itu. Dengan berbisik, Erasmus berkata pada Musil: "Jadi kita disamakan dengan koruptor? Memangnya koruptor itu siapa sih?"
"Ssststtt... Makanya diam dulu. Kita dengar dulu," balas Musil.
Salah seorang dari manusia itu mengambil kaos yang baru saja dirusak oleh Musil dan Erasmus. Dia menginjak kaos itu dan memakainya untuk ngepel lantai yang kotor. Dia melakukan itu sambil berkata: "Kaos tikus koruptor mending dipakai buat ngepel saja."
Yang lain tertawa-tawa melihatnya. Salah satu manusia itu berkata: "Awas, ada foto Pak Ketua di kaos itu!"
Musil dan Erasmus baru berani keluar dari persembunyiannya setelah manusia-manusia itu pergi. Keduanya langsung berlompatan ke karung-karung itu. Mereka tidak lagi merasa kikuk untuk bermain-main di atas karung-karung itu. Mereka kencing, buang air, sampai meludah di karung-karung yang bertumpuk.
Musil berkata pada Erasmus: "Seenaknya mereka pasang gambar kita. Ayo kita gerogoti saja."
------------------------------------
* Belum sempat diceritakan pada Daya. Ditulis di Sidoarjo, saat jauh dari Daya dan simboknya.
Di tepi pantai sebuah teluk yang tenang, seekor tupai duduk di sebatang dahan yang menjulur ke laut. Matanya menerawang jauh ke tengah laut. Jauh di seberang teluk, samar-samar terlihat pulau yang rimbun oleh warna hijau yang pekat.
Tak ada yang diinginkan Kayam selain bisa menyeberang menuju pulau hijau yang rimbun itu. Kayam merasa di sanalah surga yang sebenarnya. Dibayangkannya pohon-pohon rindang yang lebat dengan buah-buahan. Makanan tak akan habis, udara sejuk yang berlimpah, air bening yang segar untuk diminum, juga dahan-dahan pohon yang nyaman untuk bermalas-malasan.
Kayam, nama tupai itu, tak bosan-bosannya memandang pulau di seberang teluk. Hari itu, Kayam sudah sejak pagi bertengger di dahan, dan menghabiskan waktu menatap hijau rimbun di kejauhan. Beberapa temannya sempat mengajak Kayam bermain-main, tapi Kayam menolak. Teman-teman Kayam riuh berlarian di batang-batang kayu yang tumbang di tepi pantai. Mereka tak habis-habisnya tertawa.
Hanya Kayam yang tidak tertawa. Kayam yang masih saja sendirian bertengger di dahan sebuah pohon yang menjorok ke laut.
Pernah sekali waktu Kayam berkata pada teman-temannya: “Kenapa harus selalu ikut acara-acara kalian?” Tapi Kayam malah menerima jawaban begini: “Kenapa harus main dan bikin acara sendirian?”
Pernah Kayam mencoba menyeberang dengan cara berenang. Tapi baru 10 meter dia berenang, air laut sudah membuat matanya perih. Riak-riak ombak kecil membuatnya harus menelan air laut. Kayam nyaris kehabisan nafas. Beruntung ada batok kelapa mengambang di dekatnya. Dengan susah payah Kayam menjangkau batok kelapa itu. Dia bertengger di atasnya dan angin laut pun berhasil membawa Kayam kembali ke pantai.
Kayam merasa dirinya ditertawakan oleh beberapa tupai lain yang tak sengaja melihat kejadian itu. Kayam sempat mendengar bagaimana Hatta, seekor tupai yang sangat disiplin dalam mencari makanan, mengatai dirinya: “Kalau mau jadi penyair, dia harusnya jadi manusia saja.”
Kayam tak tahu apa itu penyair. Gara-gara ucapan Hatta itu, Kayam berpikir kalau para penyair adalah para pemimpi seperti dirinya. Dan Kayam merasa itu ejekan yang menyakitkan.
Sejak itu Kayam menjauhi teman-temannya. Dari hari ke hari, Kayam semakin asyik mengasingkan diri di dahan yang sama, di dahan dari sebuah pohon yang menjorok ke laut.
Sampai suatu ketika, sebuah perahu tiba-tiba mendarat di pantai yang sepi itu. Sangat amat jarang ada perahu yang mendarat di situ. Kayam sudah lupa kapan terakhir melihat perahu. Perahu itu berukuran kecil, dikemudikan oleh seorang lelaki tua. Rupanya dia kehabisan air minum dan mendarat di pantai itu untuk mencari air kelapa.
Saat lelaki itu sedang memanjat pohon kelapa, Kayam mendapat ide untuk bersembunyi di perahu itu. Dia tidak tahu apakah perahu itu akan membawanya ke pulau impian di seberang teluk. Tapi tidak ada pilihan selain ikut menyeberang di perahu karena tak mungkin berenang sendirian.
Tanpa pikir panjang, Kayam melompat ke atas perahu itu. Dia bersembunyi di lubang kecil di dekat buritan. Ketika perahu itu kembali berlayar, Kayam memberanikan diri mengintip ke luar. Dipandangnya pulau tempat kelahirannya. Dilihatnya beberapa tupai lain melambaikan tangan ke arahnya. Ada sedikit perasaan sedih, tapi Kayam sudah memutuskan untuk pergi, untuk memenuhi impiannya.
Kayam tidak tahu berapa lama perahu itu berlayar. Dia sudah tertidur beberapa kali, tapi perahu itu masih saja berada di laut. Saat hari hampir gelap, Kayam mendengar suara hiruk pikuk. Dia mengintip ke luar. Dilihatnya pemandangan yang tak pernah dia saksikan: puluhan perahu berderet di pantai, di darat terlihat warung-warung berhimpitan, manusia berlalu-lalang. Suasana ribut, jauh dari tenang dan tenteram.
Kayam menoleh ke arah laut. Di seberang teluk, ia melihat pulau yang hijau dan rimbun, seperti pulau yang selama ini diimpikannya. Dia tak percaya. Kayam menatap lekat-lekat pulau hijau rimbun di seberang sana. Dia tercekat dan terpukul begitu menyadari pulau yang rimbun dan hijau itu adalah pulau kelahirannya, pulau yang baru saja dia tinggalkan. Dan pantai yang riuh, ramai, berisik dan sumpek adalah pulau yang selama ini diimpikannya.
