#PINTERNET: PSIKOTERAPI ONLINE
Online counseling: Competing ethically and safely in a global Environment
Online conselling relative baru dan menyediakan metode pelayanan yang berkembang. Penelitian ini mendiskusikan macam-macam isu-isu legal dan etik di kelilingi oleh counselor yang professional, dan ketersediaan pedoman internet spesifik konseling dan rekomendasi psikolog.Penelitian ini diharapkan bisa mempromosikan etika bekerja online dan menyediakan konselor kesadaran yang dibutuhkan dan arah untuk bersaing secara aman dan ber etika dalam lingkungan global.
Ketentuan dari online konseling memerlukan resiko yang legal dan etik. Situasi seoerti itu memerlukan online konselor untuk melatih kepedulian dalam pekerjaan nya, untuk mengobesrvasi pedoman etik spesifik yang ada dan muncul dan berlatih merekomendasi, untuk melanjutkan pendidikan diri mereka sendiri dalam isu yang tiba- tiba muncul dalam konseling online, untuk melihat pelatihan formal untuk pekerjaan online jika dibutuhkan konselor yang memliki kompetisi.
Selama masalah etika akan selalu ada, diharapkan dalam diskusi ini terdapat konselor yang sadar dan mengarah untuk bersaing secara etik dan aman dalam lingkungan global. Dengan pelatihan dalam online konseling dan bertanggung jawab dan latihan etik, resiko yang melekat dalam pekerjaan online dipertimbangkan mengurangi dan konselor dapat mengambil keuntungan dengan kemungkinan yang besar dari konseling ini apakah sebagai pelayanan alternative atau dalam hubungan dengan beberapa metode pelayanan tradisional.
Khelifa, M. (2007). Online counseling: Competing ethically and safely in a global Environment.The Electronic Journal of the American Association of Behavioral and Social Sciences.Vol(10).Fall 2007.
The effects of online psychotherapy outlasted the results of face-to-face counseling
Apakah psikoterapi melalui internet itu bekerja? Peneliti klinis sudah meneliti apakah psikoterapi online dan terapi langsung(face to face) memiliki keseimbangan efektifitas. Berdasarkan penelitian baru-baru ini, peneliti Zurich dalam laporan jurnal Affective Disorders,berasumsi bahwa kedua terapi ini berada pada tingkat yang sama.Tidak hanya teori yang diterima, hasil dari terapi online bahkan melampaui harapan.
Penelitian populasi dimasukan, terutama, pasien yang menderita dari depresi yang cukup. Terdapat 8 sesi dalam treatment ini.
Pada akhir sesi, depresi tidak bisa di diagnosis 53% untuk grup online dan 50% untuk face to face terapi.
Menindak lanjuti evaluasi 3 bulan kemudian rasio untuk terapi online naik sampai 1.36. depresitidak bisa di diagnose dalam :
1. 57% untuk kelompok terapi online
2. 32% untuk kelompok face to face terapi.
Ketika anda mengharapkan kepuasan client dengan tingkat pelayanan yang lebih tinggi dibandingkan face to face terapi, hasil yang berlawanan di dapatkan:
1. 96% pasien dari kelompok terapi online dinilai berhubungan dengan therapist mereka sebagai “personal”
2. 91% pasien dari kelompok face to face dinilai berhubungan dengan therapist mereka sebagai “personal”
Suatu penjelasan untuk perbedaan sudah di sarankan yaitu tugas dipersiapkan untuk client pada terapi online tersedia secara elektronik diluar dan setelah sesi nya. Partisipan dalam terapi online mengindikasikan mereka harus membaca ulang koresponden dengan therapistnya dari waktu ke waktu.
3 bulan setelah menyelesaikan penelitian nya, 57% kelompok online tidak menunjukan adanya tanda depresi dan 47% untuk face to face terapi. Professor Andreas Maercker, mengumumkan hasilnya yaitu, terapi online menghasilkan hasil yang baik. Penelitian kami membuktikan bahwa pelayanan psikoteraputik dari internet merupakan suplemen yang efektif untuk pelayanan teraputik dibandingkan terapi face to face.
10.1016/j.jad.2013.06.032
Online therapy may be an efficient way to provide PTSD treatment to a large group of people
Baru-baru ini peneliti menyelesaikan penelitian tentang pilot berdasarkan internet. self-managed cognitive behavioral therapy (CBT) bisa membantu menurunkan gejala post-traumatic stress disorder (PTSD) and depression, dengan efek dari treatment akhir yang sudah selesai. Penelitian ini mendukung perkembangan terapi PTSD yang berfokus pada self-management dan innovative yang menyediakan kepedulian untuk banyak orang yang tidak mempunyai akses kesehatan mental atau yang mungkin enggan untuk peduli karena stigma. Peneliti menerbitkan penelitian ini pada November 2007, American Journal of Psychiatric.
Penelitian pilot dibandingkan dengan ke efektifan dari terapi prilaku cognitive online dan in-person supportive terapi dalam 45 perthanan pelayanan anggota yang menderita PTSD setelah perlawanan 11 september. Setelah 3 minggu berjalan nya terapi online mulai terlihat adanya perubahan. 6 bulan setelah pertemuan pertama yang diterima terapi online dilanjutkan adanya perubahan, perbedaan langsung dengan kelompok in-person.
Internet berdasarkan terapi perilaku cognitive membantu mengurangi gejala PTSD dengan efek yang lama sampai treatment yang berakhir.
Litz BT, Engel CC, Bryant R, Papa A. A Randomized Controlled Proof-of-Concept Trial of an Internet-Based, Therapist-Assisted Self-Management Treatment for Posttraumatic Stress Disorder. Am J Psychiatry. 2007 Nov;164(11):1676-84.