Protes di India Mulai Dengan Petani, Sekarang Pegawai Umum
11 Desember 2020 R. L. Hughes
Mogok kerja telah terjadi di India sampai bulan September 2020. Sepuluh ribuan petani bermogok kerja atas tiga perubaha yang beru diloloskan oleh Partai Bharatiya Janata (BJP), diketahui Perdana Menteri Narendra Modi.
Mogok kerja ini mulai dengan petani di India tetapi itu berkembang mencakup pegawai dari industri lain, dan expatriat India di negara lain seperti Kanada. Mogok kerja petani berlangsung setiap hari seharian di jalan raya nasional di perbatasan Singhu. Mayoritas pengunjuk rasa asli dari negara bagian Punjab, julukannya “keranjang roti.”
Penutupan jalan dalam sektor transportasi dari kedua pihak. Aparat keamanan memblokir jalan utama lewat ke ibu kota New Delhi. Pemrotes memblokir rel kereta api di negara bagian Punjab sebagai bagian dari mogok kerja, dan perusahaan kereta api mengalami kerugian pendapatan. Dalam 3,5 minggu terakhir, perusahaan kereta api India merugi 22 milyar rupees ($298 juta) karena mogok kerja petani. Polisi sudah menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menahan pemrotes agar tidak maju ke ibu kota New Delhi. Protes di luar ibu kota India bisar berakhir dengan perang dagang antara India dan negara lain. Dengan ekonominya terhenti, karena 60% dari 1,3 milyar orang India bertumpu pada pertanian untuk biaya hidup.
Pemerintah India menggantikan undang-undang (UU) tentang menjual hasil panen. Petani Punjab menanam padi, gandum, kentang, dan biji bunga matahari. Hidup petani di India, khususnya di negara bagian Punjab, sudah terbelit dengan hutang, kondisi keras; berakibat pada banyak kasus bunuh diri petani. Karena keadaan tersebut, pemrotes siap bermogok kerja selama dibutuhkan sampai pemerintah mencabut UU baru. “Modi Sarkar Murdabad! Murdabad! Murdabad!” (kalah dengan pemerintah Modi) dinyanyikan oleh pemrotes.
Protes ini datang pada saat negaranya terjangkit virus mematikan, COVID-19. Ekonomi India juga kurang baik sekarang. Mogok kerja ini terjadi saat musim dingin di Delhi, tetapi cuaca tidak menghentikan orang protes. Mereka membuat tempat tidur temporer di truk, mandi di pinggir jalan, dan makan bersama orang lain di dapur umum. Beberapa pemrotes berkata bahwa mereka mempunyai cukup persediaan untuk bermogok kerja selama enam bulan.
Banyak orang sedang mogok kerja adalah petani yang memiliki tanaman kecil, yang lima ekar atau lebih kurang. Petani ini sudah punya pinjaman karena panen dijual ke korporasi besar. Dengan UU baru, panen seperti padi yang mempunyai harga dasar penjualan akan kehilangan keamanan finansial itu, dan petani akan jatuh lebih dalam di pinjaman. Petani mengklaim swastanisasi harga panen ini adalah skema mengambil sedikit tanah yang petani punya.
Pemerintah Modi berkata bahwa perubahan ini akan menguntungkan petani lewat investasi swasta. Ahli ekonomi berprediksi bahwa UU baru ini akan memodernkan petanian India, karena masa sekarang tahan pertanian menghasilkan penghasilan yang kecil, dan kebun kecil tidak efisien. Petani merasa ini kebohongan. Di masa lalu, panen yang lain diswastanisasi, menghentikan pembayaran minimal dari pemerintah India berhenti, dan petani dipaksa berhutang. Kalau UU baru diberlakukan itu akan makan waktu tahunan sebelum proses baru kerja secara efektif. Tujuan Modi mirip dengan UU yang membuka ekonomi di tahun 1991. Ini adalah perubahan pertama dalam perdagangan tanaman sejak 1950an.
Artikel Asli The Diplomat 08 Desember 2020 -- The New York Times 04 December 2020 South China Morning Post 04 December 2020 South China Morning Post 03 December 2020 Instagram 08 December 2020