Lalu tiba-tiba perahu itu oleng. Kayam segera melompat ke luar. Rupanya perahu kecil itu sengaja dimiringkan untuk membuang air laut yang masuk ke dalamnya. Kayam langsung lari terbirit-birit. Dia segera berlari dan lantas memanjat sebatang pohon kelapa. Sesampainya di atas, Kayam tak menemukan satu pun buah kelapa. Semuanya sudah habis diambil. Hanya ada buah kelapa yang masih sangat kecil.
Kayam sekali lagi memandang ke seberang, ke pulau kelahirannya. Matanya berkaca-kaca. Perutnya mulai keroncongan, dan Kayam tak tahu harus mencari makanan di mana.
Dia mau menangis, tapi ditahannya air matanya. Kayam merasa tak ada gunanya menangis. Saat ini, dia harus mencari cara agar bisa menemukan makanan.
Kayam menunggu malam benar-benar gelap. Setelah itu, Kayam perlahan turun dari pohon kelapa itu. Dengan langkah berhati-hati, dia menyusuri pantai. Dia mengais-ngais segala macam benda yang dibawa air laut ke pantai itu. Tetap saja tak ada makanan. Kayam sudah merasa lemas. Badannya sangat lelah. Saat itulah tanpa sengaja Kayam menemukan sebutir kelapa yang masih utuh. Segera ia mengerati kelapa itu, meminum airnya, dan menggerogoti daging kelapanya.
Setelah habis, Kayam merasa tenaganya kembali pulih. Rasa kantuk menyerangnya. Segera dia mencari memanjat sebatang pohon kelapa. Sembari bersandar di salah satu dahannya, Kayam kembali memandang ke arah teluk. Pulau kelahirannya tak terlihat, hanya ada gelap, pekat.
Kayam mencoba memejamkan matanya. Tapi gagal. Matanya terus menyala. Di langit, terlihat bintang-bintang bercahaya dan bergemerlapan dengan indah.
"Aku tidak akan bermimpi untuk bisa tinggal di bintang-bintang yang indah itu," bisik Kayam dalam hati.
Karena sangat lelah, Kayam akhirnya tertidur pulas. Dalam tidurnya, dia bermimpi didatangi bintang-bintang yang mengajaknya bermain di angkasa yang sangat luas.
Paginya, Kayam terbangun oleh hiruk-pikuk di bawah. Pasar dekat pantai sudah ramai. Manusia berlalu-lalang. Dari kejauhan, Kayam melihat tikus-tikus menyelinap di antara tong sampah, mencari remah-remah makanan. Kayam menggeliat sebentar. Matanya masih sedikit mengantuk. Tapi perutnya mulai lapar. Dipandangnya sekali lagi tikus-tikus yang sibuk mencari makanan di antara tumpukan sampah.
Kayam teringat mimpinya semalam. Dia tersenyum mengingat bintang-bintang bercahaya indah yang mengajaknya bermain di angkasa.
------------------------------
* Ditulis di Pantai Liang, pantai yang berada di timur laut Pulau Ambon.
Di sebuah lubang pohon yang rindang, tinggal seekor tupai betina bersama dua anaknya yang masih kecil. Anak pertamanya bernama Chairil, anak kedua bernama Anwar. Dua anak itu belum bisa mencari makan sendiri, sehingga masih harus diasuh dan dijaga induknya.
Pada suatu hari, stok persediaan makanan sudah habis. Sudah beberapa hari induk tupai itu tidak mencari makanan. Situasi sedang tidak aman. Banyak sekali burung-burung elang berkeliaran mencari mangsa. Induk tupai itu mengkhawatirkan keselamatan dua anaknya jika dia harus pergi mencari makanan.
Tetapi karena persediaan makanan sudah habis, mau tidak mau induk tupai itu harus pergi berburu. Sebelum pergi, dia menasehati dua anaknya untuk tidak meninggalkan sarang. Kepada Chairil yang lebih tua, induk tupai itu berpesan agar menjaga adiknya jangan sampai berkeliaran.
Maka tinggal chairil dan adiknya Anwar di sarang itu. Mereka tidak berani pergi ke mana-mana. Keduanya hanya terdiam di pojok sarangnya. Beruntung induknya sempat meninggalkan sisa-sisa makanan, sehingga Chairil dan Anwar tetap bisa makan.
Sambil menunggu induknya pulang, Chairil dan Anwar menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran. Saat sedang tertidur pulas, tiba-tiba terdengar suara: “Kresek… Kresek… Kresek….”
Sementara suara-suara “kresek kresek” itu tidak juga berhenti, malah semakin kencang. Anwar semakin ketakutan. Dia menangis tersedu-sedu. Chairil coba menenangkan adiknya.
"Sudah, sudah, jangan menangis. Ada kakak di sini," kata Chairil. Tapi Anwar tetap terisak. Dia ketakutan, badannya gemetar.
"Itu pasti burung elang yang mau memakan kita. Aku takut, Kak!" kata Anwar.
"Belum tentu itu Si Elang, jangan berpikir yang tidak-tidak," jawab Chairil. Padahal, Chairil sendiri ketakutan. Dia sendiri tidak berani. Biar bagaimana pun, Chairil hanya seekor anak tupai yang juga masih kecil. Hanya saja, sebagai kakak dia harus melindungi adiknya.
Kian lama, suara itu makin keras. Suaranya bahkan jadi semakin ramai. Chairil dan Anwar semakin ketakutan. Keduanya saling berangkulan di pojok sarang. Suara Anwar semakin keras menangis. Chairil mencoba menenangkan, tapi Anwar terus saja menangis.
"Jangan menangis. Nanti elang-elang itu mendengar," kata Chairil coba membujuk.
Mendengar ucapan Chairil itu, tangis Anwar malah makin keras. “Tuh, kan, benar di luar itu burung elang yang mau memangsa kita,” rengek Anwar sambil terus menangis.
Chairil semakin kebingungan. Di satu sisi dia sendiri tidak tahu suara ribut di luar itu burung elang atau bukan. Sejujurnya dia juga ketakutan. Di sisi lain, dia harus menenangkan adiknya.
Akhirnya, Chairil memberanikan diri bergerak ke luar untuk mengintip keadaan. Sambil mengendap-ngendap, Chairil terus mendekati pintu sarangnya. Sesampainya di sana, Chairil pelan-pelan mengintip. Tiba-tiba Chairil berteriak: “Pergi kalian semua!”
Anwar kaget dan ketakutan mendengar teriakan tiba-tiba Chairil. Dia tidak menyangka abangnya berani mengusir elang. Tapi ternyata, setelah pintu sarangnya dibuka, terlihat tidak ada burung elang, hanya beberapa ekor burung pipit yang sedang sibuk mematuki semut-semut di dahan.
