Oh Dear, Rillakuma..
Entah akan kemana kaki ini melangkah. Tak ada tujuan yang pasti. Hati hanya berkelumit dengan kisah-kisah yang tidak ada ujungnya untuk saat ini. Melankolis rasanya. Ingin ini, ingin itu. Entah aku sudah pergi kemana saja. Melarikan diri dari yang kucinta. Sakit rasanya ini. Memendam kerinduan selalu yang teramat dalam. Tak ada sosok pengganti dirinya. Hal-hal klise pengganggu dari dulu sulit untuk diselesaikan. Hingga raga ini tak lagi merasakan apapun. Mati rasa. Hati pun ikut mati rasa. Kamu, tersayang yang disana, entah kita bisa bersama lagi atau tidak. Entah ini mungkin atau tidak.
Aku ingin selalu mengucap namamu di dalam doaku. Tak tahu engkau akan selalu menjadi yang terbaik atau tidak. Sakit rasanya bila tau engkau tak ada disana lagi. Ingin rasanya memeluk kamu dengan erat dan meminta jangan pernah pergi lagi. Tapi apa dayaku, bibir ini beku. Sayang, entah kapan kita bisa bertemu lagi. Aku tak tahu garis Tuhan seperti apa. Aku tahu, saat ini semesta belum mendukung kita. Tuhan yang Maha Adil pasti akan selalu tahu mana yang terbaik untuk kita. Sebaik-baiknya lelaki yang datang padaku, entah mengapa hati ini selalu tertuju padamu sayang.
Aku tak tahu apakah hatimu masih tertuju lagi padaku atau tidak hingga kelak. Ingin rasanya bersandar di bahumu lagi. Melepaskan kelelahan sambil memegang tanganmu erat. Rasanya semua hal-hal rumit yang menimpa hilang sejenak. Ingin rasanya lagi ada di dalam rangkulanmu. Terasa keamanan dan kenyamanan yang tiada taranya. Rasanya ingin selalu mengandalkan kamu dikala hati ini gundah, tanpa ada rasa sungkan ataupun malu untuk mengungkapkannya. Sayang, ketika logikaku sudah tak lagi bisa bertahan, emosi ini meluap-luap. Ingin aku minta kepada Tuhan jangan berkan siapa-siapa untukmu kecuali aku. Inginku begitu.
“sometimes we should let go and be child again. Just stop worrying and focus on the simple things in life, like a bubble dancing softly with the wind..”.....
Bogor, 270912













