[Baharagu]
Suatu hari salah satu seorang murid saya hampir dua minggu tidak masuk sekolah. Saya mendengar kabar bahwa dia sakit sepulang dari mengambil kayu manis dihutan. Lalu saya memutuskan untuk menjenguk bersama beberapa murid yang lain, yang ternyata dusun tempat ia tinggal cukup jauh jaraknya. . Saya bertemu orang tuanya dan sekaligus silaturahmi pertama kerumah murid saya tersebut. “Garing napa cil inya?” saya mencoba menanyakan apa sakit yang di derita murid saya tersebut. “Kadak tau pak ai, bulik mengayu manis inya garing. Kawa haja diganggu arwah apih sidin”. Intinya sih kemungkinan anak tersebut diganggu oleh arwah di hutan. “Kadak diperiksa ke puskesmas haja cil ai”. “Kadak pak ai, kaina dibaharaguakan”. Artinya nanti anak tersebut akan di baharagu, yaitu upacara penyembuhan orang sakit secara adat Dayak Meratus. . Dalam tradisi adat Dayak Meratus jika seseorang sakit maka ada tradisi penyembuhan melalui tradisi baharagu. Baharagu dipimpin oleh seorang balian (tokoh adat) Dayak Meratus. Melalui pembacaan dan lantunan doa-doa. Biasanya pula disiapkan beberapa sesaji dalam upacara tersebut. Lantunan musik Dayak Meratus selama prosesi juga turut mengiringi. . Prosesi penyembuhan ini telah dilakukan secara turun temurun. Balian mampu menerawang alam semesta dan melihat penyakit apa yang di derita oleh orang tersebut. Kesaktian para tokoh Dayak Meratus mempunyai tujuan yang baik karna untuk penyembuhan menurut masyarakat Dayak Meratus. Begitulah obrolan saya dengan salah satu tokoh adat Dayak Meratus. . Inilah kesempatan saya pertama menyaksikan penyembuhan secara tradisional. Sebuah prosesi yang tidak akan mungkin saya temui di daerah lain. Yang ternyata kita ini kaya akan banyak budaya, dan gak mungkin akan bisa diseragamkan, dan yang bisa itu diberagamkan. #episodejuang #loksado #dayak #kalimantan #wonderfulindonesia #pm16 #adatdayak https://www.instagram.com/p/B9PJcR3goaE/?igshid=1ttisx6e7wqcx