Keduanya lega bukan main. Saat itulah induk tupai itu datang membawa makanan. Chairil dan Anwar menyambutnya dengan senang. Selain mereka bisa makan, mereka juga senang karena induknya pasti akan menjaga mereka.
Sambil menyantap makanan, Chairil menceritakan peristiwa barusan. Induknya tertawa terbahak-bahak. Sambil memeluk Chairil dan Anwar, induk tupai itu berkata: “Jangan takut oleh sesuatu yang belum pasti.”
——————————
*) Diceritakan pada malam takbiran Idul Adha, 25 Oktober 2012.
Suasana di hutan Macondo mulai resah. Binatang-binatang mulai ketakutan melihat ulah Si Raja Hutan yang sewenang-wenang. Sudah 1 bulan terakhir ini Si Raja Hutan lebih rakus dari biasanya. Biasanya dia hanya memakan 1 ekor binatang sehari, belakangan dia bahkan memakan 5 ekor binatang per hari. Jika Si Raja Hutan tetap rakus, maka binatang-binatang di hutan Macondo akan habis dengan cepat.
Binatang-binatang yang mulai ketakutan itu akhirnya berkumpul di tengah hutan. Hampir semua binatang hadir. Dari mulai sapi, kerbau, banteng, kambing, ular, musang, kelinci, rusa sampai monyet. Mereka sibuk mencari akal bagaimana menghentikan kebuasan Si Raja Hutan.
“Kalau tidak menemukan jalan keluar, kita akan musnah. Binatang yang dimakan Si Raja Hutan lebih banyak dari anak-anak yang kita lahirkan,” kata sapi memulai pembicaraan.
“Betul. Dalam seminggu ini saja, sudah 10 kawan kami yang dimakan Si Raja Hutan,” balas kambing dengan wajah yang resah.
“Lalu kita harus bagaimana?” tanya rusa. “Sedangkan tidak mungkin kita melawan Si Raja Hutan. Siapa yang bisa berkelahi melawan dia?”
Semua terdiam. Tidak ada yang berkata-kata.
Semua binatang itu menoleh ke arah datangnya suara. Tampak seekor ayam jantan sedang berdiri di atas batu. Ayam jantan itu terlihat berani. Akan tetapi, dia terlihat kecil. Badannya tidak terlalu besar, bahkan terlihat agak kurus. Bulu-bulunya juga acak-acakan. Tapi matanya terlihat tegas sekali.
Monyet yang sedari tadi diam langsung mengoceh: “Kamu siapa? Berani sekali kamu mau menghadapi Si Raja Hutan?”
“Aku Wiji Thukul, ayam jantan dari pinggir hutan. Kawan-kawanku juga sama seperti kalian. Mereka juga ketakutan. Sudah 12 kawan kami mati dimakan Si Raja Hutan,” jawabnya.
“Memangnya kamu bisa mengalahkan Si Raja Hutan?” tanya musang.
“Aku tidak tahu. Badanku kecil. Tajiku juga tidak terlalu tajam. Tapi harus bagaimana lagi? Sampai kapan kita semua berdiam diri?” jawab ayam jantan itu.
“Kamu yakin?” tanya banteng.
“Aku terpaksa melakukan ini. Daripada tidak ada yang berani? Aku akan memberanikan diri. Kalian tunggu saja di sini, aku akan segera berangkat menghadap Si Raja Hutan. Siapa tahu aku bisa membawa kabar bagus,” jawabnya pelan.
Binatang-binatang lain terpaku melihat ayam jantan Wiji Thukul itu pergi. Mereka tidak yakin ayam jantan itu bisa mengalahkan Si Raja Hutan. Tapi, diam-diam, mereka mendoakan semoga dia bisa selamat dan membawa kabar bagus.
Sore harinya, Wiji Thukul kembali lagi. Binatang-binatang itu terkejut melihat ayam jantan itu bisa kembali. Terlihat badannya luka-luka. Mata kirinya terlihat berdarah. Bulu-bulunya juga banyak yang rontok. Dia terlihat sangat capek.
“Ceritakan apa yang terjadi,” pinta ular.
“Aku menghadap Si Raja Hutan. Dia sedang menyantap seekor domba. Aku bilang padanya agar jangan terlalu rakus. Dia marah. Dia menerjangku. Untung aku sudah siap. Aku langsung melompat ke pinggir sambil menendang perutnya dengan tajiku. Rupanya tajiku bisa melukainya. Dia tambah marah dan terus menyerangku. Lama-lama aku terdesak. Aku segera kabur saja. Untung ada semak-semak, aku bisa sembunyi di situ,” cerita ayam jantan itu.
“Tuh, kan, apa aku bilang. Mustahil bisa melawan Si Raja Hutan,” oceh monyet dari atas pohon.
“Tapi aku masih selamat. Aku akan mencoba lagi besok. Aku akan beristirahat sebentar. Besok pagi aku akan berangkat lagi,” jawab ayam jantan itu. Dia lalu duduk dan beristirahat sambil tidur. Sementara binatang-binatang lain saling berbisik. Mereka malu pada ayam jantan kurus yang sangat berani itu.
Esok pagi, ayam jantan itu kembali berangkat. Binatang-binatang lainnya melepas kepergiannya. Sebelum pergi, dia berpesan: “Aku akan mencoba menghadap.
Si Raja Hutan. Mudah-mudahan aku bisa membawa kabar baik. Jika aku tidak kembali, tolong sampaikan pada keluargaku bahwa aku sudah berusaha dan mereka juga harus berani dan jangan takut.”
Sampai sore ternyata ayam jantan itu tidak kembali. Binatang-binatang itu mulai gelisah.
Mereka mengutus si ular untuk mengintip tempat Si Raja Hutan. Setelah mengintip, si ular berkata bahwa dia melihat Si Raja Hutan sedang tidur, tapi tidak melihat ayam jantan itu. Hanya ada bekas-bekas perkelahian saja, tapi tidak kelihatan di mana ayam jantan itu.
“Ke mana ya ajam jantan pemberani itu?” tanya sapi.
“Mungkin dia sudah dimakan. Entahlah. Tapi tidak ada bekasnya. Bulu-bulunya juga tidak terlihat,” lapor si ular.
Si banteng yang dari tadi terlihat duduk tiba-tiba bangkit. Dia berkata: “Aku malu pada ayam jantan itu. Badan dia kecil, tapi dia berani. Sedangkan aku yang berbadan besar begini hanya diam saja.”
