On Education, where it all started.
"Memangnya dengan berkuliah membuat kita jadi cukup pintar? eitss tunggu dulu.."
Itu salah satu awalan dari salah satu episode podquest yang saya dengar beberapa hari yang lalu. Masih terngiang sekali di kepala saya pemaparan-pemaparan announcernya yang menurut saya couldn't agree more. Oke mari kita sounding ulang isi podquestnya, karena menurut saya ide baik itu harus disebarluaskan.
Tentang Realita Pendidikan Indonesia
Kalau kita pernah membaca berita tentang hasil PISA, sebuah tes untuk menguji kecerdasan anak usia dini di seluruh dunia, Indonesia berada di posisi yang mengkhawatirkan. Tingkat literasi dan numerikal kita sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Lebih parahnya lagi, sejak tahun 2000 sampai sekarang, peningkatan hasil PISA kita tidak begitu signifikan, hanya bertambah beberapa skor saja. Bayangkan, selama 20 tahunan peran pengajar Indonesia, ternyata hasilnya tidak begitu signifikan.
Mungkin diantara kita ada yang nyeletuk "ah itu kan PISA, cuma tes untuk anak-anak". Nah, ternyata (saya baru tahu juga) ada tes PISA khusus untuk dewasa. Tes ini bernama PIAAC. sebuah tes berstandar internasional juga untuk menguji tingkat literasi, numerikal, dan sains orang berusia 16-50 tahun. Dan hasilnyaa.. Skor Kemampuan Kognitif rata-rata lulusan Sarjana Indonesia setara dengan kemampuan kognitif anak SMA di 30 negara lain. Ditambah lagi, ternyata hasil ini setara dengan anak SMP di Denmark. Bangun guys! ternyata kemampuan kognitif rata-rata sarjana kita di bawah anak smp denmark.
Mengapa Tes ini Begitu Penting?
Saya setuju dengan pemaparan sabda dan cania dalam podquest ini. Tes semacam PISA dan PIAAC ini menjadi penting karena dapat memetakan tingkat kecerdasan manusia di setiap negara. Bukan hanya tes nya yang penting, tapi standardisasi akan tes tersebut menjadi sangat penting karena berkaitan dengan kemampuan kognitif masyarakat Indonesia. Saya masih yakin bahwa banyak diantara kita yang merasa "biasa-biasa" saja dengan skill literasi dan numerasi. Padahal, itu adalah skill fundamental seseorang untuk bisa "hidup" baik di dunia. Kemampuan kognitif akan menetukan cara dia membaca "realitas" dunia. Kemampuan kognitif yang baik akan membantu seseorang menemukan jalan keluar akan segala sesuatu.
Saya selalu percaya, tes matematika adalah hal yang sangat fundamental untuk bisa dikuasai oleh semua orang. Bukan semata-mata karena "rumus-rumus"nya, tapi tentang cara berpikirnya. Bodoamat dengan rumus-rumus matematika, yang terpenting adalah "cara berpikir" matematisnya. Maka saya tidak sependapat dengan orang yang bilang "buat apa belajar matematika, toh di kehidupan sehari-hari saya tidak pakai rumus pytagoras kok" atau "saya kan cita-citanya mau jadi pelukis, kenapa harus belajar matematika sih". Karena, saya menyadari bahwa matematika itu bukan rumus, tapi cara berpikir. Dibuat "tes matematika" karena kita perlu sebuah medium konkret untuk menuliskan cara berpikir tersebut. sangat filosofis bukan.
Dengan kemampuan kognitif yang baik, maka kita akan dapat menjadi "cerdas" yang sebenarnya. Bisa menerima dan mengolah informasi dengan baik. Semua orang saat ini hidup di era VUCA, kita perlu cepat beradaptasi dan melihat peluang. Tanpa memiliki kemampuan kognitif yang baik, maka sangat mudah bagi kita untuk menjadi martir dan tersingkir dari peradaban. Belum lagi tentang politik dan demokrasi, socrates sangat membenci demokrasi karena menurutnya, ketika orang-orang bodoh disuruh untuk mengambil voting, maka hasilnya akan bodoh pula. Masyarakat dengan kognitif yang rendah pasti akan mudah untuk diadu domba dengan hoax, termakan oleh narasi-narasi palsu. Maka penting bagi kita untuk meningkatkan kualitas kognitif kita.
