Youth Missionary T-shirt Model for PPGT #yfc #ppgt #pyc2018 #kusugbotestifies https://www.instagram.com/p/Bpg6lUEFmnmPbC6o66NBle14vMg3vPgk3FLJ-c0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1mg5eojiltfvt

seen from Yemen
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from United States

seen from Brazil
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from Chile
seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from United States

seen from South Korea
seen from China
seen from China
seen from Russia
seen from Belgium
Youth Missionary T-shirt Model for PPGT #yfc #ppgt #pyc2018 #kusugbotestifies https://www.instagram.com/p/Bpg6lUEFmnmPbC6o66NBle14vMg3vPgk3FLJ-c0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1mg5eojiltfvt
“Hei, ayo bangun. Kita sudah sampai.” Suara seorang lelaki membuat saya terbangun dari tidur malam itu. Ternyata kami sudah tiba di sebuah lapangan dekat gedung yang kepadanya disematkan nama seorang muda berdarah Belanda yang gugur pada 26 Juli 1917, dengan dada tertombak dalam misi pemberitaan Injil di Toraja, Antonie Aris van de Loosdrecht. Gedung ini sekaligus sebagai tempat para pengurus pusat PPGT berkantor.
Rasa kantuk masih sangat terasa. Tulang-tulangku serasa jadi empuk semua. Kantong mata saya seperti diberi beban beberap kilogram. Rasa malas bergerak menghampiriku. Perjalanan panjang dari Makassar ke Toraja sangat melelahkan.
Meskipun alunan beberapa potong lagu dari pemutar musik miliki pak sopir menemani perjalanan kami, rasa kantukku tetap terasa. Alhasil, hal terakhir yang saya ingat adalah beberapa jam sebelumnya kami singgah untuk menikmati bekal yang telah disiapkan, tapi sungguh malang, piring untuk makanan lupa diangkut. Tumpukan piring yang telah disusun rapi itu tertinggal di dalam sebuah ruangan di gedung bernomor 246 di Jalan Perintis Kemerdekaan kilometer 11 Makassar, tepat di bawah kantor Badan Pekerja Klasis Makassar. Kami menyebut tempat itu sekretariat PPGT Klasis Makassar.
“Halo, selamat malam. Rumah kamu di bagian mana? Kami ada di Lapangan Bakti”. Saya mencoba menelpon seorang teman yang rencananya akan memberi kami tumpangan selama di Toraja. ”Malam Kak. Di Jalan Palopo, gang 3”, jawabnya.
Tak berlama-lama, saya langsung memberikan informasi tentang alamat itu kepada sopir yang mengantar kami. Dalam waktu sekejap, kami tiba di depan lorong kecil samping sebuah gereja, di gang 3. Kami mencoba menelusuri lorong yang lebarnya sekitar 2 meter sesuai petunjuk dari si pemilik rumah. Kami tiba di sebuah rumah yang cukup besar, berlantai dua. Dindingnya terbuat dari tembok dengan cat berwarna kuning dan putih. Jaraknya sekitar 50 meter dari jalan utama.
“Selamat malam. Ayo masuk”. Pemilik rumah menyambut kami dengan penuh senyuman. Minuman pengusir hawa dingin angin malam yang disertai hujan rintik langsung dipersiapkan. Gelas berisi teh hangat tersuguh di meja kaca yang tingginya sekitar setengah meter.
Sambil menikmati minuman yang disiapkan, saya mencoba berkomunikasi dengan pemilik rumah untuk mengatur tempat tidur bagi 25 orang. Saya ditunjukkan ruangan di lantai atas yang ternyata telah dipersiapkan sebelum kami tiba dan sebuah kamar di lantai bawah yang kemudian menjadi kamar bagi 3 wanita ikut yang bergabung dalam rombongan.
Rasanya sungguh legah dan bahagia. Bagaimana tidak, malam itu kami telah diterima dengan baik dan bisa beristirahat di rumah tersebut sebelum memulai petualangan yang sesungguhnya di pagi hari nanti. Tapi, ternyata jadwal tidur masih harus tertunda. Persiapan untuk sarapan dan bekal makan siang sudah harus disiapkan. Saya tak bisa berbuat lebih banyak, hanya bisa sedikit membantu dan melemparkan candaan kepada mereka yang sedang bekerja. Saya paham, mereka pasti merasakan hal yang sama dengan saya, lelah dan mengantuk. Tapi, saya pun percaya mereka melakukan pekerjaan ini dengan hati yang ikhlas.
Saya mencoba melirik ke jam dinding yang sedari tadi memperhatikan kami, jarumnya menunjukkan pukul 01.50. Saya mengajak mereka yang masih sibuk bekerja untuk segera istirahat. Ruang kosong di dekat meja makan di samping dapur, yang beralaskan karpet berwarna merah, menjadi pilihan terbaik untuk membaringkan tubuh yang lelah dalam perjalanan. Tak lupa, saya mengatur pengingat waktu di ponsel milikku. Saya berdoa sejenak dan akhirnya tertidur. Saya tak ingat apa-apa lagi.
