Are we Watching Indonesian Democracy or Houses from Game of Thrones?
Melihat secara konseptual mengapa banyak masyarakat marah dengan partai politik di Indonesia.
Mungkin sudah banyak pengamat politik (bahkan yang tersohor dari luar negeri) menamakan demokrasi Indonesia sebagai Procedural Democracy. Saya coba uraikan salah satu poinnya berkenaan dengan kondisi kepartaian di Indonesia saat ini.
Berbeda dengan substantive democracy, demokrasi procedural memandang bahwa proses electoral menjadi nilai tertinggi dalam mendapatkan legitimasi. Seperti Namanya, procedural, maka di dalamnya memungkinkan banyak aspek-aspek yang justru agak sedikit kontra dengan nilai dasar dari demokrasi, salah satunya adalah kondisi kepartaian di Indonesia. Pada dasarnya, kehadiran partai adalah tanda terbesar dari sebuah negara yang menganut demokrasi. Partai adalah satu dari beberapa poin syarat sebuah negara dapat dikatakan menganut demokrasi. Kenapa seperti itu? Karena dalam konsep demokrasi rakyat memegang kekuasaan paling tinggi, sementara partai politik berfungsi sebagai tempat rakyat secara sah mempertarungkan kekuasaan. Partai politik pada dasarnya adalah sebuah “asosiasi” dari rakyat yang memiliki ide, gagasan, dan memiliki kekuatan untuk bertarung secara sah dalam posisi electoral. Maka saya tidak setuju dengan beberapa suara masyarakat (atau mahasiswa) yang berteriak “bubarkan saja partai”, atau melihat partai politik sebagai entitas elit yang kontra dengan masyarakat. Padahal dalam konsepnya, partai politiklah yang justru menjadi suara akumulatif masyarakat. Rakyat, pada dasarnya, membutuhkan partai politik untuk digdaya dalam negara demokrasi.
Meski begitu, saya memahami mengapa banyak masyarakat yang marah kepada partai politik saat ini. Terlebih lagi angka golput meningkat tajam setelah pilpres 2019 yang menunjukan ketidakpercayaan masyarakat terhadap calon yang dianggapnya “disandera partai” politik, yang padahal, partai politik adalah akumulasi dari suara dan keinginan rakyat. Alasan mendasar yang membuat partai Indonesia banyak tidak disukai masyarakat adalah karena, mereka-semua-sama-saja. Coba jelaskan apa perbedaan antara satu partai dengan partai yang lain? Gagasan utama mereka selalu sama. Bahkan Ketika penyampaian visi, tak jarang kita melihat mereka sama saja. Perbedaan baru terlihat di ranah kebijakan praktikal yang lingkupnya kecil. Ketika ditanya kebijakan tersebut dating dari mana, mereka membawa “ini suara rakyat”, rakyat yang mana? “rakyat Indonesia”, yang mana? Membingungkan. Membingungka karena semua berada pada spektrum ideologi yang sama. Setidaknya hanya ada dua ideologi di Indonesia, Nasionalis dan Islamis. Ini juga ditunjukan oleh table penelitian Burhanuddin:
Minimnya ideologi di Indonesia ini membuat kondisi partai politik kita sebenarnya sama saja. Ini juga menjelaskan mengapa berkoalisi antara parpol sangatlah mudah, bahkan dengan parpol yang awalnya bermusuhan. Ini juga sekaligus menjelaskan kenapa Jokowi bisa selalu berkata “saya sependapat dengan pak Prabowo” di momen debat presiden 2019. Bayangkan, sependapat dengan lawan politik di panggung debat presiden! Alamak. No, bukan berarti politik harus selalu bermusuhan. Namun demokrasi yang baik adalah yang dapat memberikan banyak alternatif opsi untuk kehidupan yang lebih baik. Jika sama-sama saja, buat apa kita memilih?
Alih-alih menawarkan opsi beragam untuk kehidupan yang lebih baik, saya mulai melihat partai-partai kita seperti Houses dari Game of Thrones. Dalam series favorit saya itu, ada beragam houses mulai dari Targeryen, Lannister, Stark, Baratheon, Greyjoy, Tyrell, Martyl dan lainnya. Mereka tidak didasarkan atas ideologi yang berbeda, satu-satunya yang menjadi pembeda dari setiap house adalah garis keturunannya saja. Lalu kemudian mereka bertarung untuk mendapatkan the Throne. Mereka mudah untuk bekerja sama ataupun mengkhianati house lain jika itu mendekatkan mereka kepada The Throne. (terlihat sama seperti partai Indonesia, bukan?)
Bahkan di Indonesia, partai pun banyak dibentuk dari garis keturunan. Perbedaan antara partai hanyalah siapa elitnya. Jadi sejatinya mereka tidak berasal dari “suara rakyat”, tapi dari elit yang ingin mendapatkan kekuasaan.
Berbeda dengan Indonesia, ideologi partai di negara negara Eropa dan Amerika sangatlah beragam. Mulai dari yang paling ekstreme konservatif, sampai ekstreme progresif. Mulai dari yang ekstrim agamis sampai yang ekstrim sekularisme. Kemauan mereka untuk berbeda, menghasilkan perdebatan yang memberikan banyak opsi untuk kehidupan. Contohnya debat pillpres di Amerika Serikat, Trump dari democrat yang konservatif tegas ingin menutup jalur imigran. Sementara biden dari liberalis yang progresif mendukung kedatangan imigran. Masyarakat diminta memilih mana yang lebih baik. Sangatlah jelas. Ada satu angin segar yang saya kira cukup baik untuk demokrasi kita saat pilpres 2024, yaitu pertentangan antara pro IKN dan kontra IKN. Sayangnya setelah pilpres berakhir, menjadi ambigu partai mana yang dulu menolak karena semuanya akhirnya setuju. Ya beginilah jika partai kita bukan dilandasi oleh ideologi dan idealisme yang kuat. Yang penting adalah mencapai kemenangan, bukan menciptakan gagasan yang kuat.











