Mimpi Sari
Dalam perjalanan menapaki kehidupan di dunia yang fana, saat ini bumi tengah memikul beban dengan jumlah manusia 8 milyar. Belum termasuk benda-benda lainnya yang termuat didalamnya. Setiap individu memiliki cerita yang berbeda atau dengan rasa yang hampir sama. Perihal ikhwal dari segala aspek dan ranah yang kausal. Di sudut desa, tampak aura kuat seorang wanita tangguh bernama Sari. Sorot matanya teduh, wajahnya tenang dan irit dalam berbicara. Sari berusia 10 tahun. Ia tinggal di rumah sederhana berkayu dan tidak terlalu luas. Bersama ibu tiri ia bertahan hidup dengan kerasnya kondisi zaman. Sehari-hari ia membantu ibu tirinya di sawah, yang jumlahnya 3 petak. Itupun bukan milik pribadi, melainkan milik perusahaan property yang membeli tanah dengan harga murah dari warga desa tersebut. Pialang yang handal membuat warga terkecoh dan rela berbondong-bondong untuk menjual tanah mereka dengan tujuan mendapatkan uang banyak.
Pendidikan tidak menjamin kebahagian, setidaknya pendidikan mencetuskan gambaran pemikiran dalam penataan yang rasional.
Sari dan warga lainnya hanyalah petani kecil yang mengenyam pendidikan sebatas Sekolah Dasar, bahkan banyak diantaranya tidak sampai lulus, dilatarbelakangi oleh keterbatasan ekonomi. Pengetahuan serta cakrawala yang terbatas menjadikan Sari tidak punya pilihan lain selain membantu ibu tirinya mengelola ladang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sari bercita-cita menjadi seorang Guru, agar ia bisa memberikan pendidikan dan motivasi kepada penduduk disekitar serta mengentaskan kebodohan dari kapitalis para pialang. Usia yang seharusnya duduk dibangku SD, belajar bersama teman-teman, mengajukan berbagai pertanyaan kepada guru, serta bermain aneka macam permainan tradisional. Namun, itu belum terjadi dan ia masih menyimpan rapat-rapat mimpinya. Pun Sari-sari lainnya didaerah lain yang bernasib sama yang tidak tersentuh oleh program pemerintah dari sisi Pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan sosial.















