Kamu dengan hidupmu, aku dengan perasaanku, dan Allah dengan kehendakNya. Dimana kita kelak bertemu, adalah hak Allah untuk mempertemukan. Berjalan sajalah jangan terus bimbang. Serahkan segenap rasa ini hanya padaNya.

seen from Netherlands

seen from Italy
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from Poland
seen from Germany

seen from Italy
seen from Germany
seen from Canada
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Netherlands
seen from Uzbekistan

seen from Ecuador

seen from Italy
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from Netherlands

seen from Canada
Kamu dengan hidupmu, aku dengan perasaanku, dan Allah dengan kehendakNya. Dimana kita kelak bertemu, adalah hak Allah untuk mempertemukan. Berjalan sajalah jangan terus bimbang. Serahkan segenap rasa ini hanya padaNya.
Bila bersamanya kamu bahagia ; maka bersamanyalah. Namun jangan biarkan aku melihatnya. Sebab aku terlalu wanita untuk tak cemburu. Namun sayangku terlampau tulus ; melihatmu tak bahagia, akupun tak mampu.
Kita?
Kita adalah sepasang kata yang saling merahasiakan. Sepasang fikiran yang saling merumitkan. Sepasang hati yang saling menutupi keinginan.
Diam kita adalah saling menjaga, aku menjaga hatimu, dan kau menjaga hatinya. Agar yang hangat tak pernah kenal padam, meski membara berkali-kali dalam keheningan. Membakar jiwa sendiri, meledak-ledak lalu basah di pipi. Kemudian kuhapus berkali-kali agar tak kau dapati.
Kita adalah ruang kosong yang enggan tuk saling mengisi, selaksa sepi yang minta di hampiri. Kita. Adalah apa yang mungkin takkan pernah benar-benar menjadi “kita”.
Jangan pernah
Jangan pernah membaca tulisanku, karena kau tak akan pernah tahu di bagian mana aku memujamu dengan sangat.
Jangan salah menafsirkan kalimatku, sebab kau tak akan benar-benar memahami mana yang ku katakan dengan benar tanpa berpura-pura.
Jangan pernah! Mencuri makna dari kata-kataku, karena aku takut kau tersesat dan hilang arah.
Tanyalah pada mataku, bagaimana sepasang bola hitam itu berusaha berlari ketika matamu menangkap apa yang berulang kali ku sembunyikan dalam kata-kata.
Tanyalah pada raut wajahku, bagaimana aku tersenyum dengan hangat tiap kali aku menemukan sinar matamu yang teduh dan menenangkanku.
Tanyalah dengan caramu, saat pertama kali mengendap memenuhi degup jantungku.
Tanyalah dengan caramu setiap kali kau menatap dan diam-diam mengendap menyusupi hati yang sepi ini lalu menggenggamnya.
Bercintalah dengan sepasang mataku tanpa kata-kata.
Andai kau tau, bahwa kau dituliskan dengan lantang pada halaman buku seorang perempuan. Pertemuan denganmu diceritakan berulang-ulang bagai lagu baru yang setiap liriknya mewakili isi hati. Bahwa hampir disetiap waktunya namamu disebut berkali-kali, bahkan ditengah kesibukannya - wajahmu terbayang merayu hati.
Sebelum tidur, kau film paling menarik dalam isi kepala. Berputar hayalan tentang bagaimana kelak bila dia boleh berjodoh denganmu. Lalu dia tertidur dengan bahagia. Esok pagi, sebelum cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya, namamu dirapalkan bagai ucapan selamat pagi. Ia tersenyum seolah kau mendengar, seolah kau begitu dekat.
Apakah kau senang mendengarnya?
Dari satu perjalanan ke perjalanan lainnya. Kita melangkah dan mencari. Sesuatu yang membuat kita berhenti, sementara ataupun lama. Pada akhirnya kita hanya butuh sebuah tempat berhenti. Tempat untuk bersandar. Tempat untuk melabuhkan segala letih di perjalanan.