“Apa yang akan kamu lakukan, wahai banteng?” tanya monyet.
“Tidak tahu. Tapi yang pasti, aku tidak bisa diam saja. Kalian juga tidak bisa diam saja,” jawab si banteng.
Semua binatang terdiam mendengar kata-kata banteng. Mereka mulai berpikir bahwa tidak ada gunanya diam saja. Jika hanya diam, satu per satu dari mereka juga pasti akan dimakan Si Raja Hutan. Malam itu juga mereka memanggil semua binatang lainnya. Semua dikumpulkan. Ada ratusan binatang berkumpul. Di bawah komando banteng, mereka akan menghadapi Si Raja Hutan besok pagi.
*) Diceritakan sore hari 24 Oktober 2012. Daya tertidur sebelum cerita ini selesai dikisahkan.
Di sebuah lubuk sungai, ada seekor ikan yang masih kecil bernama Srinthil.
Dia sangat betah tinggal di lubuk sungai yang cukup dalam itu. Srinthil
sangat menyukai tempat itu dan enggan bermain atau pergi ke tempat-tempat
lain.
Suatu hari ada ikan salmon tersesat di lubuk tempat Srinthil tinggal. Ikan
salmon itu kesulitan untuk keluar dari lubuk yang cukup dalam itu. Melihat
ada salmon yang kebingungan, Srinthil datang menghampiri dan bertanya:
“Kamu siapa? Dan sedang apa di sini?”
“Aku salmon. Aku tersesat di lubuk ini. Aku dan teman-temanku sedang dalam
perjalanan ke hulu.”
“Hulu? Di mana itu? Kenapa kalian ingin ke sana?”
“Kamu ingin tahu? Hulu itu ada di ujung sungai ini. Di situlah tempat kami
dilahirkan. Setiap ikan salmon akan kembali ke tempatnya dilahirkan di
hulu.”
“Wah, selain tempat kami lahir, hulu itu tempat yang menyenangkan. Airnya
jernih dan banyak makanan. Banyak rumput-rumput yang bisa jadi tempat
bermain. Di sana suasananya sangat sejuk. Kamu akan betah kalau tinggal di
sana.”
Mendengar perkataan Salmon itu, Srinthil pun langsung tertarik. Dia tidak
pernah mendengar ada tempat yang lebih baik dari lubuknya tempat tinggal.
Srinthil membayangkan betapa nikmat dan menyenangkannya tinggal di sana.
“Bolehkah aku ikut ke sana?” tanya Srinthil.
Salmon mengiyakan permintaan Srinthil. Lalu Srinthil pun menuntun Salmon
agar bisa keluar dari lubuk yang dalam itu. Setelah berhasil keluar dari
lubuk, mereka pun langsung berenang menuju hulu. Tapi ternyata Srinthil
tidak sanggup bertahan lama. Tenaganya tidak sanggup untuk melawan arus
sungai. Baru berenang beberapa lama, Srinthil sudah kehabisan tenaga.
“Wah, sepertinya aku tidak sanggup meneruskan perjalanan. Tenagaku tidak
cukup untuk berenang melawan arus sungai,” kata Srinthil dengan kecewa.
“Jangan sedih. Kamu masih kecil. Nanti kalau sudah besar dan tenagamu juga
lebih kuat, kamu bisa menyusul pergi ke hulu. Aku akan menunggumu di sana,”
jawab Salmon.
Sejak itu, Srinthil jadi lebih rajin berenang. Dia terus berlatih agar bisa
berenang melawan arus supaya dapat pergi ke hulu yang diceritakan Salmon.
Tak lupa Srinthil juga banyak makan agar cepat besar.
Beberapa waktu kemudian, setelah menjadi Srinthil dewasa yang lebih besar
dan bertenaga lebih kuat, dia sekali lagi mencoba pergi ke hulu. Srinthil
perlahan tapi pasti bisa terus melaju. Sepanjang perjalanan, tak
henti-hentinya Srinthil menikmati pemandangan tempat-tempat yang
dilewatinya. Srinthil senang sekali ternyata banyak tempat-tempat yang
bagus yang belum pernah dilihatnya. Srinthil makin bersemangat dan
membayangkan betapa indahnya tempat hulu yang diceritakan Salmon.
Akan tetapi, baru setengah perjalanan, Srinthil juga sudah mulai kehabisan
tenaga. Arus sungai terasa makin deras. Tapi Srinthil tak mau menyerah. Dia
terus mencoba berenang, sekuat tenaga. Walau tenaganya hampir habis,
Srinthil tetap memaksakan diri untuk berenang. Sampai akhirnya, Srinthil
pingsan kehabisan tenaga. Tubuh Srinthil terombang-ombang dihanyutkan arus
sungai.
Ketika tersadar, Srinthil tidak tahu di mana dirinya berada. Tapi Srinthil
yakin tempat itu bukan hulu seperti yang diceritakan Salmon. Situasi dan
pemandangannya berbeda dengan yang diceritakan Salmon. Lagi pula, Srinthil
ingat, sebelum jatuh pingsan dirinya sudah dihanyutkan arus sungai.
Srinthil segera berenang-renang di tempat itu. Dia bertemu dengan ikan-ikan
baru yang baru dilihatnya. Ikan-ikan itu menyambut Srinthil dengan hangat.
Srinthil merasa senang dan segera melupakan hulu. Lagi pula, tempat itu
juga menyenangkan. Walau tidak seindah seperti hulu yang diceritakan
Salmon, tapi Srinthil masih bisa bermain dengan gembira karena banyak ikan
yang mau jadi temannya.
------------------------------------
*) Diceritakan pada pagi 23 Oktober 2012, setelah Daya mandi pagi :)
Pada suatu hari, di hutan Macondo, seekor burung hantu yang masih muda terlambat pulang ke sarangnya. Matahari sudah muncul dan langit sudah benar-benar terang. Cahaya matahari bersinar benderang. Karena burung hantu adalah mahluk malam, dia kesulitan terbang siang hari, matanya silau jika bertemu cahaya matahari yang terang benderang.
Burung hantu bernama Minke ini beberapa kali menabrak pohon. Dia kadang tersangkut dahan-dahan. Badannya mulai luka-luka karena berkali-kali menabrak pohon. Minke menyesal tidak menuruti kata-kata simbok yang sudah memanggilnya pulang. Dia mulai ketakutan. Beberapa hari yang lalu, Minke mendengar cerita sedih tentang burung hantu yang tidak bisa pulang karena terlambat kembali ke sarang.
