Pohon Jati erat kaitannya dengan musim kemarau. Karena pada musim kemarau pohon jati akan menggugurkan daunnya untuk mengurangi penguapan juga sebagai bentuk adaptasi agar dapat tetap bertahan hidup dalam tanah kering akibat kemarau.
Perlu kalian ketahui, Pohon Jati ternyata ikut berkontribusi dalam upaya konservasi air loh! Selain terkenal dengan kualitas kayunya yang disulap menjadi furnitur menawan, pohon satu ini mampu mengurangi potensi longsor, dan menjaga pasokan air di suatu wilayah.
Susunan akar Jati dapat tumbuh mencapai 1,5-2 meter. Tapi, jika tanahnya gersang maka susunan akarnya sangat dangkal yaitu berkisar antara 70-80 cm saja. Dalamnya akar pohon jati inilah yang membuat jati tahan terhadap segala guncangan dan terpaan angin. Akar tersebut mampu menyerap air dengan optimal dan menyimpan sumber air dalam jangka waktu yang lama sehingga akan bermanfaat di musim kemarau.
Di Mojokerto upaya penanaman Pohon Jati dilakukan langsung oleh Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Perhutani Mojokerto pada tahun 2014 silam. Ribuan bibit Jati Plus Perhutani (JPP) ditanam di wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Mantup.
Penanaman Jati ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa peduli terhadap eksistensi hutan juga dapat mengedukasi setiap pribadi tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan.
Konservasi Air dan Hutan tentunya sangat penting untuk menjaga kelestarian air juga tumbuhan yang ada agar keseimbangan alam dan hutan tetap terjaga, baik kuantitas maupun kualitasnya. Juga sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan, kita wajib untuk menjaganya.