*****
Ti…tit… ti….tit… Tepat pukul lima pagi, ponselku berbunyi. Ia membangunkan saya sekaligus mengingatkan bahwa waktunya telah tiba. Hari yang dinantikan itu datang juga, Selasa 28 Maret 2017.
Saya bergegas mencuci muka dan kembali ke tempat tidur mengambil posisi duduk bersila. Saya sangat bersyukur pagi itu semuanya baik-baik saja. Saya berdoa, berharap Tuhan menuntun kami dalam rencana hari itu—penanaman pohon di hulu Sungai Sa’dan yang entah tempatnya di bagian mana. Menurut informasi, lokasinya bernama Sarang-Sarang, Sa’dan Ulusalu. Bagi saya, nama Sungai Sa’dan cukup familiar di telinga, tapi saya benar-benar tidak mengetahui kondisi dan letak lokasi penanaman pohon. Saya memang berdarah asli Toraja bahkan lahir dan besar di Toraja, tapi saya menikmati masa kecil dan remaja hanya di sekitar kampung tempat tinggalku, Sangalla’.
Pukul 06.00 semuanya telah bangun. Semuanya mulai sibuk mempersiapkan segala hal untuk perjalanan hari itu, termasuk berbagai perlengkapan. Pagi itu, saya belanja kebutuhan tim di sebuah pasar yang katanya disebut pasar pagi. Saya pun tak tahu mengapa namanya pasar pagi, padahal pasarnya buka dari pagi sampai sore. Di sela-sela kunjungan ke pasar, saya mencoba singgah sejenak ke gedung A. A. van de Loosdrecht, gedung yang dibangun selama puluhan tahun, tapi baru bisa ditahbiskan Desember tahun lalu. Saya berjumpa dengan beberapa orang yang juga sedang bersiap-siap berangkat ke lokasi penanaman pohon.
Jam 9 pagi, saat semua kebutuhan telah dipersiapkan, sebuah truk berwarna merah parkir tepat di depan lorong. Mobil ini yang akan mengangkut kami menuju ke lokasi penanaman. Kami mendapat tambahan dua orang pemudi yang juga tergabung dalam anggota PPGT Klasis Makassar, yang beberapa waktu terakhir pindah dari Makassar ke Toraja dan seorang pemuda yang saya belum kenal sebelumnya.
Sebelum memasuki wilayah tanpa jaringan internet, berbekal tethering wifi hotspot seorang teman, saya menyempatkan diri menyampaikan ucapan selamat hari raya Nyepi dengan sebuah gambar yang saya telah siapkan sebelum ke Toraja. Saya selalu ingat, hari itu umat Hindu sedang menyepi.
Awalnya saya berpikir, lokasi penanaman tidak jauh dari jalanan dan dapat dijangkau truk yang kami tumpangi. Tapi, ternyata tempatnya di atas gunung. Suasana ramai dan penuh tawa dalam truk tiba-tiba harus berhenti. Setelah melewati jalanan berliku dan menanjak, truk yang kami tumpangi tak bisa melanjutkan perjalanan sampai ke tempat tujuan. Jalanan yang separuhnya ditembok dan separuhnya berlumpur cukup sulit dilalui. Banyaknya kendaraan milik peserta lain yang parkir di sepanjang jalan menambah sempitnya jalanan. Meskipun dengan agak berat hati, untuk bisa tiba di tempat tujuan, tidak ada pilihan lain, harus jalan kaki.
Saya mencoba mengorek informasi dari warga yang bermukim di sekitar untuk bisa mendapat sedikit gambaran perjalanan menuju lokasi.
“mambelapa langngan tanta?”, saya bertanya dalam bahasa Toraja untuk mengetahui jarak tempuh. “mbai dempa kapang sekitar annan ba’tu pitu pa kilo”, jawabnya.
Saya berpikir, jaraknya, tidaklah terlalu jauh, enam atau tujuh kilo meter. Saya sering menempuh jarak seperti ini saat SMP dan SMA. Tapi itu kejadian lebih dari 10 tahun yang lalu. Jalanannya juga, beraspal dan tentunya tanpa lumpur serta medannya datar.
Bagi mereka yang sering melewati jalanan menuju lokasi penghijauan, mungkin ini jarak yang pendek. Tapi, bagi para pendatang, mungkin ini tidak hanya tujuh kilometer, tapi lebih dari 10 kilometer. Dibutuhkan tenaga ekstra dan semangat yang tinggi untuk bisa menempuh jarak tersebut. Dua butir telur sambal pengisi perut pagi tadi rasanya tidak cukup menjadi sumber protein untuk menempuh perjalanan itu.