Saat itulah Minke berpapasan dengan seekor kutilang cerewet bernama Rasus. Tanpa sengaja Minke nyaris menabrak Rasus. Tentu saja Rasus marah-marah.
“Hey, burung hantu! Matamu ditaruh di mana?” teriak Rasus.
“Mataku tidak ke mana-mana. Tapi aku terlambat pulang. Aku susah melihat kalau siang hari,” jawab Minke.
“Iya, aku tidak menuruti kata-kata simbok tadi.” “Sarang kamu di mana?”
“Di sana, di dekat sungai, di pohon randu yang miring ke arah sungai.”
“Oh aku tahu. Ya sudah, ayo aku antar kamu pulang.”
Akhirnya, dengan di antar oleh Rasus, maka Minke berhasil kembali ke sarangnya dengan selamat. Minke sangat berterimakasih pada Rasus. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak diantar Rasus. Apalagi sekarang adalah musim berburu-buru. Banyak mahluk-mahluk rakus dari Negeri Golkar yang suka menangkap binatang.
“Terimakasih, ya. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas budi pada kamu,” kata Minke.
“Biasa sajalah. Itu pertolongan biasa saja. Jangan repot-repot,” jawab Rasus.
“Nggak bisa begitu. Kamu benar-benar penolongku. Tanpa pertolonganmu, mungkin aku sudah ditangkap orang-orang rakus dari Negeri Golkar.”
“Terserah kamu sajalah,” kata Rasus dengan santai.
“Kalau begitu, nanti sore kamu ke sini ya. Sebelum malam benar-benar gelap, aku akan membawakanmu makanan.”
“Wah, boleh juga, tuh. Aku suka makan. Senang juga kalau sebelum tidur bisa makan-makan dulu.”
Begitulah, sejak itu, kutilang Rasus dan burung hantu Minke selalu bertemu menjelang malam. Saat cahaya matahari sudah hampir hilang, Minke dengan cepat terbang mencari makanan. Setelah itu, makanan itu diberikannya pada Rasus. Mereka selalu bertemu di saat-saat menjelang malam. Tapi tidak lama, mungkin hanya sekitar 10 menit saja.
Selain memberi makanan pada Rasus, mereka juga sering bercakap-cakap. Membicarakan apa saja. Dari mulai kabar dari kelompok kutilang dan kelompok burung hantu, sampai membicarakan kerakusan orang-orang dari Negeri Golkar.
Suatu ketika, Rasus tidak muncul mengambil makanan. Minke kebingungan, padahal dia sudah menyiapkan makan malam untuk Rasus. Sampai hari benar-benar gelap, Rasus tak kunjung muncul. Esok harinya, Rasus juga tidak muncul. Minke makin kebingungan. Hari ketiga, keempat, kelima dan seterusnya Rasus tidak juga muncul.
Minke merasa sedih. Dia merasa hutang budinya belum lunas. Lagi pula, Rasus sudah dianggapnya sebagai teman. Dia kehilangan teman baiknya. “Ke mana ya, Rasus?” bisik Minke dalam hati.
Dia mencari kabar, tapi tidak ada kabar tentang Rasus. “Apakah Rasus ditangkap dan diculik para pemburu rakus dari Negeri Golkar, ya?”
Sejak itu, hampir tiap malam, Minke selalu memanggil-manggil Rasus. Di hutan Macondo, suara Minke memanggil-manggil Rasus selalu terdengar tiap malam. “Bueeekkkk… Bueeeekkkk… Bueeekkkkk….”
-------------------------
*) Diceritakan pada pagi 22 Oktober 2012. Tampaknya Daya senang dengan cerita ini. Sepanjang cerita, dia terdiam dan akhirnya tertidur pulas.
Pada suatu hari, dua ekor badak berjalan dari arah yang berbeda. Dari arah utara badak bernama Setadewa berjalan dengan santai menuju selatan. Dari arah selatan badak bernama Trunodongso berjalan menuju utara.
Keduanya berjalan dengan sangat gagah. Setadewa dengan santainya berjalan sambil menaikkan culanya tinggi-tinggi, begitu juga Trunodongso tidak mau kalah. Setadewa dan Trunodongso saling menatap dari kejauhan. Satu sama lain tidak ingin kalah gaya. Mereka berjalan sampai jarak mereka sudah saling mendekat.
Setadewa dan Trunodongso lalu berhenti berjalan. Mereka bertemu di sebuah lokasi di mana jalannya ternyata mengecil. Di tempat itu, jalan hanya bisa dilewati oleh salah satu di antara mereka berdua.
Harus ada yang mengalah. Jika Setadewa dan Trunodongso sama-sama nekat tetap melewati jalan itu bersamaan, mereka akan saling bertabrakan. Jika saling bertabrakan, Setadewa dan Trunodongso akan terguling ke jurang di sisi kanan dan kiri jalan.
Baik Trunodongso dan Setadewa terdiam sementara. Sepertinya mereka sedang berpikir. Lalu Setadewa melangkahkan kaki bergerak maju. Dia masuk ke jalan yang kecil dan sempit itu. Melihat Setadewa bergerak maju, Trunodongso tidak mau kalah. Dia juga bergerak maju memasuki jalan yang kecil dan sempit itu.
Lalu mulailah pertarungan itu. Keduanya saling bertarung dan menyeruduk. Akibatnya, dua badak itu sama-sama terguling ke jurang. Untung dasar jurang itu adalah kubangan lumpur. Sehingga dua badak itu tidak terluka parah.
Jurang itu tidak terlalu luas. Hanya seluas lapangan sepakbola. Dan di sekeliling jurang itu hanya ada tebing-tebing sehingga mereka tidak bisa ke mana-mana. Tapi di sana banyak sekali tumbuhan dan makanan. Akhirnya mereka terpaksa tinggal di dasar jurang itu. Dan di sana tidak ada siapa-siapa. Hanya ada Setadewa dan Trunodongso.
Awalnya, dua badak itu masih saling bermusuhan. Tidak mau saling menyapa dan bicara. Lama-lama, dua badak itu bosan karena tidak ada siapa-siapa lagi. Trunodongso dan Setadewa mulai kesepian. Tidak ada alasan lagi bagi dua badak itu untuk saling berkelahi.
Mau tidak mau mereka harus berteman, karena hanya mereka berdua di dasar jurang itu.
