Filosofi bumi
“jika punya anak nanti akan kunamainya Bumi” “Sekarang sudah banyak orang dinamai bumi, aku akan menamai anakku dari bahasa Sansekerta yang rumit, biar keren.” “anakmu?” “iya. Anakku.”
Mungkin percakapan kami sore itu menjadi isyarat, tidak ada saya di masa depanmu.
Seperti bumi yang memiliki daya gravitasi, ia dengan besar hati menarik seluruh entitas di dunia ini, suka ataupun tidak.
Seperti bumi yang menyediakan segalanya untuk bertumbuh, berkembang. Ia dengan anggunnya tidak pernah meminta balik.
Andai kamu jadi bumi. Apakah kamu akan melakukan hal yang sama?
Saya menamai kamu dengan sebutan bumi, karena kamu begitu besar. Daya ciptamu begitu luas. Daya cintamu begitu besar, tapi Hanya untuk mereka yang menjejak di badanmu.
Saya? Saya ingin menjadi matahari. Lihat kan betapa berbeda nya kita? Tapi saya selalu disini, menerangimu dengan setia, walaupun selalu ada sisi gelap yang tidak bisa saya jamah.
Hai bumi, sudah lama kau begitu tersiksa, karena saya. Sinar yang saya berikan tidak tersaring dengan benar dengan ozon mu, sehingga di dalam kamu meradang.
Itu kan yang baru saja terjadi? Tentang saya yang melukaimu lagi dan lagi. Serta kamu yang menemukan kenyamanan baru di sisi gelap sebelah sana.
Nonamu, Bulanmu.
((ingat 2,5 tahun yang lalu? Ketika bumi sangat mencintai mataharinya, ketika robek ozonmu tidak berpengaruh terhadap kecintaanmu akan musim kemarau))
Yogyakarta, 14 September 2016