Tekat kuat untuk ikut serta dalam kegiatan penyelamatan lingkungan di Torajalah yang memompa semangat saya bersama dengan lainnya untuk terus melangkahkan kaki sambil membawa perlengkapan tanam dan bekal. Bukan hanya kami, tapi ratusan bahkan mungkin sekitar seribuan peserta dari tempat lain ikut berjalan kaki. Ada juga yang dengan penuh keberanian mengendarai motor sampai ke lokasi. Mereka benar-benar rider yang tangguh.
Sekitar seratus langkah kaki, kami mendapat amunisi baru. Enam pemuda yang sedari tadi ternyata menunggu kami di pinggir jalan. Mereka anggota PPGT Jemaat Baji Ma’rumpa. Kehadiran mereka bak troops bantuan yang didonasikan teman clan dalam game Clash of Clans (COC). Pemuda yang siap bergabung dengan kami menaklukkan perjalanan demi menghijaukan kembali hulu Sungai Sa’dan.
Di sepanjang jalan, bentangan alam Toraja yang indah menyejukkan jiwa memamerkan pesonanya. Di sisi kiri terdapat hutan lindung. Di sisi kanan menghampar petak sawah yang nampaknya baru selesai ditanami bibit padi. Aliran Sungai Sa’dan yang sangat jernih menambah sejuknya pemandangan dari atas lereng yang kini telah berubah jadi jalanan.
Di tengah perjalanan, kami berjumpa dengan peserta yang berjalan dan berkendara dengan arah sebaliknya. Rupanya mereka telah selesai menanam pohon sesuai yang ditargetkan panitia, 200 pohon tiap klasis. Bahkan, demi mempercepat proses penanaman, pada malam sebelumnya ada di antara mereka yang katanya menginap di sekitar lokasi penanaman.
Setelah menempuh perjalanan yang rasa-rasanya tidak kurang 10 kilometer, dengan beberapa kali istirahat, akhirnya kami tiba di pinggir hutan yang akan dihutankan kembali. Beruntung, hari itu matahari tidak terik, sehingga botol minuman saya yang berkapasitas 1 liter masih menyisahkan sedikit air minum minum.
Botol minuman ini memang sengaja kami bawa untuk mengurangi sampah plastik hasil buangan dari minuman kemasan sekali pakai. Sekaligus sebagai salah satu wujud kesiapan PPGT Klasis Makassar menyukseskan aksi penanaman pohon dalam rangka Pertemuan Raya X PPGT, dengan jalan menaati peraturan yang dibuat oleh panitia. Meskipun demikian, saya menemukan banyak peserta yang membawa minuman dalam kemasan sekali pakai dan makan dengan menggunakan kertas makan.
Sebelum melakukan penanaman, kami terlebih dahulu menikmati bekal di pinggir jalan. Mengganti sedikit tenaga yang terkuras dalam perjalanan. Tapi, seperti kejadian sebelumnya, justru tak ada satupun sendok yang kami bawa. Dedaunan akhirnya menjadi pengganti sendok untuk lauk. Kami makan dalam cuaca yang dingin disertai guyuran air hujan. Saya melihat, semua orang sudah hampir balik dari lokasi penanaman.
Dalam kondisi masih hujan, kami mencoba dengan sekuat tenaga menuju lokasi yang ditunjukkan. Letaknya di puncak jalur satu, berdekatan dengan Klasis Seriti, Sulbar, Pare-Pare dan Sukamaju. Seorang wanita yang menyebut diri bernama Maria telah lama menunggu kami. Katanya, dia adalah mahasiswi STT yang bertugas sebagai pandu.
Tanpa menunggu waktu yang lama, kami langsung berjuang membabat belukar jenis Pteridophyta yang mengepung lahan yang akan ditanami. Dalam waktu beberapa jam, pohon yang diberikan akhirnya menemukan habitat baru. Bibit pohon Swietenia mahagoni berukuran sekitar 20 sentimeter itu menyebar di sepanjang lahan yang telah kami babat sebelumnya.
Sekitar jam 3 sore, proses penanaman kami selesaikan dengan baik. Dalam kondisi masih rintik-rintik, kami menutup acara penghijauan ini dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua PPGT Klasis Makassar. Kami sangat bersyukur proses dapat berjalan dan selesai sesuai dengan rencana.
Akhirnya kami turun dari lokasi penanaman dan langsung pulang kembali ke lokasi tempat truk yang kami tumpangi tadi berhenti. Dengan penuh sukacita yang bercampur dengan rasa lelah, kami menyusuri kembali jalan pulang yang sebelumnya telah kami lalui. Tidak ada lagi keramaian seperti saat kami datang tadi. Jalanan sudah sunyi. Hanya suara air sungai dan suara jangkrik yang terdengar.