Di hutan Macondo, ada dua ekor harimau yang selalu bertengkar. Satu sama lain merasa dirinya yang paling gagah, paling hebat dan paling perkasa. Hampir tiap hari keduanya bertengkar. Keduanya tidak ada yang mau mengalah karena siapa yang lebih unggul akan menjadi pemimpin para harimau.
Seekor gajah yang jengkel melihat pertengkaran berlangsung tiap hari mengusulkan agar diadakan lomba balap lari saja. Yang lebih cepat akan diakui sebagai yang paling hebat.
Setelah berpikir beberapa waktu, dua harimau itu pun menyetujui usul gajah tadi. Gajah sendiri yang memutuskan rute balap lari itu. Dua harimau itu harus berlari menyusuri sungai sampai tepi hutan. Di sana ada jembatan yang bisa diseberangi. Setelah melewati jembatan, dua harimau itu harus menyusuri sungai yang sama tapi dari sisi sungai yang berbeda. Titik akhir balap lari adalah sebuah padang rumput di sisi sungai sebelah sana.
Dua harimau yang masing-masing bernama Dosto dan Gorky itu pun mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Dosto menghabiskan waktu menjelang pertandingan lari dengan istirahat. Dia juga banyak memakan daging-daging segar untuk menambah energi.
Sebaliknya, Gorky malah sibuk berjalan-jalan di tepi sungai. Dia punya ide lain agar bisa memenangkan perlombaan lari itu. Ya, Gorky akan mencoba menyeberangi sungai saja, jadi tidak harus lari ke arah jembatan di tepi hutan yang jaraknya jauh. Masalahnya: harimau tidak mahir berenang jika sungai terlalu dalam.
Agar tidak lupa dengan lokasi sungai yang dangkal, Gorky menandainya secara khusus. Dia menaruh batu-batu sedemikian rupa sehingga hanya dirinya yang tahu di situlah bagian sungai yang dangkal.
Pada hari yang ditentukan, Gorky dan Dosto sudah bersiap melakukan balap lari. Setelah gajah memberi isyarat, keduanya dengan cepat melesat berlari ke arah tepi hutan. Di tengah jalan, saat mereka akan melewati bagian sungai yang dangkal, Gorky memperlambat larinya. Dosto tersenyum kegirangan dan berkata dalam hati: “Gorky jelek itu pasti kecapaian.”
Setelah Dosto menghilang, Gorky dengan langkah santai mendekati tepi sungai. Karena sudah menelitinya lebih dulu, Gorky tahu di tempat itu kedalaman sungai hanya sampai perutnya saja. Tanpa basa-basi, Gorky melompat ke sungai. HAP!
Ternyata Gorky tenggelam. Tidak ada yang salah dengan tempat itu. Memang tempat itulah bagian sungai yang paling dangkal. Yang tidak diperhitungkan Gorky: sungai bisa pasang sewaktu-waktu, arusnya juga bisa mendadak deras.
Gorky pun terseret arus. Dia berusaha menepi, tapi arus sungai sangat deras. Gorky tidak mau menyerah, dia mencoba berenang ke tepi sungai, tapi lagi-lagi gagal. Gorky mulai kehabisan tenaga. Banyak air sungai yang terminum olehnya. Perutnya kembung. Matanya perih. Tubuhnya juga mulai kehabisan tenaga.
Antara sadar dan tidak, Gorky mulai menyadari kesalahannya. Dia menyesal kenapa harus menggunakan cara-cara licik. Kenapa dia tidak berlari saja sesuai rute yang sudah ditentukan? Gorky mulai menangis. Dia mengaum-mengaum penuh penyesalan.
“Kalau aku bisa selamat, aku berjanji tidak mau bohong lagi. Persetan dengan lomba balap lari. Biarlah Dosto yang jadi pemimpin, asalkan aku masih bisa hidup. Kehidupan jauh lebih penting daripada kekuasaan,” teriak Gorky setengah putus asa.
Saat tubuh Gorky nyaris tenggelam ke dasar sungai, tiba-tiba Gorky tersangkut sebatang pohon yang tumbang. Gorky buru-buru meraih batang pohon itu. Dengan susah payah, Gorky akhirnya bisa menepi dan keluar dari sungai yang arusnya sedang deras itu.
Gorky merebahkan dirinya di rerumputan. Dia menghela nafas panjang. Lega sekali. Ia berguling-guling riang. Setelah tubuhnya kering, Gorky bangkit berdiri. Dia sudah lupa dengan perlombaan balap lari itu. Tapi, Gorky terkejut melihat pemandangan sekelilingnya.
“Bukankah ini padang rumput yang jadi tujuan balap lari?” pikir Gorky.
Saat Gorky sedang menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan, lamat-lamat Gorky mendengar suara derap kaki dari kejauhan. Itu Dosto!
“Apa yang harus aku lakukan?” pikir Gorky.
-------------------------------------------
*) Diceritakan pada pagi 21 Oktober 2012. Cerita ini belum selesai diceritakan, karena Daya keburu menangis. Biarlah Daya sendiri nanti yang memutuskan apa yang akan dilakukan Gorky.
Seekor keledai diperintahkan tuannya untuk membawa sekeranjang penuh jambu. Keranjang itu diikatkan tuannya pada punggung keledai itu. Jambu-jambu itu baru saja dipetik di ladang. Keledai harus membawa ke rumah tuannya yang tidak terlalu jauh jaraknya.
Keledai bernama Karenina itu segera berlari-lari kecil. Dia sudah hafal jalan menuju rumah tuannya. Dengan hati yang riang, Karenina menuju rumah tuannya. Dia sudah membayangkan hadiah makanan-makanan yang enak jika sudah bekerja dengan rajin.
Karenina berlari sambil bernyanyi-nyanyi. Tidak terasa perjalanan Karenina sudah melewati setengah perjalanan. Saat itulah Karenina tertarik dengan rumput-rumput segar di pinggir jalan. Dia berhenti sejenak untuk mencicipi rumput-rumput itu. Karenina sangat menikmatinya karena rumputnya sangat segar.
Saking asyiknya menyantap rumput-rumput itu, Karenina kekenyangan. Dia mencoba merebahkan badannya sebentar. Akibatnya, jambu-jambu yang berada di keranjang itu berjatuhan. Jambu-jambu yang jumlahnya puluhan itu berserakan, ada yang menggelinding sampai tepi sungai.
Lalu Karenina berpikir berapa lama untuk memasukkan kembali jambu-jambu itu? “Wah, pasti lama sekali,” pikir Karenina dalam hati.
