Mengungkap Kekuatan Sparta: Struktur Sosial dan Militer dalam Polis Legendaris
Mungkin sudah banyak yang tau mengenai polis yang berasal dari daratan Yunani kuno ini, Polis sparta sma seperti yang digambarkan dalam film terkenal "The 300 Spartans". Polis sparta merupakan salah satu polis terkuat yang ada di Yunan Kuno, polis sendiri merupakan sebutan untuk sebuah negara kota yang ada di zaman Yunani Kuno ada beberpa Polis yang terkenal pada masa itu salah satunya adalh Polis Sparta, walau jumlah poulasi penduduknya tidak sebanyak polis lain namun Sparta menjadi salah satu kota yang terkenal dengan kekuatan militernya dan salah satu yang terbaik dari peradaban Yunani Kuno, dan bersama kota Athena mereka menjadi pemimpin Bangsa Yunani melawan Imperium Perisa.
Sparta atau Lacedaemon adalah ibu kota Laconia yang terletak di lembah Peloponnesia,sekitar 15 mil dari laut berdekatan dengan gunung Hemmed yang di dominasi oleh Bangsa Doria di bagian Sekatan Yunani. Seperti yang diceritakan dari para pendulu awal mula penduduk Sparta berasal dari Pulau Kreta mereka berhasil menaklukan penduduk asli wilayah tersebut yaitu orang Laconia dan Messenia dan menjadikannya wilayah sparta, dan orang orang dari bangsa jajahan tersebut di jadikan budak yang disebut sebagai Helot dan tidak memiliki hak-hak sebagai warga negara. Namun karena Bangsa Doria adalah bangsa yang mengkoloni bangsa Laconia dan Messenian maka jumlah mereka menjadi minoritas, hal ini membuat mereka menjadi khawatir terhadap pemberontakan yang akan dilakukan oleh para Helot. Kecurigaan tersebut men-jadikan platform politik dan peme-rintahan bangsa Doria bersifat oligharkis-militeristik.
Bidang Sosial dan Ekonomi
Orang Spartan dikenal dengan orang yang suka pergi berperang, dengan menggunakan helm perunggu besar, pelindung dada dan pelindung pergelangan kaki, serta membawa perisai bundar yang terbuat dari perunggu dan kayu, tombak dan pedang yang panjang. Spartan membagi masyarakat dalam tiga kelas sosial, yaitu warga kelas satu yang berasal dari bangsa Doria yang hidup di perkotaan disebut dengan Spartiates atau spartan yang memiliki hak-hak politik yang jumlahnya 5-10% dari seluruh penduduk (Djaja 2012:13). Spartiates yang dianggap sebagai warga terhormat umumnya hidup di barak barak militer yang disebut Homoioi, dan mereka yang tidak berada di barak militer dianggap Inferior yang disebut Hypomeion, bagi Spartan lebih baik mereka maju berperang dan maju mengambil banyak tawanan dibandingkan melakukan pekerjaan seperti berkebun dan berladang. Lalu kelas kedua adalah warga yang tinggal di pedesaan di sekeliling mereka yang disebut Perioikoi atau Perioeci yang memiliki arti penghuni sekitar atau tetangga, yang bekerja sebagai petani bebas maupun pekerja yang membuat senjata untuk para Spartan. Mereka tidak diizinkan untuk menikah dengan warga Spartan dan tidak memiliki hak-hak politik.
Sedangkan yang berada di kelas ketiga atau paling bawah adalah mereka yang tidak memiliki kebebasan yaitu budak negara yang disebut Helots yang berarti tawanan. Selain menjadi budak negara ada juga budak yang bekerja secara pribadi di dalam keluarga spartan yang disebut dengan Douloi. Mereka merupakan pekerja yang dibayar untuk membantu pekerjaan rumah tangga, para spartan tidak diberikan dengan urusan rumah tangga sederhana seperti membersihkan rumah dan menjadi petani karena fokus para spartan adalah dalam bidang militer. Karena spartan merasa kalah jumlah dengan kaum Helot mereka memperlakukan kaum tersebut dengan brutal dan menindas mereka dalam upaya mencegah pemberontakan dari kaum Helot. Para Spartan akan mempermalukan para Helot dengan memaksa mereka untuk meminum wine hingga mabuk parah yang kemudian akan membodohi diri mereka sendiri di depan umum hal ini dijadikan hiburan oleh para Spartan. Spartan juga diizinkan untuk membunuh kaum Helot yang dianggap terlalu pintar atau terlalu sehat diantara yang lain, para helot juga sering dijadikan sasaran belajar beladiri oleh para Spartan. Seorang spartan umumnya dibantu dengan 7 budak yang membuat mereka tidak perlu melakukan pekerjaan remeh-temeh dan hanya fokus dalam pelatihan militer, namun hal ini juga yang membuat Spartan harus siap siaga dari pemeberontakan yang bisa saja sewaktu waktu dilakukan kaum Helot. wanita yang hidup di Sparta juga memiliki hak yang sama dengan lelaki sparta, tidak seperti di Polis Lainnya wanita sparta diizinkan untuk mengelola properti tanah sendiri dan tidak dibebankan dengan pekerjaan rumah tangga, wanita sangatlah berharga di Sparta
