JAKARTA
Nama saya Mutiara Indah, seorang penikmat langit. Dan saya sedang ingin bercerita... Saya lahir di Jakarta tahun 1999 dengan kedua orang tua asli Gombong dan Kebumen. Seumur hidup saya, saya didoktrin dan dijelaskan bahwa saya merupakan orang Jawa. Sekalinya orang bertanya, “kamu asal mana?” saya menjawab “Jawa”. Tidak pernah sekalipun terlontar bahwa saya orang Jakarta, yang kenyataannya ialah sepenuhnya benar yaitu bahwa saya orang betawi asli. Walaupun darah yang mengalir di tubuh saya memang darah Jawa, namun apakah itu membuat saya lebih kental dengan kepribadian Jawa dibanding Betawi? Ternyata tidak.
Setelah 16 tahun hidup di Ibukota, baru tahun ke 17 saya menyadari bahwa saya benar-benar orang Jakarta. Di tahun ke 17 ini saya minggat dari kota metropolitan tersebut ke daerah yang punya ruh ‘Jawa’ utuh. Di sini jika orang bertanya asal saya dar imana, saya katakan “Jakarta”. Ironi… tiba-tiba saya berubah asal usul. Sebetulnya saya pun sudah punya rencana dari jauh hari untuk minggat dari kota yang penuh sesak itu. Dengan berdoa agar ditempatkan di Jogja ataupun Malang, beruntunglah saya bisa mendapat tempat di Malang, kota di mana masih banyak ruang yang lapang untuk individu-individu berkelana dan mengenal tanah Indonesia.
Jakarta di mata saya adalah kota kejam yang mengurung kebahagiaan. Anda tidak bisa bahagia jika diapit tembok-tembok besar yang menakutkan. Kerap kali saya menuliskan keluh kesah saya dalam sebuah tulisan. Puisi memang teman baik saya, tempat saya bisa mengadu tentang keresahan saya mengenai apa pun. Namun dari genre-genre tulisan yang paling saya suka, sering kali tanpa sadar ialah mengenai daerah asal saya…
“Suka Cita”
Kamu bilang semua ada di sini
Sejujurnya untukku, kamu tidak menemukan apa pun selain bising yang memuakkan
Berhentilah mengajakku untuk menemanimu menyusuri pasar kota yang belum kamu telusuri!
Ajaklah aku berdiam diri,
Berteman dengan sepi di hamparan luas yang bertemu langit biru
Sehingga kamu pun tahu,
Bahwa awan pun bersuka cita menemani kamu dan aku.
•
Tulisan ini menceritakan mengenai suatu keadaan dan kerinduan akan tempat yang susah Anda temukan di Ibukota tercinta. Sebuah ruang. Yang luas, asri dan bisa meredam pikiran. Mungkin ada, beberapa jogging track dan tempat perkemahan namun ya itu-itu saja. Monoton. Pemerintah belum terlalu mengedepankan kebutuhan manusia akan alam di Jakarta.
Jika Jakarta diubah perlahan dengan memberdayakan alam yang kita punya, lama-lama Jakarta bisa menjadi seperti Venice dengan mengoptimalkan penggunaan sungainya. Entahlah mungkin itu terlalu berandai-andai. Tapi saya suka berandai-andai dan saya suka keheningan dan sunyi jikalau saya sedang meratapi alam. Bahagia itu sederhana.
Serta dalam puisi, saya menceritakan bahwa teman-teman saya sering mengajak saya menyusuri pasar kota. Pasar kota tersebut ialah yang saya manifestasikan dalam perkataan “tembok-tembok besar” sebelumnya, yaitu pusat perbelanjaan modern (mall). Jakarta membudayakan kebahagiaan semata dan tidak jangka panjang. Pusat perbelanjaan memang tempat menghilangkan suntuk dengan banyaknya fasilitas yang ditawarkan, tapi tidak perlu juga semua sudut kota ini dijadikan tempat perbelajaan. Memangnya warga Jakarta itu punya mesin uang? Kadang yang gratis dan alamilah yang menyembuhkan.
Berjalan di tanah ibukota berarti berjalan mengitari gedung-gedung tinggi. Gedung tinggi yang cantik namun memberikan prasangka waspada bagi pendatang baru. Entah praduga apa, namun itu benar adanya. Jakarta terlihat angkuh dengan bangunan-bangunan di dalamnya. Sering kali pun terlihat ketimpangan si kaya dan si miskin, jika Anda menyadari. Sering kali lokasi suatu pusat perbelanjaan modern dibangun di samping rumah-rumah kumuh. Ironi.
Yang saya paling benci ialah budaya hedonisme warga Jakarta. Berpindah dari satu mall ke mall lain. Tidakkah ragamu capek? Duduk dibawah AC, tidakkah pikiranmu dingin? Saya penasaran. Sungguh saya tidak bisa menyamakan pikiran saya dengan sebagian besar warga Jakarta. Saya rasa mereka sangat menyukai fasilitas ini, toh mereka terlihat baik-baik saja dan sangat bahagia. Tapi apakah itu kebahagiaan yang murni? Saya pernah membaca sebuah kata-kata “Tak perlu iri, kita punya sepi sendiri-sendiri. Jika hidup orang tampak meriah, itu karena sepi dirayakan dengan mewah." Mungkin ini saya saja yang iri, terhadap mereka yang bisa menerima Jakarta apa adanya.
