Doodle twice outfit at Melon Music Award 2017

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Japan
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from France
seen from China
seen from China
seen from Yemen

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Australia
seen from Japan
seen from China
seen from Italy
seen from China

seen from Russia
Doodle twice outfit at Melon Music Award 2017
Dorami fa sol la si do
My cat likes to bring something ‘special’ for me.
When you can hide behind your soulmate.
Kepala Batu
"Jangan lewat tempat itu".
Dia tetap melewatinya.
"Berhenti mengganggu mereka".
Dia tetap melakukannya.
Keras memang. Entah palu seperti apa yang bisa menghancurkannya, apa mungkin kita membutuhkan gada yang lebih besar dan kuat?
Keras memang. Bahkan orang tertegas sekali pun memilih untuk tidak berurusan lagi dengannya. Apa mungkin dia harus dihadapi dengan kelembutan tanpa batas? Tapi, siapa yang sanggup?
"Kamu bisa".
Itu yang selalu aku dengar dari tiap orang yang bertemu dengan kami.
"Kalian bisa bertahan selama ini. Pasti karena kamu punya stok sabar yang banyak".
Sahutan lain terdengar. Bisa iya, bisa tidak.
Mungkin kami hanya kepala batu. Keras memang.
Manusia Berpiyama
Hingar bingar musik di seberang jalan. Dentuman keras memecahkan suasana malam. Setilik mata mengintip dari balik jendela.
"Kepalaku pusing", gumamnya.
Sejak pagi pesta besar diadakan di rumah ini. Khas budaya pinggiran, hampir seluruh warga berkumpul membantu. Wangi bumbu dapur, teriakan bocah, asap rokok, tawa bercandaan bapak-bapak, dan bisikan gosip ibu-ibu berbaur menjadi satu di rumah yang berukuran sedang itu.
"Mungkin mereka akan berhenti siang nanti", gumamnya sambil berdiri di depan pintu, diam, tidak tahu harus melakukan apa?
"Ngumpul sama teman-temanmu sana nak, ngapain di situ?" Ibu menegur.
Ia mengangguk lalu duduk bersama beberapa anak muda yang sibuk meronce bunga untuk hiasan pesta.
A B C D bla bla
Ia terdiam, tidak tahu harus berkata dan menimpali apa.
"Sudah siang, kenapa orang-orang ini tidak ada capeknya sih?"batinnya.
Matahari mulai terbenam. Yang tadi sempat pulang, kembali lagi setelah membersihkan diri. Yang masih bekerja tetap bekerja seakan bau badan yang menyeruak tidak mengganggu mereka sama sekali.
"Masih belum selesai. Apa mereka tidak capek?" Ia tak habis pikir.
Roncean bunga terpasang, piring-piring telah tertata, panci serta wajan mulai terisi dengan berbagai macam makanan yang siap dituang ke pinggan besi di meja.
"Harusnya sudah selesai ya."
Nyatanya tidak. Apalah arti bekerja tanpa dilewati dengan ngopi serta ngobrol.
"Gak ada artinya". Ia berkata sinis dalam hati.
Rumah memang mulai sepi tetapi di seberang jalan sana masih tetap ramai. Seperti mereka yang menikmati segala ritual kebersamaan hari ini, ia pun kini menikmati kesunyian di rumah. Rasa pusing sejak pagi berangsur menghilang.
"Yang punya hajatan mana nih?"
Ia bergidik. "Tolong jangan minta aku kembali ke sana".
"Ada di rumah, mungkin lagi tidur soalnya capek". Ibu memang penyelamat.
Pembicaraan itu pun berakhir sebab seperti ada pemakluman kalau dia memang seperti itu. Tidak suka berkumpul, memilih berdiam diri di kamar sepenuhnya selayaknya manusia berpiyama.
Lingkaran Hidup
Kalau hari ini ada yang berduka, di suatu sudut dunia pasti ada yang bersuka cita. Kalau esok ada yang mati, dihari yang sama mungkin ada yang dilahirkan. Semua berjalan seperti itu. Entah yang mana bagianmu, itulah lingkaran hidup. Bisa jadi kamu berada disudut yang menyenangkan, bisa pula sebaliknya.
Bersyukurlah untuk segalanya