Hari hampir gelap. Orang di sekitar mulai menyalakan api di dapur. Anak-anak desa yang sebelumnya banyak berkeliaran di sekitar lokasi sudah tidak ada lagi. Hanya ada beberapa ibu yang membawa keranjang yang berisi singkong dari kebun.
Di tengah perjalanan, kami seperti menemukan oase di padang gurun. Rombongan pandu yang diangkut dengan truk memberi kami tumpangan sampai kami menemukan truk yang sebelumnya mengangkut kami dari penginapan. Selain truk pandu, hanya truk yang kami sewa tadi yang masih ada di jalanan. Ternyata, kami pasukan terakhir yang menyelesaikan misi penghijauan hari itu. Rombongan terakhir yang turun dari lokasi.
Dengan ritme yang tidak konstan, truk yang kami tumpangi melaju menuju kembali ke tempat kami menginap, kota Rantepao. Kami tiba sekitar jam 7 malam.
Beberapa teman mulai berpencar mencari tempat mandi untuk mempersiapkan diri kembali ke Makassar malam itu. Kami dijamu dengan makan malam yang enak. Saya mencoba mencuri waktu sejenak untu tidur dengan harapan dapat mengembalikan stamina dan menghilangkan rasa sakit di pergelangan kaki yang rasanya sudah hampir copot, tapi waktunya tidaklah cukup. Jam 10 malam kami sudah harus kembali ke Makassar.
*****
Tak terasa, saatnya pulang ke Makassar. “Kurre sumanga’ tanta, kurre sumanga’ om, terima kasih Mitha”. Kata itu tak ada putusnya kami sampaikan saat pamit kepada tuan rumah. Kami berpamitan pada keluarga yang telah berbagi kebaikan dengan kami, yang telah siap kami repotkan dan yang telah memberi kami tempat untuk beristirahat.
Bus yang akan mengantar kami kembali ke Makassar telah menunggu di ujung lorong, beberapa langkah dari tempat truk tadi pagi menantikan kami. Suasana perjalanan pulang kali ini sangat berebda dengan suasana saat dari Makassar ke Toraja. Tak ada lagi keriuhan, tak ada lagi lantunan lagu dari penumpang. Semuanya memilih untuk memejamkan mata dalam kondisi duduk.
Kami telah menyelesaikan satu tahap menuju Praya X PPGT. Tapi, bukan itu yang utama. Yang lebih utama adalah pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberi manfaat bagi kehidupan di Toraja. Ini memang syarat bagi kontingen untuk bisa ikut perjumpaan akbar seluruh anggota PPGT, tapi menyelamatkan lingkungan jauh lebih esensi.
Semoga, dua puluh ribu bibit tanaman itu bisa menjadi hutan raya yang akan jadi monumen hidup, pengingat akan pesta iman bernama Pertemuan Raya X Persekutuan Pemuda Gereja Toraja.
Ayo ke Praya.
Kampung Rama, awal April 2017 (edisi belajar nulis cerita yang lebih panjang)
PASUKAN TERAKHIR “Hei, ayo bangun. Kita sudah sampai.” Suara seorang lelaki membuat saya terbangun dari tidur malam itu. Ternyata kami sudah tiba di sebuah lapangan dekat gedung yang kepadanya disematkan nama seorang muda berdarah Belanda yang gugur pada 26 Juli 1917, dengan dada tertombak dalam misi pemberitaan Injil di Toraja, Antonie Aris van de Loosdrecht.
Ber-PPGT itu tidak perlu terlalu lama didiskusikan, tapi lebih baik kalau segera dieksekusi. Sementara digarap. Bahan 2017 :-) #ppgt
Kaos PPGT jemaat Rantepasang _ greaclogo.com / Konveksi Bandung Jl. Cibatu Raya no. 63 Antapani Bandung 40291, Indonesia 0812 2141 8863 | 0878 2198 7697 Pin BB : 57B6239D | 228ECD2E LINE : bisa search @lgj7849s atau klik http://line.me/ti/p/%40lgj7849s e : [email protected] w: www.greaclogo.com _ Facebook : https://www.facebook.com/greaclogo Twitter : https://twitter.com/greaclogo Instagram : http://instagram.com/greaclogo #jaket #konveksi #konveksibandung #kaos #bikinkaos #ppgt #rantepasang #raster
This is THE BEST thing we could hope for, you guys!! \(//∇//)\ This YouTuber reviews Okage: Shadow King the way it needed to be reviewed!! Not only does he bring up all the amazingness that it is, he brings to light the things that NEED to be changed in the remake. Which he suggests would help it greatly but it sounds like he doesn't know!! ☆*:.。. o(≧▽≦)o .。.:*☆ I'm gonna go tell him!! Also I'm going to share this video everywhere! Pop Punk Game Time!!