Tgk: Монви Пишет
seen from China
seen from Germany

seen from Czechia
seen from China
seen from China
seen from Spain
seen from Türkiye
seen from Georgia
seen from United States

seen from Estonia

seen from United States
seen from Indonesia
seen from India
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from Macao SAR China
seen from Singapore
seen from Sri Lanka
Tgk: Монви Пишет
Tidak ada keadaan yang menetap.
Yang menyenangkan akan selesai, yang melelahkan juga akan reda.
Sebuah Pemahaman Tentang Kepemilikan
Bukankah kehilangan seharusnya memberi kita pemahaman bahwa sejatinya, kita tak pernah benar-benar memiliki? Namun, mendamaikan pertengkaran antara hati yang memaki dan kepala yang mencoba memahami, adalah perjuangan yang tak mudah.
Dalam perjalanan hidup, kehilangan sering kali datang sebagai tamu yang tak diundang. Ia menyelinap masuk di saat kita merasa segalanya baik-baik saja, meninggalkan kekosongan yang tak terelakkan. Namun, apakah kehilangan itu benar-benar sebuah akhir, atau justru sebuah pengingat? Bukankah kehilangan seharusnya memberi kita pemahaman bahwa sejatinya, kita tak pernah benar-benar memiliki?
Kepemilikan adalah ilusi yang kita pelihara dengan penuh cinta dan keyakinan. Kita menyangka bahwa orang-orang, benda, atau bahkan perasaan itu adalah milik kita, sesuatu yang abadi. Tapi kehilangan hadir untuk mengingatkan, bahwa semua itu hanya titipan. Sesuatu yang datang dan pergi, sesuai dengan kehendak semesta, bukan kehendak kita.
Namun, pemahaman ini bukanlah hal yang mudah diterima. Di saat kepala berusaha mencerna kebenaran ini dengan logika, hati justru bergolak. Hati yang terluka, merasa ditinggalkan, dan tak jarang, memaki. Ia memberontak, menolak kenyataan, dan ingin tetap berpegang pada apa yang telah pergi. Di sinilah pertengkaran antara hati yang memaki dan kepala yang mencoba memahami terjadi.
Perjuangan untuk mendamaikan kedua sisi ini adalah tantangan yang tak mudah. Kepala mungkin berkata, "Ini adalah bagian dari hidup, kau harus menerima." Namun, hati membalas, "Bagaimana mungkin aku menerima sesuatu yang begitu menyakitkan?" Dalam pusaran emosi ini, kita sering kali terjebak dalam lingkaran kesedihan dan penyangkalan.
Tetapi, dalam pertarungan ini, ada pelajaran yang berharga. Setiap luka yang kita rasakan, setiap air mata yang jatuh, adalah langkah menuju pemahaman yang lebih dalam. Bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah pintu menuju kebebasan. Kebebasan dari ilusi kepemilikan, dan kebebasan untuk mencintai tanpa syarat.
Mendamaikan hati dan kepala membutuhkan waktu. Itu adalah proses yang melibatkan penerimaan, pemahaman, dan pada akhirnya, melepaskan. Ketika kita mampu berdamai dengan kehilangan, kita menyadari bahwa yang sejati bukanlah kepemilikan, melainkan pengalaman dan cinta yang kita bagikan. Itulah yang akan selalu tinggal, meski segalanya telah berlalu.
Dalam akhir dari pertarungan ini, kita menemukan kekuatan untuk terus berjalan, membawa kenangan dan pelajaran, tanpa terikat oleh masa lalu. Kehilangan mengajarkan kita untuk mencintai lebih dalam, bukan dengan memiliki, tetapi dengan menghargai setiap momen yang ada.
sorry aber ich muss einfach mal fragen, weil ich "der" sage aber immer gejumpscared werde, wenn irgendwo "das" steht, deshalb:
wie sagt ihr eigentlich?
DER Blog
DIE Blog
DAS Blog
(also es geht hier um Blogs wie hier auf tumblr, nicht um die Schreibwaren)
A secret Valentine's Day boy, so cute
It’s Not a Transition – It’s a Systemic Shift
Reflections on why most transformation efforts fall short – and what might actually be required Lately, I find myself returning to the same conversation in different forms. It doesn’t matter whether I’m speaking with CEOs, strategy teams, or transformation officers – the themes tend to converge. Everyone’s talking about transformation. The pressure is real: digitalization, AI, sustainability,…
AMUNISI (Afirmasi hari ini):
Aku percaya dan yakin bahwa aku senantiasa aman dalam perlindungan Tuhan.
- Sastrasa
from lomazoma.com - 5th January 2024
Der SemperOpernball ist für sie ein Heimspiel
Nach vierjähriger Pause punktet der 16. SemperOpernball am 23. Februar mit Heimfarbe. Denn aus dem ersten Mal werden zwei Dresden Moderieren Sie die rauschende Ballnacht: die Schauspieler Stephanie Stumph (39) und Tom Wlaschiha (50). Die beiden TV- und Kino-Lieblinge gehörten zu den über 2.000 Gästen des gesellschaftlichen Mega-Events – jetzt stehen sie vor dem Publikum.
Zwei Dresdner: Stephanie Stumph (39) und Tom Wlaschiha (50) moderieren am 23. Februar den SemperOpernball. © Norbert Neumann
„Es ist toll, in der Semperoper auf der Bühne zu stehen, ohne singen zu müssen“, scherzt „Game of Thrones“-Serienstar Wlaschiha. „Als Kind hat mein Onkel hier gesungen. Daher habe ich mich sehr über die Anfrage zur Moderation gefreut.“
So geht es auch Stephanie Stumph, deren Vater Wolfgang Stumph (77) in der Operette „Die Fledermaus“ an der Semperoper den Gefängniswärter Frosch spielt. „Papa hat bereits die Ballmedaille erhalten“, sagt Stephanie stolz. „Der Ball liegt mir wirklich am Herzen.“
Apropos Ball – die beiden werden sich während der Moderation gegenseitig zuspielen. „Wir bekommen einen Textrahmen, den wir dann aber gemeinsam erarbeiten, proben und diskutieren.“
Tom und Stephanie kennen sich schon lange. „Als Mädchen habe ich Tom in TJG vergöttert“, gibt Stephanie zu. „Und als ich etwa neun Jahre alt war, spielte Tom auch in einer Stubbe-Krimiserie mit. Tom hat damals sogar etwas in mein Gedichtalbum geschrieben.“
Ballmanager Wolf-Dieter Jacobi (57) freut sich auf das Dresdner Moderatoren-Duo.
Eine weitere Gemeinsamkeit: „Als Schüler hatten wir Tanzunterricht in der Tanzschule Nebl“, berichten die Moderatoren. Und entscheiden: „Wir werden gemeinsam auf dem Ball tanzen.“
Tom im Smoking, Stephanie in einem der drei Ballkleider, die sie an diesem Abend tragen wird. „Jedes Kleid kommt von einer Dresdner Designerin“, verweist Stephanie auf Katrin Eulenstein, Dorothea Michalk und Carla Beyer.
Wlaschiha freut sich nicht nur auf seine attraktive Co-Moderatorin, sondern auch auf das Lampenfieber.
„So ein Kribbeln gibt es beim Filmen nicht. Wenn man eine Szene vermasselt, wird sie einfach wieder in die Länge gezogen. Aber auf dem Ball ist alles live…“