https://www.youtube.com/watch?v=AfchZ4kfFMc
Mengulas Film Lemantun dan berefleksi apabila menjadi salah satu karakter dalam film tersebut.
Disclaimer:
Sebagai satu-satunya anak perempuan dari tiga bersaudara, sebenarnya saya lebih relate dengan karakter dari dr. Tutik Wahyuni, tapi sebagai anak pertama, rasanya karakter saya lebih mendekati si putra sulung Ir. Dwi Wibowo, maka saya akan mencoba merefleksikan peran saya sebagai anak sulung melalui karakter beliau dalam film Lemantun ini.
*“Jika Aku Menjadi Ir. Dwi Wibowo”*
Menjadi anak tertua dengan kondisi keuangan yang "cukup" dibandingkan adik-adik, membuatku sombong dan suka meremehkan, terutama terhadap adikku Tri. Aku sering tidak menganggap nya penting dan sering mengabaikannya.
Dan saat Ibu meminta kami untuk berkumpul di Rumah Tua, dimana Ibu tinggal bersama Tri, akupun sedikit enggan untuk datang, apalagi setelah tahu bahwa tujuan pertemuan ini adalah membagi lemari kuno pembelian ayah sewaktu Ibu melahirkan masing-masing dari kami.
Rasanya waktuku akan lebih bermanfaat bila aku tetap menghadiri rapat dengan rekan bisnis, sebab kami sedang dalam proses untuk membuat proyek bersama. Tetapi karena rasa hormat kepada Ibu lah, maka ku sempatkan untuk datang.
Lagipula apa yang bisa kulakukan dengan lemari kayu tua dan lapuk ini? Sedangkan di rumah, aku sudah punya lemari dengan model yang lebih modern dan kuat.
Selain itu, Ibu ingin kami segera membawa lemari-lemari itu pulang, sungguh merepotkan serta menyita waktu dan tentunya biaya tambahan.
Tapi aku lupa satu hal, lemari-lemari itu mempunyai makna yang sangat dalam bagi Ibu. Lemari-lemari itu lambang cinta dan kasih sayang Ayah terhadap ibu dan kami anak-anaknya.
Aku lupa untuk sebentar saja memikirkan tentang Ibu, tentang kerinduannya terhadap anak-anaknya. Memang Tri tinggal bersama nya, tetapi aku tak bisa lupa binar-binar kebahagiaan di mata Ibu saat melihat kami datang.
Akupun tak pernah mengapresiasi Tri yang telah dengan setia dan telaten menemani dan merawat ibu, apalagi dengan kondisi beliau yang tidak lagi kuat seperti dulu dan sakit-sakitan.
Mungkin itu juga sebabnya, kenapa hingga saat ini Tri belum menikah dan hanya berjualan bensin di depan rumah, karena dia tidak ingin meninggalkan Ibu sendirian.
Maafkan aku Bu, sebagai anak tertua yang seharusnya menjadi teladan, ternyata aku gagal dan kalah telak dalam hal ketulusan dibandingkan Tri. Secara materi dia memang kalah, tetapi hatinya sangat kaya.
Aku berjanji untuk lebih sering datang menjenguk saat ada waktu dan kesempatan Bu, atau setidaknya menelpon Ibu, dan memberi tambahan modal untuk Tri agar jualannya bisa lebih maju dan bervariasi.
Sehat-sehat terus ya Bu, dan terima kasih banyak ya Tri atas pengorbanan dan ketulusan mu dalam menjaga Ibu, sungguh tak ada lagi yang bisa kukatakan selain mohon maaf atas ketidak perdulianku selama ini, semoga kau mau memaafkan kakakmu yang sombong dan tidak tahu diri ini.











