That was my best effort.
Im done
I let you go.

titsay

Kiana Khansmith
d e v o n
todays bird
almost home
Peter Solarz
i don't do bad sauce passes

★

pixel skylines
noise dept.
hello vonnie
Xuebing Du
Three Goblin Art
NASA
Monterey Bay Aquarium

izzy's playlists!

Origami Around
sheepfilms
No title available
dirt enthusiast

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from Kenya

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@pakisgunung
That was my best effort.
Im done
I let you go.
emang ada masalah apa dengan rasa ingin memiliki sih?
Let me have a goodnight sleep tonight, dear mind.
Let me have a good rest before have a long fight
I have all the resources i need
Yes i have
I can go now
I can fly higher
Untuk orang yang baru saja hancur mimpinya, kurasa reaksi menangis dan menyendiri cukup wajar, bukan?
Bangun tidur dengan kepala penuh seseorang di masa lalu.
Merasa diri berkhianat lalu memutuskan menyakiti diri sendiri dengan cara yang luar biasa bodoh.
003
Hai.
Selamat bertemu kembali.
Aku mau bercerita.
Dan menulis, entahlah.
Nikmati saja.
Jadi begini...
Ada sebuah kertas kusam termakan zaman yang terbang tak tentu arahnya.
Terbawa angin, tapi yakin tujuannya Tenggara.
Ia memohon pada sang angin untuk membawanya ke sana. Dan berjanji akan melakukan perjalanan bersama angin ke manapun setelah bertemu Tenggara.
Untung saja angin baik hati, membawa kertas jauh menuju Tenggara. Padahal Tenggara hanya sebatas konsep tentang arah. Tidak nyata.
Di perjalanan mereka menikmati kebersamaan. Angin yang menemani kertas meminum secangkir kopi susu dan teh tubruk sambil menunggu hujan reda.
Angin yang mengecup manis kertas
Ah
Terlalu banyak proyeksi penulis dalam cerita ini nantinya.
Kita lanjut ke bagian akhir saja.
Singkat kata kertas jatuh cinta pada angin
Merasa aman karena nantinya ia merasa akan menepati janji melakukan perjalanan bersama.
Tapi ternyata angin terlalu bebas untuk diikuti.
Semakin lama kertas sadar bahwa angin tidak bisa pasti.
Sedetik menuju Tenggara, sedetik kemudian menuju Timur Laut.
Kertas ingin menyerah, tapi ia terlanjur jatuh paling dalam.
Menikmati dan terlena pada perjalanan yang tanpa arah tersebut.
Tapi badan kertas tak kuasa menahan angin yang semakin lama semakin merontokkannya.
Apalagi jika mereka tak sengaja bertemu hujan yang diam-diam selalu dibawa angin.
Sekedar memberi kabar pada hujan namun hubungan mereka lebih jauh dari itu.
Kertas lelah.
Pada akhirnya tak sampai dia di Tenggara. Angin juga menghilang kembali bercumbu dengan hujan.
Busuk. Kertas teronggok kaku dan dingin.
Mati.
Berharap terurai namun belum usai,
Layu, jadi sampah.
Jakarta, 28 Maret 2019
Sehabis kemasukan angin lalu muntah muntah, seperti ibu hamil.
002
Mau jeda lagi?
Belum cukup jelas selama ini bagaimana rasa yang kita pendam bisa menemukan jalan menuju satu sama lain?
Perlu berapa kali jeda lagi supaya kamu yakin?
Perlu aku dimiliki seorang yang lain dulu baru kamu mampu menentukan jalan kita nantinya?
Yang mampu aku beri hanya waktu.
Akan kuuntai lagi doa ke langit bila itu yang terbaik yang dapat kulakukan.
Akan kubangun dermaga siapa tahu engkau memutuskan pulang lebih cepat.
Temukan rasa di dalam sepinya goa vertikal yang kamu buat sendiri jalurnya.
Akan ku tanam pohon bodhi di pekarangan, takkan kubiarkan ia kekeringan barang sedikit.
Dan kamu?
Mengayuhlah lagi bila itu yang kamu mau.
Menjauhlah untuk memahami arti rumah.
Berkelanalah, temukan cinta di gelas kopi hangat yang kamu sruput di lereng gunung.
Temukan rindu dalam setiap jeram yang kamu lewati.
Dan pada akhirnya kamu bisa temukan aku di tempat yang sama, di sini. Menunggumu.
Thats the best i can promise you.
001
Kata siapa ini mudah?
Sini, temui saya dan ajari bagaimana membuat ini lebih mudah.
Menghapus?
Susah setengah mati,
Berusaha mengingat ingat orang asing
Menghindar?