Militerisme Sparta
Orang Sparta sangat terkenal dengan militernya yang kuat, salah satu metode yang digunakan untuk memperkuat militer mereka adalah dengan tradisi Agoge. Hal ini telah diterapkan sedari para Spartan lahir, apabila yang lahir anak perempuan maka kemungkinan besar anak itu diizinkan hidup, lain halnya jika anak yang lahir tersebut adalah laki-laki, maka anak tersebut akan diperiksa oleh badan Gerusia apakah anak tersebut pantas untuk menjadi laki-laki Spartan, apabila ditemukan kecacatan atau dinilai tidak layak maka anak tersebut akan ditinggalkan di dasar suatu gunung dibuang karena dirasa tidak memenuhi standar dan tidak pantas. Anak laki-laki yang lulus dan bertahan hingga 7 tahun wajib melakukan Agoge yaitu program pelatihan dan edukasi fisik yang keras, anak-anak akan diajari hidup di belantara, latihan disiplin dan pelatihan pertarungan. Pada umur 7-17 tahun lelaki Spartan harus meninggalkan orang tuanya dan masuk ke asrama untuk didik menjadi seorang prajurit setelah kepalanya dicukur gundul (David 2005:325). Anak-anak ini dikirim ke rawa-rawa untuk mencabut alang-alang yang akan dijadikan sebagai alas tidur dengan perbekalan yang sedikit dan hanya diizinkan mandi 2 kali setahun serta menggunakan air dingin. Di saat usia 12 tahun baju anak-anak akan disita dan hanya diberikan satu kain yang digunakan untuk dijadikan pakaian dan alas tidur. Lalu ketika berusia 16-17 mereka akan diasingkan untuk hidup di hutan yang akan dibarkan sleama satu minggu dan dianjurkan membunuh dan mearampok kaum Helot. Pada usia 17-20 tahun mereka dibentuk menjadi seorang crypteia, yaitu seorang polisi rahasia yang ditempatkan diantara para helots. Pada usia 20 tahun lelaki Spartiates diizinkan untuk menikah, meskipun belum boleh berkumpul dengan istrinya dan tetap tinggal di barak militer. Baru pada usia 30 tahun seorang Spartiates diakui sebagai warga negara penuh yang 8 memiliki hak-hak politik. Pendidikan yang ditanamkan adalah atletik, latihan fisik dan indoktrinasi untuk mencintai negara. Tidak hanya dilatih secara fisik para pemuda Spartan juga dilatih berkomunikasi,sosialisasi, dan jiwa korsa. Program ini akan melahirkan pria-pria tangguh yang siap menjadi prajurit Sparta yang tugasnya bertempur serta terampil dalam gaya pertempuran Yunani Kuno dalam formasi Phalanx yaitu tentara para prajurit bekerja sebagai satu unit dalam formasi yang dekat dan dalam,melakukan manuver masa yang terkoordinasi, di dalam militer Spartan tidak ada satu prajurit yang dianggap lebih unggul dari yang lain. Para lulusan Agoge ini disebut sebagai tembok pertahanan oleh Lycurgus karena Sparta adalah satu satunya kota Yunani yang tidak dilindungi oleh tembok pertahanan karena sudah dirobohkan oleh Lycurgus karena menurutnya hak tersebut dapat menumbuhkan sikap militeristik warganya.
Polis Sparta adalah salah satu polis atau negara bagian yang kuat dari peradaban Yunani Kuno yang didiami orang dari bangsa Doria di lembah Peloponnes. Sparta di kenal dengan militernya yang sangat kuat dengan kekuatan utama pada militer darat dengan pelatihan militer yang keras dengan sistem Agoge yang berhasil menghasilkan prajurit prajurit untk berperang. Sparta sempat melakuakn perang saudara dengan polis lain di Yunani yaitu Athena dankemenangan ada di tangan Sparta, tetapi tidak lama setelah itu Sparta mengalami kemerosotan. Walaupun tidak ada yang bisa mengalahkannya di dalam pertempuran tapi setelah musuhnya mempelajari strategi perang yang dimiliki oleh para Spartan maka para Spartan tidak akan bisa tahan dengan serangan musuh, dan populasi mereka yang sedikit tidak bisa menggantikan prajurt yang kalah dalam medan perang. Dan akhirnya Sparta di kalahkan oleh Thebes dalam pertempuran leuctra pada tahun 371 SM.













