Aku termenung di bingkai jendela, jaraknya tidak terlalu tinggi dari atas jalanan. Pas diatas kepala orang yang melintas sambil mengendarai motor. Sebulan lalu aku mengucap kata perpisahan kepadanya meski aku masih cinta dan tetap sayang. Hanya masalah pikiranku yang resah karena lelah semata. Aku melamun di tepian jendela, menatap kosong halaman seberang yang berjarak beberapa meter. Tanpa sadar suara nyaring seperti kaleng mendekat. Bau asap knalpotnya bahkan sudah tercium, hingga vespa biru telur asin itu pun berhenti tepat di bawah jendelaku. Dia mendongak dengan helm retro yang masih membungkus kepalanya, tersenyum miring merasa canggung. "Sore.. Maaf aku mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan pesan bahwa ia tulus mencintaimu, ia ingin menghabiskan waktunya denganmu hingga tua, ingin berkata bahwa kamu adalah wanita tercantik dan teristimewa sepanjang hidupnya, ia mencintaimu," Sahut laki-laki itu, membuatku merasa mencelos karena sesuatu. "Ia hanya menitip pesan kepadaku," lanjutnya. "Kamu jangan lupa ibadah yaa, makannya jangan telat kamu punya luka di lambung, jangan begadang terus mentang-mentang banyak kerjaan, pokoknya jangan sering murung, cari banyak teman, cari pendamping yang jauh lebih baik dari aku, dan jangan bersedih karena aku. Maaf aku nggak bisa bilang langsung karena mungkin keadaan berkata lain. Berbahagialah my forever love!" Tanpa sadar akupun sudah terisak hebat karena adanya perpisahan yang mutlak antara dia dan dirinnya. -plutos