Santri Milenial Indonesia untuk Peradaban Dunia
Santri Milenial adalah sebutan untuk pelajar atau (thalabul Ilmi) yang belajar di Pondok Pesantren selama kurun waktu yang lama. Mereka biasanya bermukim.
Sementara istilah milenial merupakan generasi yang lahir antara 1988 hingga tahun 2001 atau tepatnya setelah ledakan Bom WTC di Amerika Serikat.
Perlu dicatat bahwa istilah santri hanya ada di Indonesia yaitu pelajar yang khusus belajar ilmu agama Islam di Pondok Pesantren.
Sementara Pesantren di Indonesia sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka yaitu sebelum tahun 1945. Artinya bisa dibilang Pondok Pesantren merupakan tempat belajar keislaman pertama di Indonesia.
Bagaiamana peran santri di era milenial atau era digital seperti hari ini?
Merujuk kepada pesan yang digaungkan oleh KH Ma’ruf Amin atau Wakil Presiden Republik Indonesia 2021, beliau menyampaikan pesan-pesan berikut ini:
Setidaknya ada 3 peranan santri milenial untuk menghadapi tantangan global saat ini
1. Santri harus terus berperan untuk menjelaskan Islam yang Rahmatan lil alamin dalam menjawab tantangan global dan kontemporer.
Santri harus mampun menjelaskan dan menjadi pembeda serta menanamkan pemikiran yang moderat yang Tawassuth, dan melawan pikiran yang ekstrim
Dan mampu menjelaskan karakter-karakter Islam yang selalu berimbang (tawazun) dan toleran (tasamuh).
Kita berharap agar kita selaku warga Nahdlatul Ulama (NU) senantiasa melakukan gerakan perubahan, inovasi untuk kemaslahatan umat dan membangun pusat-pusat perubahan dan inovasi di mana pun kita berada.
2. Santri dapat dan perlu berperan aktif berkontribusi pada perdamaian dunia.
Peran ini dibutuhkan untuk memperkuat inisiatif-inisiatif yang telah dilakukan pemerintah Indonesia yang selama ini sangat aktif dalam berkontribusi dalam perdamaian dunia.
Kita sering mendengar bagaimana Indonesia selalu bersuara lantang untuk terus membela palestina.
Kerja pemerintah di bidang diplomasi perlu didukung dan dilengkapi dengan apa yang disebut scond track diplomacy.
Saat saya masih aktif di MUI, ketika menjadi tuan rumah pertemuan tree ulama di Bogor yang diikuti para ulama Indonesia, Afghanistan dan Pakistan yang menghasilkan deklarasi ulama untuk perdamaian di Afghanistan (Bogor Declaration) telah turut menyumbang proses rekonsiliasi nasional menuju perdamaian di Afghanistan.
Dalam konteks inilah PCINU luar negeri, saya yakin dan melaksanakan diplomasi jalur ke dua melalui penyelenggaraan dialog-dialog antar agama, budaya dan antar peradaban yang menampilkan Islam yang moderat dan toleran serta kebijakan negara yang mendukung demokrasi dan perlindungan hak-hak asasi manusia termasuk bagi kelompok minoritas.
Di era digital ini diplomasi yang dimaksud tidak hanya berbentuk komunikasi langsung tapi juga bisa melalui media elektronik dan cetak.
3. Santri harus mampu menjadi perekat persatuan bangsa.
Persatuan adalah kunci bangsa kita untuk maju bersama. Mentalitas dan semangat untuk bersatu ini harus terus diperkokoh, ditengah-tengah adanya perbedaan kelompok yang semakin tajam.
Persatuan dan kerukunan tidak hanya dalam antar umat atau organisasi Islam tapi juga dengan umat agama lain.
Sekian, semoga apa yang kami tulis bisa bermanfaat bagi para pembaca khususnya kamu Santri Milenial Indonesia di mana pun Anda berada. Salam











