Kenapa ada saja yang menganggap angker rumah adat jaman dulu (red:rumah jawa), kenapa setiap ada yang nyanyi lengser wengi, padhang wulan, dan boneka abdi dianggap ajian pemanggil makhluk halus. Tembang macopat dsb dijadikan momok yang menakutkan. Berawal dari nonton film, menurut sebagian netizen yang berkomentar di beberapa tayangan youtube (nggak akurat sih tapi aku nemuin sendiri begitu). Aku jadi berpikir, mempengaruhi masyarakat dengan cara Propaganda film merebak menebarkan ketakutan terhadap budaya lokal. Mungkin tujuannya agar kita melupakan lagu daerah, budaya lokal, atau bisa jadi agar kita tak sadar telah menggadaikan budaya kita sendiri. Lagu lengser wengi dianggap langgam pemanggil kunti, padhang wulan dianggap sebagai lagu penanda keluarnya makhluk halus, boneka abdi sebagai lagi penanda kehadiran setan yang ingin bergabung bersama kita. Padahal sepengatahuan pendekku, tembang lingsir wengi itu termasuk macapat durma, yang sebenarnya adalah tembang yang digunakan wali untuk menyebarkan ajaran islam (tanpa ada embel2 bahasa arab, kala itu masyarakat jawa masih menganut ajaran hindu) Etc. Please CMIIW @abimardha_kurniawan . Contoh saat aku dan temanku berjalan dari masjid menuju camp (maklum namanya desa terpencil) terdengar langgam jawa diputar, Salah satu temanku mendengar suara gamelan jawa tanpa sinden. Semua panik, siapa yang nanggap wayang malam malam, ternyata setelah ditelusuri ada warga yang kamling memutar lagu ini. Balik lagi ke Propaganda film, Propaganda film di Indonesia memang sedang marak terjadi, sadar atau tidak itu mempengaruhi 3/4 otak manusia. Menyentil 1 sel otak kemudian merambah ke banyak sel otak, alhasil menimbulkan sugesti negatif yang berkepanjangan. Kenapaaaah??? Menurut aku ini karena biasanya, film yang ditonton kebanyakan adalah pilihan favorit penikmatnya. Entah harus bahas pake teori apa, yang pasti propaganda budaya dengan cara ini paling efektif untuk mempengaruhi masyarakat, minimal dari penikmatnya. CMIIW, . . . 🤔 #ochamencerna #bukanbaikburuksarana #bukangegapgempita #propagandafilm #komunikasivisual #media #perfilmanindonesia