Sambel terasi ibuku
Hari ini sepulang kerja, perutku sudah protes minta diisi, raungannya yang tadinya samar terdengar, semakin lama semakin nyaring.
Kubuka lemari es tapi tumben sepi sekali penghuninya, hanya terlihat deretan telur mentah dan bungkusan berisi tomat dan cabe, ya sudahlah, masak yang sat set saja.
Telor mentah sudah berganti wajah menjadi mata sapi, nasi sisa semalam pun sudah dihangatkan, tinggal membuat sambel terasi agar makan menjadi semakin nikmat.
Kali ini aku membuat sambel terasi mentah, hanya dengan cabe, tomat, garam, gula, dan terasi yang diulek dalam cobek.
Cobek ini dibawakan ibu dari Surabaya, lengkap dengan ulekannya, dalam dua ukuran, besar dan kecil. Cobek-cobek ini dimasukkan ke dalam bagasi dan akhirnya membuat koper ibu jadi rusak, sebab saat petugas memindahkan bagasi ke dalam pesawat, kemungkinan dilempar.
"Tapi masih untung cobeknya tidak pecah," begitu kata ibu. Ah ibuku sayang, selalu bisa mengambil sisi positif dari suatu peristiwa, yang tidak menyengangkan sekalipun.
Ibu paham sekali kalau aku sangat suka sambal, dan makan apapun harus selalu dengan sambal. Minestrone (sup ala Italia), spaghetti, bahkan pizza selalu kulahap dengan sambal, di dalam tas pun selalu tersedia sambal bubuk, "just in case I need it".
"Pengorbanan" ibu untuk membawakan cobek ke Melbourne ini adalah agar aku bisa membuat sambel terasi sendiri saat kangen dengan sambel buatan ibu, tapi rasanya tak pernah sama. Tak pernah ada yang bisa menyamai masakan ibu, setidaknya menurutku.
Sambel terasi ibu itu, "bagai Sang Surya yang menyinari dunia," jauh tapi hangat nya selalu terasa. Di dalamnya ada bumbu rahasia yaitu cinta yang tulus, yang membuatnya terasa nikmat dengan cita rasa otentik. Sesuatu yang dulunya tidak pernah kusadari dan kusyukuri, hingga sekarang, saat jauh dari ibu.
Seperti kata Bang Rhoma,
🎶 Kalau sudah tiada
Baru terasa
Bahwa kehadirannya
Sungguh berharga 🎶