Karenina kebingungan. Dia melihat ke arah ujung jalan. Rumah tuannya sudah terlihat, sudah tidak terlalu jauh. “Ah, kenapa aku tidak pergi saja dulu ke rumah Si Tuan. Aku bisa minta bantuan kerbau-kerbau milik Si Tuan, lalu kembali ke sini,” pikir Karenina lagi.
Lalu segera Karenina berlari menuju rumah tuannya. Di sana, dia meminta bantuan 3 ekor kerbau. Setelah kerbau-kerbau itu mau membantu, mereka segera kembali ke tempat jatuhnya jambu-jambu itu.
Sayang sekali, jambu-jambu itu sudah hilang semuanya. Karenina panik dan terheran-heran. Bagaimana bisa jambu-jambu itu hilang? Padahal Karenina belum lama meninggalkan tempat itu.
Karenina melihat ke sekelilingnya. Tidak ada manusia yang lewat. Lalu siapa yang mengambil?
Dari arah pohon-pohon, tiba-tiba terdengar suara riuh. Karenina melihat ke atas. Wah, ternyata banyak sekali monyet di atas sana. Dan mereka semua sedang berpesta makan jambu.
Akhirnya Karenina tahu siapa biang keroknya. Karenina memohon-mohon agar jambu-jambu itu dikembalikan. Tapi monyet-monyet itu sama sekali tidak peduli.
Di pinggir hutan Macondo, tinggallah seorang pemburu bernama Bandrio dengan seekor kuda tua bernama Tagore. Petani selalu menaiki kuda ke mana pun pergi, baik itu berburu maupun saat menjual hasil buruannya.
Suatu siang, pemburu ini pergi ke suatu tempat untuk mengantarkan hasil buruan pada seseorang. Dia memacu Tagore dengan sangat kencang. Tapi petani tak tahu bahwa Tagore sedang tidak sehat. Sejak tadi malam, badan Tagore demam. Tagore kurang tidur. Tapi Tagore tak kuasa menolak perintah pemburu Bandrio. Dia tetap berlari walau pun badannya semakin lemah. Tagore takut dipecut kalau malas berlari.
Setelah melewati dua desa, Tagore makin merasa lelah. Dia kehausan. Tagore tak sempat sarapan. Di dekat persimpangan jalan, Tagore melihat kubangan air yang jernih. Karena sudah lelah dan sangat haus, Tagore langsung berhenti dan meminum semua air di kubangan itu. Glek.. Glek.. Glek...
Bandrio marah melihat ulah Tagore. "Hey, cepat. Kenapa kamu berhenti tanpa aku suruh?" hardik si pemburu. Si pemburu segera melecutkan pecut ke tubuh kuda Tagore. Mau tak mau, Tagore harus kembali berlari.
Tagore kembali merasakan kelelahan. Badannya terasa makin lemas. Dia kembali merasakan demam. Keringat mengucur deras. Kepalanya basah oleh keringat, sekujur badannya juga demikian. Tapi Tagore tak berani berhenti, dia takut dipecut pemburu Bandrio. Akhirnya, Tagore pun berhasil melewati desa ketiga.
Saat perjalanan sudah memasuki desa keempat, Tagore benar-benar sudah tidak sanggup lagi berlari. Di dekat sebuah padang rumput, Tagore pun mulai sempoyongan, larinya mulai tidak teratur, dan akhirnya…. BRAK!
Tagore terjerembab. Badannya terguling. Tubuh pemburu Bandrio juga dengan sendirinya terguling. Bandrio langsung bangkit dan memaki-maki Tagore: “Dasar kuda pemalas! Begitu saja sudah tidak kuat. Ayo bangun! Aku sudah ditunggu pembeli daging buaya di desa kelima!”
Bandrio menendang-nendang tubuh Tagore, memaksanya bangun. Bandrio terus meneriaki Tagore. Tapi Tagore memang sudah tidak berdaya. Dia nyaris pingsan. Matanya berlinang air mata. Dia hanya bisa meringkik pelan, tanda dia menahan rasa sakit.
Melihat Tagore tetap saja tergeletak, Bandrio makin marah. Dia mencoba membangunkan Tagore dengan tangannya sendiri. Dia tarik Tagore perlahan-lahan, sampai akhirnya Tagore bisa berdiri. Tapi, baru saja Bandrio mau naik ke punggung Tagore, kembali Tagore ambruk. Badannya menimpa Bandrio. Tentu saja Bandrio makin marah.
Saat itulah muncul seekor kerbau dari arah padang rumput. Dia berjalan pelan-pelan. Kerbau bernama Wiro itu mencoba melihat apa yang terjadi. Dia sepertinya ingat dan pernah bertemu dengan kuda yang sedang dipukuli oleh pemburu itu. Wiro terus mendekati mencoba melihat dengan lebih dekat.
“Aku ingat! Dia kuda yang dulu waktu aku kecil pernah menolongku saat tersesat. Ah, betul! Saat itu aku terpisah dari ibu, aku ketakutan, lalu kuda itu muncul dan menuntunku mencari ibu,” kata kuda Wiro dalam hati.
Wiro mencoba tambah lebih dekat. Ia makin mengerti apa yang terjadi. Rupanya, kuda itu sudah kecapaian, tapi si pemburu tetap saja memaksanya berlari. “Aku harus menolong kuda itu!” kata si Wiro.
Wiro yang kini sudah besar, tanduknya sudah panjang. Dia bergerak perlahan. Pemburu itu tidak sadar bahaya yang mengancamnya. Saat jaraknya sudah sangat dekat, Wiro segera menyeruduk pemburu Bandrio. Dia langsung terjengkang. Wiro terus menyeruduknya. Pemburu Bandrio mencoba mencari senapan miliknya. Sayang sekali, senapannya tertinggal di rumah. Sementara Wiro terus menyeruduk Bandrio dengan tanduknya. Bandrio makin ketakutan. Dia tahu bahayanya berhadapan dengan kerbau yang sedang marah. Bandrio pun lalu lari terbirit-birit.
Setelah pemburu Bandrio pergi. Kerbau Wiro menghampiri kuda Tagore. Wiro duduk-duduk di sebelah Tagore, menjaga sampai Tagore pulih.
Seekor kancil cerdik bernama Tolstoy sangat ingin terbang. Kancil Tolstoy iri melihat burung-burung yang bisa terbang bebas sesuka hatinya. Masalahnya bagaimana seekor kancil bisa terbang?