Permasalahan Pendidikan Indonesia I: Standardisasi
Oke, kita ingin "mencerdaskan bangsa". Pertanyaannya, standardnya apa? Menurut hemat saya, tes semacam PISA dan PIAAC ini bisa menjadi standard kemajuan kecerdasan kita. Kalau memang hasil PISA dan PIAAC kita rendah, maka kita harus jujur dan mengakui bahwa memang bangsa kita secara standard internasional masih di bawah rata-rata. Tapi tentu ini perlu menjadi semangat kita untuk terus berkembang.
Yang jadi masalahnya, apakah pendidikan kita saat ini sudah "sesuai" dengan standard yang sudah dibuat secara internasional?
Jika melihat cara bekerja kementerian pendidikan saat ini, tolok ukur yang kita gunakan sangatlah berpaku kepada kuantitas dibandingkan kualitas. Lihat saja, hasil transparansi yang ditunjukan oleh kementerian pendidikan adalah berupa sekian juta orang yang bersekolah, sekian ratus ribu sekolah dibangun, sekian ratus juta perbaikan fasilitas sekolah, sekian ribu orang menjadi sarjana. Pertanyaannya, memangnya itu berarti kita "cerdas"? Amanat UUD adalah untuk "mencerdaskan bangsa". Maka kita perlu punya standardisasi yang tepat tentang makna "cerdas" itu apa. Jangan terlalu naif, kita perlu standard internasional untuk bisa mendefinisikan "cerdas" itu apa. Karena kita semua hidup di zaman super cepat dan globalisasi, maka kita perlu memiliki kemampuan berpikir yang "berstandar global" juga
Permasalahan Pendidikan Indonesia II: Kualitas Pendidikan dan Guru
Jika kita sudah memiliki standard yang benar tentang "bagaimana itu cerdas", maka selanjutnya kita perlu menyesuaikan cara belajar kita dengan kualitas pendidikan yang terstandardisasi. Penekanan terhadap literasi, numerikal, dan sains, adalah kuncinya.
Lalu muncul pertanyaan: Bagaimana dengan kebutuhan anak seperti kemampuan estetika, moral, olahraga, dll?
Justru dengan kita menekankan pada pelajaran literasi, numerikal, dan sains (tok), maka jumlah pelajaran kita yang bejibun itu bisa banyak di-cut. Realita anak harus belajar dari jam 7 sampai jam 3 sore sangat menyeramkan. Pulang sekolah yang ada capek dan letih. Tapi dengan memfokuskan pada 3 pelajaran utama, maka jumlah pelajaran semakin sedikit, jam belajar semakin sedikit pula. Setelah itu anak justru akan punya waktu yang lebih banyak untuk aktualisasi diri: untuk ikut pesantren kilat, untuk belajar beladiri, untuk bermain sepak bola, untuk berlatih tari, dan lain-lain.
Kita juga selalu menggaungkan tentang kesejahteraan guru. Tentang guru yang gajinya sangat kecil namun bebannya sangat berat.
Yang saya pahami, kenapa gaji guru kecil salah satunya dikarenakan jumlah guru yang sangat banyak. Jumlah yang sangat banyak ini juga bisa terjadi dikarenakan mata pelajaran yang terlalu banyak tadi. Oleh karenanya, justru dengan memangkas mata pelajaran, maka akan membuat jumlah guru semakin terkendali, memiliki gaji yang besar, dan kualitas mengajar yang lebih baik.
----
Menurut saya, kita harus mulai berhenti berada pada status quo yang selama 20 tahun ini mengekang kita. Jika kualitas kognitif Indonesia masih begini-begini saja, bagaimana bisa kita mencapai bonus demografi 2045.
(Anyway, setelah tau kondisi kognitif kita seperti ini, saya juga jadi ikut berkaca diri, kok. Tau apa yang sedang saya lakukan sekarang-sekarang? saya jadi belajar ulang matematika! bukan untuk menghafal rumus-rumus. Tapi untuk mengasah cara berpikir yang runut, sistematis, detail, dan problem solving) Selamat menjadi jerome polin, all.