Apalagi!
Melawan kata hati. Jauh dari kata mudah
Mengabaikan?
Sumpah demi Tuhan jika bisa sudah saya lakukan bertahun tahun yg lalu.
Merelakan?
Sedang mengarah ke sana.
Sedang dicoba.
Saya janji :’)
Lalu bagaimana dengan rindu yang selalu hadir sesuka hati?
Menyibukkan diri?
Mencari pelarian??
Ya.
Ada satu
Jangan khawatir
Saya tidak berbakat melarikan perasaan, kau pasti tahu benar.
Apalagi pelarian yang satu ini tidak akan berakhir mulus.
Hah. Muak dengan cinta
Tapi tiap hari sesak dibuat rindu ☹️
Jakarta, 13 Januari 2019
24 hari setelah percakapan terakhir.
Seakan akan ada namun tiada
Rasa
Tak bertuan
Tak bernama
Tak ada upaya
Hangat
Menjalar,
Mengikat
Kemudian hilang.
Hanya konsep yang dicipta
Hanya makna yang diingin
Hanya persepsi yang diidamkan
Hanya rima yang diselaraskan
Padahal hampa
Semu
Ambigu
Saru
Lalu membekas namun tak tampak
Karena hilang tanpa pernah ada
Karena dirasa baru terharu
Lemah
Terpuruk di pojok ruangan
Ruang hampa udara
Menyesakkan
Mematikan
Harus keluar
Padahal berdiri pun tak sanggup
Berlari hanya menghabiskan oksigen
Menyerah tak ada arti
Entah.
Hanya menunggu mati
Hanya menunggu terlahir kembali
Hanya bertumpu pada satu kaki.
Berharap diperbaharui
Jakarta, 9 Januari 2019
Hi there!
Perihal garis waktu, ada sesuatu yang lebih abstrak dari konsep waktu itu sendiri, menurutku.
Bahwa pada dasarnya tiap manusia punya ‘tahunnya’ sendiri. Lebih pada musim, masa, sebuah ketika yang ada sesuatunya.
Mencipta sebuah konsep tentang linimasa masing masing kita yang tidak bisa disamakan apalagi dibandingkan.
Tahun baru hanyalah alarm universal bagi semua orang, agar bisa saling mengingatkan untuk terus bergerak pada linimasanya masing masing.
Ya, bergerak.
Karena kedinamisan hidup, kedinamisan yang berdasar pada rotasi bumi pada porosnya, semuanya butuh bergerak.
Tahun baru, resolusi baru.
Tahun baru, aku yang baru.
Tidak pernah ada benar dan salah untuk itu.
Satu pertanyaan yang mungkin perlu dicoba untuk dijawab adalah
Linimasaku mau bergerak kemana?
Kalau mengatur linimasa media sosial saja perlu berkali kali merencanakan dan menyunting, mengapa tidak kita terapkan pada linimasa hidup kita?
Mau garis warna seperti apa? Mau konsep yang bagaimana?
Coba di jawab satu satu.
Satu lagi pertanyaan penting,
Apakah aku sudah menyunting linimasaku untuk aku? Atau hanya untuk memuaskan orang lain?
Hanya untuk membahagiakan orang lain?
Hanya untuk disukai orang lain?
Jika jawabannya iya, aku ingatkan.
Yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri 🥰
Jakarta, 31 Desember 2018
Pelan pelan
Ada hati yang perlu disembuhkan
Ada lara yang perlu diacuhkan
Ada rindu yang perlu didiamkan hingga tak lagi rindu
Satu satu
Melangkah pelan pelan.
Katanya itu baik, asal tidak berhenti.
Satu demi satu langkah
Satu demi satu rasa dibiaskan
Agar menyaru dengan waktu
Lepaskan untuk menangkap satu makna baru.
Jelaga dan air hanya persepsi
Apalagi patah hati.
Namun hati hati
Hati hati pada rindu.
Ia mampu menuai pilu
Menjadi beku, haru.
Menjadi ragu.
Seperti aku,
Saat ini.
Jakarta, 28 Oktober 2018
At least you’re somewhere out there, breathing.
Congratulations
Belajar proyeksi
Proyeksikan perasaan
Lalu perlahan merefleksikan
Berdamai
Idealnya
Sedang kucoba tapi sulit sekali
Lebih mudah membenci
Mengubur
Mengabaikan lalu lupa
Resikonya lebih besar.
Infeksinya lebih luas.
Perlu energi yang lebih besar.
Cenderung destruktif.
Tapi tidak berdampak maju,
Membuat mudah berpaling ke belakang untuk kembali lagi ke lubang yang sama.
Sudah saatnya cara yang susah
Sudah saatnya berbenah diri.
Kangen itu bangsat
Seperti kamu
“Aku ingin pergi ke tempat yang sangat jauh, hingga kau tak mampu menemukanku. Hingga aku tak mampu menemukan diriku sendiri. Semuanya baru; ingatan ataupun hati.”
— Tanpamu sedikit pun
Quote from the show One Tree Hill
Mungkin saya hanya kurang beruntung :’)