Saya sering lupa bersyukur atas "waktu" (luang)
Selama ini, sibuk bekerja, mengurus keluarga dan tugas-tugas lain di komunitas, adalah alasan untuk mendapatkan pemakluman atas molornya bahkan tidak terpenuhinya pekerjaan maupun tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab saya.
Hal ini diperparah dengan momen mendapatkan pekerjaan di tempat ke dua, otomatis kesibukan pun bertambah. Target pekerjaan maupun tugas semakin tidak terkejar, waktu istirahat berkurang, badan pun semakin letih dan tidak bertenaga.
Sesuatu yang sebenarnya menjadi keinginan sejak lama, akhirnya menjadi sebuah tantangan.
Waktu luang yang sebelumnya luput dinikmati dan disyukuri, sekarang menjadi sangat berharga di saat sudah tidak lagi ada/terbatas.
Tapi toh tidak ada gunanya mengeluh, sebab semuanya adalah buah dari keputusan yang penuh hasrat egoistik saya sendiri.
Sekarang, belajar untuk mengatur waktu dan membuat skala prioritas adalah yang utama, sembari berusaha untuk menemukan keseimbangan dan kewarasan lagi, agar tidak terus menerus hanyut dalam drama recehan yang menghambat kinerja dan kreatifitas saya.













