Hingar bingar musik di seberang jalan. Dentuman keras memecahkan suasana malam. Setilik mata mengintip dari balik jendela.
"Kepalaku pusing", gumamnya.
Sejak pagi pesta besar diadakan di rumah ini. Khas budaya pinggiran, hampir seluruh warga berkumpul membantu. Wangi bumbu dapur, teriakan bocah, asap rokok, tawa bercandaan bapak-bapak, dan bisikan gosip ibu-ibu berbaur menjadi satu di rumah yang berukuran sedang itu.
"Mungkin mereka akan berhenti siang nanti", gumamnya sambil berdiri di depan pintu, diam, tidak tahu harus melakukan apa?
"Ngumpul sama teman-temanmu sana nak, ngapain di situ?" Ibu menegur.
Ia mengangguk lalu duduk bersama beberapa anak muda yang sibuk meronce bunga untuk hiasan pesta.
Ia terdiam, tidak tahu harus berkata dan menimpali apa.
"Sudah siang, kenapa orang-orang ini tidak ada capeknya sih?"batinnya.
Matahari mulai terbenam. Yang tadi sempat pulang, kembali lagi setelah membersihkan diri. Yang masih bekerja tetap bekerja seakan bau badan yang menyeruak tidak mengganggu mereka sama sekali.
"Masih belum selesai. Apa mereka tidak capek?" Ia tak habis pikir.
Roncean bunga terpasang, piring-piring telah tertata, panci serta wajan mulai terisi dengan berbagai macam makanan yang siap dituang ke pinggan besi di meja.
"Harusnya sudah selesai ya."
Nyatanya tidak. Apalah arti bekerja tanpa dilewati dengan ngopi serta ngobrol.
"Gak ada artinya". Ia berkata sinis dalam hati.
Rumah memang mulai sepi tetapi di seberang jalan sana masih tetap ramai. Seperti mereka yang menikmati segala ritual kebersamaan hari ini, ia pun kini menikmati kesunyian di rumah. Rasa pusing sejak pagi berangsur menghilang.
"Yang punya hajatan mana nih?"
Ia bergidik. "Tolong jangan minta aku kembali ke sana".
"Ada di rumah, mungkin lagi tidur soalnya capek". Ibu memang penyelamat.
Pembicaraan itu pun berakhir sebab seperti ada pemakluman kalau dia memang seperti itu. Tidak suka berkumpul, memilih berdiam diri di kamar sepenuhnya selayaknya manusia berpiyama.