Aku pernah mencintai, sepenuh hati mencintai seseorang. Menjadikan dia satu-satunya duniaku hingga aku lupa mencintai diriku sendiri. Cintaku padanya sangat kuat, bagiku kebahagiaannya adalah yang utama yang harus ku perjuangkan. Meski kebahagiaanku menjadi yang kesekian tuk di perhitungkan.
Aku mencintainya bagai rollercoster yang memainkan hatiku, mengambung dan menghempas dalam waktu yang nyaris sama. Aku tertawa, bahagia dan menangis dengan semakin sulit membedakan airmata tawa atau kesedihan. Iya aku mencintainya, sangat mencintainya. Namun hari-hariku penuh dengan ketakutan, takut bila ia tak bahagia, takut bila ia merasakan hal berbeda, takut dia menemukan kebahagiaan lain selain aku. Hatiku bergulat dengan ketakutan-ketakutannya sendiri.
Hingga pada akhirnya aku sadar, bukan cinta semacam itu yang aku cari. Bukan cinta yang terus membuatku harus berkompetisi. Bukan cinta yang harus membuatku bimbang diantara membahagiakan diriku atau hatinya. Bukan itu.
Aku hanya butuh seseorang yang mampu menenangkanku, yang dengannya aku bisa meyakini bahwa masing-masing hati memiliki rumah untuk di huni. Bahwa masing-masing hati memiliki jiwa untuk bersandar dan beristirahat. Bahwa cinta yang tulus itu menenangkan, bukan memenangkan.
Aku hanya ingin seseorang yang dengannya aku merasa bahwa Tuhan memberikanku sepasang hati untuk di temukan. Bahwa segala tanya dan doaku punya jawaban pasti. Dan itu hanya dirinya. Yang dengannya aku mampu bersyukur dengan tenang telah berjuang melewati hari-hari sulitku.
Penyihir
Katamu kamu adalah seorang penyihir, dengan tongkatmu kamu bisa menyihir segalanya. Aku tidak percaya, dan terus tertawa mendengar mantra-mantramu.
Ternyata aku salah, kamu memang seorang penyihir. Semua candamu adalah mantra, semua ceritamu adalah mantra, semua nasihatmu adalah mantra. Gayamu, tawamu adalah tongkat sihir yang kau ayunkan, dan matamu adalah sihir yang paling ajaib.
Dan aku menikmati sihirmu, hingga tak ku sadari bahwa akulah yang tersihir olehmu.
Jangan Lupa Bahagia
"Jangan lupa bahagia?" Apa itu bahagia? Apakah menikah? Apakah menikah dan punya anak? Apakah menjadi Sarjana? Atau menjadi sarjana tidak cukup, tapi sarjana yang memiliki pekerjaan? Atau sarjana yang memiliki bisnis? Apakah bahagia itu memiliki rumah? Atau memiliki rumah dan mobil? Atau naik motor saja sudah bahagia? Bagiku, bahagia adalah ketika kita bisa menikmati hidup kita. Hidup sendiri atau berdua. Memiliki rumah atau mengontrak. Memiliki anak atau tidak. Memiliki kendaraan atau tidak. Selama kmu bisa menikmatinya, bersyukur dengan apa yang kamu miliki. Tidak menyusahkan orang lain. Maka itulah bahagia. Memiliki ini dan itu hanyalah parameter. Dan masing2 kepala memiliki parameter sendiri tentang "bahagia" tentang rasa "cukup". Bila kamu menikah, punya suami yang baik, anak yang lucu lalu kamu bahagia, syukurilah. Namun bukan berarti yang belum menikah, yang belum punya anak itu tidak bahagia. Selama dia bisa menikmati hidupnya maka dia juga bahagia. Maka janganlah menilai kebahagiaan seseorang dengan ukuran kebahagiaanmu. Karena setiap hati memiliki rasanya masing-masing. Jika kamu bahagia dengan hidupmu saat ini. Maka bersyukurlah. Oleh ; PluviLyu