“Jakarta”
And I thought summer was the time to be free
Summer is the time to be humane and you are supposed to have a walking spree
Go with your fam to see a land full of tree
But I only see buildings crowding up becoming the new sea
Plenty people there, would you rather get dragged inside or flee?
No corners was planned to be an open space
No corners was made for you to finally dance
And now,
Now you could only wish for a greener place
•
Percaya atau tidak, saya khawatir jika saya diterima di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Swasta ataupun Negeri, entah apa pun itu, tapi di Jakarta. Saya yakin saya akan jenuh tingkat dewa dan berpikir bahwa masa muda saya disia-siakan begitu saja dengan lanjut belajar di tanah ibukota. Jakarta memang impian banyak orang, orang dari pedalaman, orang pinggiran yang ingin ikut merasakan tren kekinian. Tapi apakah Anda mau menghabiskan waktu di tengah kemacetan yang membuat pilu?
Sebetulnya saya bukannya minta agar Jakarta diubah 180 derajat sehingga menjadi seperti sedia kala atau bahkan diberhentikan pembangunannya. Saya sangat bersyukur justru infrastruktur di Jakarta dibangun lebih banyak dan lebih memadai lagi sejak tahun 2016. Namun yang saya minta ialah agar pemerintah memperhatikan bahwa rakyatnya tidak melulu ingin sebuah tempat rekreasi yang mewah. Pernah saya dengar petuah “Hidup dan kehidupan. Manusia dan kemanusiaan”. Pikir saya senjata yang bisa memanusiakan manusia hanyalah alam dan budaya.
Saya suka berjalan menyusuri kota, alangkah beruntungnya di Jakarta terdapat moda transportasi berupa busway yang murah dan punya banyak armada. Seorang anak SMA yang suka berkelana namun belum bisa berkendara sangat suka dengan hal-hal yang seperti ini. Busway tentu sangat membantu, pun bisnya sendiri sejuk dan bersih. Hanya di beberapa waktu saja bis ini dipenuhi oleh orang-orang yang ingin berjalan dari atau kembali ke rumah. Kebahagiaan yang saya dapatkan ialah kemudahan, akses kesana-kemari dengan budget yang cukup irit sangat menyenangkan hati. Belum lagi jika jalan bersama teman ramai-ramai menuju suatu tujuan. Walaupun, entah tujuan akhirnya sering kali tetap sama saja yaitu berakhir di gedung perbelanjaan.
Ada cerita lain, dari perjalanan yang saya lakukan ke Bromo yang bisa saya petik hikmahnya karena punya benang merah dengan cerita ini. Yang saya rasakan saat berjalan menyusuri Bromo ialah betapa mengerikannya jalanan pedesaan yang sering kali tidak rata. Praduga buruk sebelum jalan menuju Bromo pun benar, saya yang kurang terlatih mengendarai motor di jalanan yang bergejolak pada akhirnya jatuh dan tidak bisa melanjutkan mengendarai motor saya sendiri. Seorang teman saya memberitahu bahwa jalanan di pedesaan memang tidak semulus jalan di ibukota. Sejak kejadian itu saya belajar untuk tidak sok tahu dan tidak selamanya pengalaman bisa saya samakan di mana saja. Saya juga dibuat bersyukur jadinya.
Namun mau bagaimanapun, kebahagiaan yang paling hakiki ialah rumah yang saya tinggalkan. Sebuah tempat bernaung keluarga kami. Jika disuruh seharian saja berdiam dikamar aku pun sudi. Jika memikirkan tentang rumah, memang yang paling cepat terlintas di benak ialah kamar saya sendiri. Mungkin tempat itu sudah bergelut di relung hati. Cukup memikirkan berapa sisa malam lagi di Malang sebelum bisa mendekap ke kasur dan tidur di ssana pun sudah membuatku bergairah lagi.
Jakarta… tunggu aku kembali.
“PULANG”
Dan di pertengahan bulan menanjak
Aku masih saja diperingatkan
tentang asal yang aku tinggalkan
Jangankan lingkungan,
kehangatan kota ini saja sudah mengguyur dingin ketegaranku
Walaupun tentram namun aku merasa sayu
Jauh dulu aku memimpikan untuk pergi
Jauh, jauh dari tempat asalku itu
Mendekati negeri berpendidikan tinggi,
mendekati pribadi yang mandiri
Aku hanya bisa menunggu…
Menunggu untuk kembali memijak tanah asalku
Untuk berkenalan kembali
Untuk mulai jatuh cinta lagi dengan rumah yang sudah lama tidak kujumpai
•
















