Sesempurna, seideal, atau seirama apapun yang mengatasnamakan penilaian dari diri sendiri atau orang lain, pastilah tetap ada ha-hal yang tak bisa disatukan antara dua individu. Suatu perbedaan yang jarang dirasa. Karena merasa cukup bahwa segala hal yang bercorak sama selalu menjadi pemenang dari sekian yang berjurang. Mungkin semua akan dikenali setelah berada dalam jangka waktu lama. Setelah pola pikir kita tak terkotakkan dengan berhenti di satu titik. Tetapi terus berjalan; mengamati dengan seksama. Karena bersanding tak cukup dengan menerima sisi baiknya saja.
Cobalah sesekali perhatikan bagaimana cara-cara ayah dan ibu kita menasehati atau cara-cara mereka mendebatkan sesuatu. Mereka tetap berdiri dalam pijakan masing-masing. Namun, saling menghargai satu sama lain. Terlebih selalu berhasil meredam banyak arus yang pernah mencekam. Mereka pun sampai kini terus belajar yang mungkin secara verbal tak terlacak. Namun, tersirat bahwa mereka selalu ingin mengenalkan pada anaknya mana yang perlu dipahami, mana yang perlu diteladani, dan mana yang perlu dihindari.
















