Pertanyaan yang sering ditemukan setiap kali bertemu orang baru. Jawabannya seringkali spontan dan klise atau bahkan template yang selalu berulang; menjawab dengan nama, tempat tinggal, asal daerah ataupun kesibukan saat ini entah di pendidikan atau pekerjaan. Sebuah pertanyaan yang kadang kala membuat kita bingung dan cenderung tak menghargai diri kita; kok aku begini doang ya ternyata...
Lalu, bagaimana cara mendefinisikan diri kita sendiri?
Kamu bukanlah apa jabatanmu
Aku pernah, ada di posisi sedang memiliki sebuah jabatan atuapun bergaining position yang akhirnya membuat rasa kepercayaan diriku tinggi. Bangga dan dengan lantang menjawab “Saya Hasna” diikuti dengan penjelasan jabatan pada saat itu. Rasanya seperti I am on top of the world.
Tapi rasa sombong akan sesuatu yang fana itu ternyata membuat diri ini tertampar dan tersadarkan, ternyata lagi-lagi jabatan hanyalah sekedar jabatan, tak mendefinisikan siapa diri kita yang sebenarnya.
Ya, jabatan itu yang dulu ku elu-elukan. Menjadi sumber rasa berdayaku ternyata bukanlah milikku, tetapi milik perusahaan tempat aku bekerja yang dapat sewaktu-waktu digantikan oleh siapa saja. Aku diminta untuk menyelesaikan jabatanku dengan berbagai alasan yang tak ku mengerti dan hanya ada pilihan “baiklah, aku yang akan meminta selesai”. Seketika pun aku merasa hilang dan hampa, Siapa aku?
Mencoba bertanya ke diri sendiri
Hilang, galau, gundah hingga perasaan apakah aku tak seberharga itu mencabik-cabik pikiran dan perasaan. Penyesalan, kemarahan dan kekecewaan menjadi emosi yang menghampiri datang dan pergi. Tak jarang kutemui diriku menangis sesenggukan seorang diri tiba-tiba.
Sebenarnya, ada apa yang salah denganku? begitu tanyaku.
Ternyata aku tak sepenuhnya paham siapa diriku. Tak benar-benar tahu apa yang berhak mendefinisikan diriku. dan tak sadar bahwa aku bukanlah apa yang datang menghampiriku.
Kita bukanlah kekaguman orang lain terhadap kita
Kita bukanlah apa yang melekat di tubuh kita
Kita bukanlah jabatan yang saat ini ada
Kita bukanlah semua yang ada di sekeliling kita
Dan bukankah Kita adalah sebuah proses mengenali diri terus menerus sepanjang hidup?
Bersiap bukan berambisi
Ya, mungkin yang harus kita sadari bahwa hidup adalah sebuah proses terus menerus. Di setiap proses mungkin kita memiliki tujuan, tapi tujuan bukanlah yang mendefinisikan kita. Proseslah yang membentuk dan dapat membantu kita mengetahui diri kita sepenuhnya. Proseslah yang membuat kita untuk bersiap menjadi diri yang penuh harap.
Ibaratnya kita memiliki keinginan menjadi seorang CEO, itu mungkin hanyalah ambisi tentang sebuah tujuan. Kita tak pernah benar-benar paham apakah itu yang kita mau? apa yang harus dilalui untuk ke tahap itu? Apa saja yang diperlukan untuk menjadi CEO? Apakah akan selesai dengan menjadi seorang CEO? Lantas mengejar jabatan itu apakah akan membuat kita puas? Entahlah...
Yang mungkin bisa kita sadari, kalau hanya sekedar menjadi CEO ya sudah buat saja sebuah startup dan labeli diri kita menjadi CEO, seperti banyaknya fenomena anak muda sekarang. Tapi, kalau seperti itu lantas dimana kapabilitas kita? apakah menjadi CEO cukup? apakah kita bisa membawa pertumbuhan yang baik ke startup kita?
Bahkan Steve Jobs, pernah dikeluarkan dari perusahaan yang dibangunnya sendiri. Jabatan bukanlah akhir, menjadi CEO bisa jadi hanya ambisi yang terlahir. Tapi proses kita membentuk diri agar layak menjadi apa yang kita inginkan adalah sebuah proses yang tak boleh kita hindari.
Ya, bersiaplah dengan meningkatkan kapabilitas dan kualitas diri setiap hari.
Mungkin kamu bisa mencoba metode gap analysis yang dapat membantumu bersiap dalam menjadi versi terbaik dari dirimu. Agar kamu bisa mencoba belajar untuk mengenali dan mendefinisikan diri sendiri.
-------------
Dalam rangka kembali mengenali diri sendiri, aku mencoba menchallenge diri untuk menyediakan waktu 15 menit per hari menulis dengan menjawab 101 question yo ask yourself in life.
Tulisan ini berkolaborasi dengan ilustrasi dari @byakilaa
Business Owner Todd Treharne published a press release titled: What Do I Want?
This is a very powerful question to ask your self- and I encourage you to ask it frequently! “The people who send out positive thoughts activates the world around them positively and draws back to themselves positive results.” -- Norman Vincent Peale