Mereka Butuh Kita #SaveOrangutan
Perkenalan saya pertama kali dengan orangutan dimulai dari novel Partikel karya Dewi ‘dee’ Lestari. Orangutan yang diberi nama Sarah oleh Zarah, si tokoh utama dalam novel tersebut tergambar begitu hidup, membuat saya diam-diam mulai tertarik pada kehidupan mereka. Sarah yang terpisah dari induknya karena aksi perburuan liar harus bersusah payah beradaptasi dengan lingkungan barunya di camp konservasi orangutan tempat Zarah tinggal. Saya cukup salut dengan dee, ia mampu membangkitkan gejolak emosi saya sebagai pembaca melalui persahabatan Zarah dengan Sarah. Saya bahkan sempat menangis ketika dee menceritakan adegan perpisahan mereka karena Zarah harus pergi meninggalkan Tanjung Puting. Saya baru tahu kalau ternyata patah hatinya orangutan jauh lebih buruk dari manusia.
Mungkin karena orangutan itu setia. Dan seperti halnya mencari laki-laki setia di Ibukota yang keberadaannya hampir punah, begitu pula nasib orangutan ini. Spesies-nya diburu untuk kemudian dijual di pasar gelap. Mereka yang berhasil selamat pun belum tentu bertahan hidup lebih baik karena habitat asli mereka diberangus dan dikuasai oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Rumah-rumah mereka – biasanya berupa sarang dari dedaunan di antara pepohonan lebat – disulap menjadi kebun-kebun kelapa Sawit dan area pertambangan. Mereka yang terdesak akhirnya turun ke kampung-kampung dan menjadi tamu yang tak diundang. Kalau cukup beruntung dan kebetulan bertemu para aktivis penyelamat satwa, hidup mereka masih bisa terselamatkan. Tetapi kalau tidak, pilihannya cuma dua. Dibunuh atau yang lebih menyedihkan lagi ditangkap oleh para pemburu liar. Tidak heran bila populasi orangutan terus menurun setiap tahunnya. Dari tahun 1990-an sekitar 200.000 ekor, kini hanya tinggal sekitar 55.000-an ekor. Apalagi orangutan termasuk primata yang membutuhkan waktu cukup lama dalam berkembang biak. Orangutan betina hanya melahirkan seekor anak setiap 7-8 tahun sekali. Dan rata-rata hanya bertahan hidup sekitar 45 tahun. Coba bayangkan, bagaimana kelanjutan spesies mereka beberapa tahun ke depan. Padahal sejauh ini, orangutan hanya ditemukan di wilayah Asia Tenggara dan populasi terbesarnya ada di tanah air kita tercinta, Indonesia. Tepatnya di Pulau Borneo dan Sumatera. Apa kita rela kalau anak cucu kita tidak sempat mengenal keberadaan mereka?
Foto diambil dari tukangjalan.com
Di Pulau Borneo sendiri terdapat konservasi orangutan yang sudah ada sejak jaman Pemerintahan Hindia Belanda. Berawal dari cagar alam dan suaka margasatwa yang kemudian ditetapkan sebagai Taman Nasional. Di Taman Nasional Tanjung Puting yang letaknya di semenanjung barat daya Kalimantan Tengah, Palangkaraya ini diperkirakan terdapat sekitar 40.000an orangutan. Dari beberapa cerita perjalanan hasil blog walking yang saya temukan, terdapat beberapa camp di sana. Mulai dari Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, Camp Pondok Ambung, dan yang terakhir adalah Camp Leakey. Camp Leakey dikenal sebagai pusat penelitian orangutan. Pengunjung dapat mempelajari orangutan di pusat informasi Camp Leakey, namun tidak diperbolehkan memberi makan orangutan. Diharapkan dari kegiatan tersebut akan timbul kepedulian untuk melindungi orangutan yang hampir punah. Karena kalau bukan kita yang melindungi mereka, lalu siapa? Mereka butuh kita.
Saya sebenarnya sudah cukup sering mendengar cerita tentang Taman Nasional Tanjung Puting dari Bapa saya yang kebetulan seorang pelaut dan rute berlayarnya adalah Jakarta – Pontianak – Kumai. Termasuk cerita-cerita tentang perdagangan gelap orangutan yang memang marak terjadi di sana. Miris rasanya.
Saat ini, Taman Nasional Tanjung Puting memang sudah cukup tenar sebagai tempat wisata. Dan di bulan-bulan tertentu, pelabuhan di Kumai akan sangat ramai dikunjungi wisatawan yang transit untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Tanjung Puting. Sepertinya saya harus benar-benar disiplin dalam menabung agar Taman Nasional Tanjung Puting bisa masuk ke dalam wish list saya tahun depan, selain Pulau Derawan dan Penangkaran buaya Teritip di Balikpapan tentunya.