Tapi Tolstoy dikenal sebagai binatang paling cerdik di seantero hutan Macondo. Walau pun tubuhnya kecil, tidak ada satu pun binatang yang berani mengganggu kancil Tolstoy. Dari harimau, kerbau sampai buaya pernah dikerjain Tolstoy.
Kancil Tolstoy juga tidak kehabisan akal agar bisa terbang. Siang itu, dia memanggil-manggil seekor burung elang paling besar di hutan Macondo. Namanya: Elang Jackyl. Saat itu Jackyl sedang terbang rendah mencari mangsa, tapi dia mulai keletihan karena tidak ada mangsa yang bisa dia terkam.
"Ada apa, Tolstoy?" kata elang Jackyl.
"Kamu lapar? Aku tahu tempat yang banyak makanan buatmu," kata kancil Tolstoy.
"Di mana? Tunjukkan padaku."
"Bisa saja. Tapi ada syaratnya."
"Tidak. Syaratnya gampang. Aku ingin kau membawaku terbang sebentar saja. Aku bosan berkeliaran di tanah."
"Tapi janji, ya, kamu akan menunjukkan tempat yang banyak makanan buatku."
"Jangan kuatir," kata Tolstoy.
Maka kancil Tolstoy pun bisa terbang. Caranya sangat pintar: Jackyl disuruhnya mencengkeram sebatang kayu kecil dan kancil Tolstoy menggigit kayu itu kuat-kuat. Dengan cara itulah Tolstoy akhirnya bisa merasakan terbang di udara.
Setelah berputar-putar sekian lama, diajak terbang ke arah gunung dan laut, akhirnya si burung elang Jackyl pun kelelahan. Dia makin lapar. Dia pun menagih janji Tolstoy yang akan memberi tahu tempat yang banyak makanannya. Tapi Tolstoy mengulur-ulur waktu. Dia tidak menanggapi permintaan Jackyl. Tolstoy sibuk melihat pemandangan.
Lagipula, sebenarnya Tolstoy tidak tahu tempat yang banyak makanan. Dia membohongi Jackyl. Tapi Jackyl tidak berani berbuat apa-apa. Dia takut tidak akan diberi tahu di mana tempat penuh makanan itu.
Saat itulah seekor burung gagak berpapasan. Dia terkagum-kagum melihat kancil Tolstoy bisa terbang. Burung gagak itu berkata: “Wah, hebat sekali kamu, Tolstoy. Kamu satu-satunya binatang darat yang bisa terbang sekarang.”
Kancil Tolstoy yang terkenal sombong itu pun berbunga-bunga. Dia senang sekali dipuji. Tanpa sadar, Tolstoy berkata: “Aku memang binatang paling hebat dan cerdik di seantero Macon….”
Wah, Tolstoy lupa kalau dia terbang dengan cara menggigit batang kayu yang dicengkeram elang Jackyl. Begitu kancil Tolstoy membuka mulutnya, dengan sendirinya pegangannya terlepas. Dan kancil Tolstoy pun jatuh ke bawah….
Untung saat itu mereka terbang rendah, sehingga kancil Tolstoy tidak mengalami luka yang parah. Tapi tetap saja Tolstoy merasakan kesakitan. Kakinya bengkak dan sangat nyeri.
Seekor ulat bernama Kafka sedang kelaparan. Dia merayap naik ke atas pohon jambu. Dia ingin memakan buah matang yang ada di salah satu dahan pohon itu. Tiba-tiba, seekor burung pipit bernama Javert datang menyergap.
Hap!
Untung sergapan Javert itu gagal. Kafka itu jatuh ke tanah. Javert mencoba mencarinya. Tapi Kafka sudah lebih dulu bersembunyi di lubang kecil. Burung pipit Javert itu memutuskan terbang dan hinggap di dahan paling rendah. Matanya mengawasi sekitar. Dia masih ingin memakan ulat itu. Rupanya dia juga kelaparan.
Sementara ulat Kafka itu masih bersembunyi di lubangnya. Dia mencoba berpikir bagaimana caranya bisa memakan buah di atas pohon tanpa diketahui Javert. Kafka mencoba mengintip dan mengawasi keadaan sekitar. Dia bisa melihat Javert yang masih waspada mengawasi sekitarnya. Buru-buru Kafka kembali sembunyi di dalam lubang.
Perut Kafka semakin keroncongan. Dia sangat lapar. Tapi Kafka tidak tahu bagaimana cara memanjat tanpa ditangkap Javert. Sambil menahan lapar, Kafka terus berpikir. Sekali lagi Kafka coba mengintip ke luar, berharap Javert sudah pergi. Tapi Javert masih bertengger di dahan paling rendah. Kafka semakin kebingungan.
Untunglah Kafka melihat sebatang pohon pisang yang daun-daunnya menyentuh salah satu dahan pohon jambu. Kafka langsung mendapatkan ide: dia akan naik pohon jambu dengan cara menaiki pohon pisang di sebelahnya.
Satu saat, Kafka bergerak terlalu cepat sehingga terdengar suara: "Kresek kresek...."
Wah, bahaya! Javert mendengar bunyi itu. Matanya langsung melihat ke bawah. Kafka buru-buru tiarap di bawah sehelai daun kering. Dia berdiam di sana beberapa saat.
Akhirnya, setelah menunggu beberapa lama, Kafka berani untuk kembali merayap. Kali ini Kafka bergerak dengan lebih hati-hati. Butuh waktu 30 menit bagi Kafka untuk sampai ke pohon pisang itu.
Kafka tidak langsung menaiki pohon pisang. Dia beristirahat sebentar. Dia merasa capek. Nafasnya terdengar ngos-ngosan. Setelah beristirahat, Kafka mulai merayap naik. Dia lebih bebas bergerak sekarang karena Kafka naik dari sisi yang tidak dilihat Javert.
Begitu sampai di daun pohon pisang yang tertinggi, Kafka segera menyusuri daun itu. Dari situlah Kafka bisa menemukan salah satu dahan pohon jambu. Kafka segera berpindah dan merayapi dahan pohon jambu itu. Kali ini Kafka melakukannya sedikit hati-hati karena Javert ada tepat di bawah dahan yang dinaiki Kafka.
Beberapa saat sebelum Kafka sampai di buah jambu yang diincarnya, Javert terlihat terbang. Javert sepertinya kesal karena gagal menangkap Kafka. Maka Kafka pun bisa leluasa menggerogoti buah jambu yang sudah matang itu. Kafka pun kenyang.