Communication Across Cultures
Topik kali ini, kita akan membahas tentang salah satu webinar yang kuikuti tadi malam, yaitu tentang Communication Across Culture. Webinar ini diisi oleh speaker dari Director of Public Relation Traning Academy, Ellen Gunning.
Di awal pembahasan, Ellen membahas tentang efektifitas komunikasi. Bahwa semua hal yang terjadi sekarang pasti akan berubah seiring waktu, apalagi dengan terms&condition saat2 pandemi seperti ini. Perubahan pasti lebih cepat terjadi. Kita semakin banyak menggunakan platform yang sebelumnya nggak pernah kita gunakan sama sekali.
Lalu di pembahasannya selanjutnya, Ellen menekankan bahwa apa yang kita hadapi saat ini dan di masa depan, it was a BIG CHALLENGE.
Ada pembahasan menarik juga tentang gimana orang-orang besar berkomunikasi saat ini. Dia ngasih contoh 2 tokoh besar yaitu Barrack Obama dan Donald Trump.
Masing-masingnya punya karakteristik unik dalam menyampaikan campaign saat speech.
Barrack Obama, dengan slogannya yaitu “Yes, We Can” berusaha menyampaikan pesan kepada orang-orang bahwa dengan campaign tersebut, dia bisa melakukan banyak hal yang orang-orang ragukan.
Berbeda lagi dengan slogan milik Donald Trump “Make America Great Again”. Dari segi kalimat, slogan milik Trump memang lebih panjang, namun di balik kalimat tersebut, dia mampu memberikan sesuatu yang cerdas. Something ‘simple’ but touching. Sehingga kalimatnya yang kontroversial tersebut menjadi salah satu factor kenapa dia bisa menjadi orang nomor 1 di Amerika.
Dari kedua contoh tersebut, ada hal menarik yang bisa kita lihat, yaitu The Power of Short Sentence.
Dalam contoh lainnya, Ellen menyajikan satu video speech milik Donald Trump. Dalam speechnya, Trump menyebutkan satu kalimat pendek dengan tegas : “Done nothing wrong.” Lalu menunjukkan koran yang dia bawa dengan headline “Trump Acquitted”
Dalam pandangan orang-orang yang memahami teori komunikasi, hal yang dilakukan Trump adalah sesuatu hal yang cerdas. Dia mengkonfirmasi sesuatu hal sekaligus mempertegas apa yang dia katakan dengan hanya menggunakan short sentence dan visualisasi dari photograph. Karena pada akhirnya, speechnya menjadi sorotan utama public saat itu.
Ini menunjukkan bahwa on these days, photograph and visualization are everything in communication. Orang-orang saat ini cenderung menangkap sesuatu hal in track-seeing with a short-window vision.
Itu sebabnya kenapa komunikasi saat ini merupakan hal yang sangat cepat berubah. Social media berubah, lalu komunikasi menjadi hal yang tidak akan pernah bisa dihindari oleh siapapun.
Karenanya, seorang PR juga harus aware dan berubah mengikuti keadaan yang ada. Mereka harus selalu upskilling tentang berbagai macam hal. Apalagi jika company atau brand yang kita bawa sudah berada di level international, hal yang perlu benar-benar diperhatikan adalah budaya negara-negara yang kita masuki. Selain PR, para pebisnis atau brand juga harus lebih menjaga etika culture, keamanan akun media social mereka, memperhatikan consumen engagement, dan meningkatkan kualitas brand mereka.
PR is about SKILL. We need accsess to make our business shine.
PR is about TELLING, meanwhile advertising is about SELLING. So, both of it has different meaning. PR is about building trust in our company.














