Berani Keluar dari Zona Nyaman
Keberanian paling menonjol yang bisa kusadari di tahun 2025 adalah berani keluar dari zona nyaman.
Sebagai emak-emak Gen X yang gaptek, tiba-tiba diberi kepercayaan untuk menjadi admin kelas menulis itu sungguh menakutkan. Padahal diri sendiri pun masih harus banyak belajar untuk benar-benar bisa menulis dengan baik, dan entah kapan terakhir kali jari-jari ini menyentuh keyboard komputer.
Pakewuh untuk menolak tapi tak juga yakin bakal mampu mengemban tugas dengan baik. But, the show must go on, tak ada pilihan lain selain terus maju dan melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan.
Drama overthinking, baper, takut salah, dan burnout jadi menu favorit selama empat bulan kelas ini berlangsung, tapi syukurlah semuanya bisa dilalui berkat kerja sama dan dukungan dari rekan kerja, mentors, serta teman-teman sesama pembelajar.
Peran ini membuka jalan bagi peran-peran lainnya yang bahkan tidak pernah kumimpikan sebelumnya. Tambahan peran di Pusaka Indonesia dengan scope yang lebih besar dari sebelumnya, serta peran dramatis lainnya yang menjadi jatahku kali ini adalah menjadi presiden perempuan pertama dalam sejarah dari sebuah organisasi komunitas warga rantau di Melbourne, Australia.
Sempat mau kabur, ngeyel, memberontak dan overthinking. Bayangan beratnya beban tanggung jawab yang harus dipikul, serta ragu akan kemampuan diri sendiri sempat membuatku merinding disko berhari-hari.
Namun akhirnya aku sadar, tidak ada kebetulan dalam sebuah peristiwa. Semuanya adalah hasil dari rajutan karma ku sendiri dan selalu ada pembelajaran berharga di balik itu semua.
Dengan menjadi admin, aku dipaksa untuk belajar lagi tentang Excel, google doc, dan canva, sesuatu yang selalu kuhindari dengan alasan gaptek, padahal alasan sebenarnya adalah "malas belajar."
Sedangkan menjadi Presiden sebuah komunitas warga yang kental dengan nuansa patriarki, memaksa ku untuk berani menghadapi tekanan dan tidak kabur saat harus berhadapan dengan pihak-pihak yang meragukan kompetensiku dalam memimpin. Sungguh tidak menyamankan, bahkan aku harus meditasi sebelum dan sesudah berinteraksi dengan orang-orang yang menurut ku "sulit" untuk diajak berkomunikasi.
Namun dari interaksi itulah kusadari bahwa kadang prasangkaku lah yang mem-blok ruang komunikasi itu. Prasangkaku lah yang membatasi dan menciptakan bayangan-bayangan yang sebenarnya tidak realistis.
Maturnuwun Gusti atas pembelajaran berharga ini. Terima kasih Teh Nenden, Mbak Ficky, Mbak Anis, Mb Rina, serta teman-teman sesama pembelajar, atas kesempatan dan kepercayaan nya, serta mohon maaf kalau selama menjalankan tugas masih banyak kekurangan di sana sini 🙏.












